Cara Mengenali Orang Tua yang Terlalu Bergantung pada Anak secara Emosional

calendar_today 23.09.2026 - person  - timer ~

Ketika anak sudah dewasa, hubungan dengan orang tua biasanya mulai berubah. Anak memiliki pekerjaan, keluarga, dan rutinitas sendiri sehingga tidak lagi bergantung pada orang tua seperti saat masih kecil. Hubungan pun dapat terasa lebih seperti pertemanan, tetapi kedekatan ini terkadang membuat batas antara kasih sayang dan ketergantungan emosional menjadi sulit terlihat.

Orang tua mungkin tidak lagi mengatur kehidupan anak, tetapi justru mulai menjadikan anak sebagai tempat bergantung untuk mendapatkan dukungan emosional. Kondisi ini dapat dipengaruhi berbagai faktor, termasuk pola asuh orang tua.

Lantas, apa saja tandanya? Yuk, Bunda, simak cara mengenali orang tua yang terlalu bergantung pada anak secara emosional berikut ini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Simak selengkapnya berikut ini:

1. Anak menjadi orang pertama yang dihubungi

Orang tua mungkin terbiasa menghubungi anak setiap kali ada kabar, baik atau buruk, bahkan untuk hal-hal kecil yang terjadi sehari-hari.

Tidak masalah jika sesekali ingin bercerita kepada anak. Namun, jika anak menjadi satu-satunya orang yang selalu dihubungi untuk berbagi cerita, hal ini dapat menunjukkan bahwa orang tua terlalu menjadikan anak sebagai tempat bergantung secara emosional.

2. Suasana hati bergantung pada anak

Orang tua yang terlalu bergantung secara emosional pada anak mungkin ikut terbawa suasana hati anak. Misalnya, ketika anak bercerita sedang mengalami minggu yang berat, orang tua ikut merasa stres hingga memengaruhi suasana hatinya.

Menurut psikoterapis Sharon Martin, LCSW, pola ini dapat menjadi tanda batasan emosional yang mulai kabur. Ketika orang tua baru merasa tenang jika anak juga merasa baik-baik saja, emosi keduanya seolah menjadi satu.

3. Tidak lagi membuat rencana di luar jadwal anak

Orang tua yang terlalu bergantung secara emosional pada anak, mungkin mulai meninggalkan kegiatan yang tidak melibatkan anak. Waktu luang lebih banyak dihabiskan dengan menyesuaikan jadwal anak.

Penelitian tentang kesepian pada orang dewasa menunjukkan bahwa menyusutnya lingkungan pertemanan dapat meningkatkan risiko merasa terisolasi. 

Ketika anak menjadi satu-satunya orang yang sering ditemui, setiap pertemuan bisa terasa sangat penting. Sebaliknya, jarak atau waktu tanpa anak dapat membuat orang tua merasa ada sesuatu yang hilang

4. Membutuhkan persetujuan anak dalam mengambil keputusan

Saat ingin mengambil keputusan untuk diri sendiri, seperti menjual mobil, ikut komunitas jalan kaki, atau menemui dokter baru, orang tua selalu meminta pendapat anak seolah membutuhkan persetujuannya.

Kebiasaan ini menunjukkan adanya perubahan peran. Setelah bertahun-tahun mengambil keputusan untuk anak, kini orang tua justru membutuhkan persetujuan dari anak. 

5. Sering menyinggung kesibukannya

Kalimat seperti “Bunda tahu kamu sibuk” atau “Bunda tidak mau mengganggu” mungkin terdengar memahami, tetapi jika terlalu sering diucapkan, bisa terasa seperti keluhan. Anak dapat menangkap pesan bahwa dirinya dianggap tidak meluangkan cukup waktu untuk Bunda.

6. Memberi kode agar diajak bertemu

Alih-alih mengajak bertemu secara langsung, orang tua mungkin hanya memberi kode seperti mengatakan tidak punya kegiatan di akhir pekan. Cara ini bisa menjadi bentuk perlindungan diri karena mengajak secara langsung berarti harus siap menerima penolakan.

7. Merasa tersinggung saat mereka memilih keluarga pasangan

Saat anak memilih menghabiskan waktu bersama keluarga pasangannya, seperti saat liburan atau makan bersama, orang tua mungkin merasa sedih meski memahami bahwa mereka perlu membagi waktu.

Perasaan tersebut bukan semata-mata tentang acara yang dilewatkan, tetapi bisa muncul karena orang tua merasa posisi dalam kehidupan anak menjadi berkurang.

8. Mulai menghitung semua yang dilakukan untuk mereka

Misalnya, pernah menjaga cucu, membantu biaya perbaikan mobil, atau membawakan makanan. Jika mulai mengingat dan menghitung setiap bantuan yang diberikan, hal ini bisa menjadi tanda adanya harapan untuk mendapat lebih banyak perhatian.

Nah, itu dia, Bunda, 8 tanda orang tua yang terlalu bergantung pada anak secara emosional. Semoga informasi ini membantu Bunda mengenali dan memahami pola hubungan orang tua dan anak, ya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(rap/rap)