Cara menerapkan JOMO dalam kehidupan sehari-hari

calendar_today 15.08.2026 - person  - timer ~

Jakarta (ANTARA) - Media sosial membuat berbagai tren bisa datang dan pergi dalam waktu singkat. Hari ini tempat nongkrong baru ramai dibicarakan, besok perhatian beralih ke tren fesyen, makanan, olahraga, hingga aktivitas yang dianggap wajib dicoba.

Bagi sebagian anak muda, mengikuti tren memang bisa menjadi cara untuk bersosialisasi dan mendapatkan pengalaman baru. Namun, ada kalanya seseorang merasa lelah jika harus terus mengikuti apa yang sedang ramai.

Kondisi tersebut berkaitan dengan istilah FOMO atau Fear of Missing Out, yaitu rasa khawatir tertinggal dari pengalaman atau aktivitas yang sedang dilakukan orang lain. Di sisi lain, muncul konsep JOMO atau Joy of Missing Out, yang menggambarkan rasa nyaman ketika seseorang memilih untuk tidak ikut serta.

Baca juga: Dari FOMO ke JOMO: Saat anak muda mulai nyaman tidak ikut semua tren

Sederhananya, JOMO adalah kemampuan untuk berkata, "Tidak apa-apa kalau saya tidak ikut," tanpa terus merasa khawatir telah melewatkan sesuatu.

Apa itu JOMO?

JOMO dapat dipahami sebagai kebalikan dari FOMO. Jika FOMO membuat seseorang merasa harus selalu terhubung dan mengetahui apa yang dilakukan orang lain, JOMO justru mendorong seseorang menikmati pilihan untuk tidak selalu mengikuti semua aktivitas yang sedang berlangsung.

Contohnya cukup sederhana. Ketika melihat teman-teman mengunggah foto sedang menghadiri sebuah acara, seseorang yang mengalami FOMO mungkin berpikir, "Kenapa saya tidak ikut? Jangan-jangan saya ketinggalan sesuatu."

Sementara itu, seseorang yang menerapkan JOMO dapat berpikir, "Acara itu mungkin seru, tetapi saya memang sedang ingin beristirahat di rumah."

Keduanya sama-sama mengetahui adanya acara tersebut. Perbedaannya terletak pada cara menyikapi keputusan untuk tidak ikut.

JOMO bukan berarti tidak peduli dengan lingkungan atau sengaja menjauh dari orang lain. Konsep ini lebih berkaitan dengan kemampuan menentukan aktivitas mana yang memang ingin dilakukan dan mana yang boleh dilewatkan.

Baca juga: Psikolog beri kiat membuat resolusi tahun baru yang realistis

Mengapa JOMO semakin relevan?

Intensitas penggunaan media sosial membuat seseorang semakin mudah mengetahui aktivitas orang lain. Hampir setiap hari ada berbagai unggahan mengenai perjalanan, tempat makan, konser, olahraga, pencapaian, hingga barang baru yang dimiliki.

WŵJika terus dibandingkan, kondisi tersebut dapat menimbulkan perasaan bahwa kehidupan sendiri tidak cukup menarik atau ada sesuatu yang sedang terlewat.

Penelitian mengenai Generasi Z di Jawa Tengah yang diterbitkan pada 2026 menemukan adanya hubungan positif dan signifikan antara kecenderungan melakukan perbandingan sosial dengan FOMO. Artinya, semakin kuat kecenderungan seseorang membandingkan dirinya dengan orang lain, semakin tinggi pula FOMO yang dapat dialami.

Karena itu, memilih untuk sesekali tidak mengikuti arus dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi tekanan dari kebiasaan membandingkan diri.

Cara menerapkan JOMO dalam kehidupan sehari-hari

JOMO tidak membutuhkan perubahan besar. Kebiasaan ini justru dapat dimulai dari keputusan kecil yang dilakukan secara konsisten.

1. Berhenti membandingkan pengalaman

Ketika melihat unggahan orang lain, ingat bahwa media sosial hanya menunjukkan bagian tertentu dari kehidupan seseorang.

Foto liburan, makanan menarik, acara seru, atau pencapaian yang terlihat di layar tidak menggambarkan seluruh cerita di baliknya.

Karena itu, tidak semua pengalaman orang lain harus dijadikan standar untuk kehidupan sendiri. Jika teman sedang bepergian, bukan berarti Anda juga harus bepergian. Jika orang lain sedang mengikuti tren tertentu, bukan berarti Anda harus melakukan hal yang sama.

Baca juga: Jalani hidup tanpa panik ala "JOMO" dari Tanya Dalton

2. Tanya diri sendiri sebelum mengikuti tren

Sebelum mengikuti sesuatu yang sedang viral, coba berhenti sejenak dan bertanya, "Saya memang tertarik atau hanya takut ketinggalan?"

Jika memang tertarik dan aktivitas tersebut sesuai dengan kondisi, tidak ada salahnya ikut merasakan pengalaman tersebut.

Namun, jika jawabannya lebih dekat kepada rasa takut tertinggal, melewatkannya juga bukan masalah.

Kebiasaan sederhana ini dapat membantu seseorang membedakan antara keinginan pribadi dan dorongan untuk sekadar mengikuti orang lain.

3. Berikan waktu untuk diri sendiri

Tidak setiap akhir pekan harus dipenuhi agenda. Ada kalanya waktu kosong justru dibutuhkan untuk beristirahat dan mengembalikan energi.

Waktu tersebut dapat digunakan untuk membaca buku, menonton film, menjalankan hobi, berolahraga ringan, mendengarkan musik, atau sekadar menikmati suasana rumah.

Tidak memiliki agenda bukan berarti membuang waktu. Dalam situasi tertentu, waktu yang tenang justru dapat membantu seseorang mengetahui apa yang sebenarnya dibutuhkan.

4. Kurangi dorongan untuk selalu mengecek media sosial

Menerapkan JOMO tidak berarti harus menghilangkan media sosial sepenuhnya.

Langkah yang lebih sederhana adalah memberikan jeda. Misalnya, tidak langsung membuka media sosial setiap kali ada waktu kosong atau mengurangi notifikasi yang tidak terlalu penting.

Kebiasaan tersebut dapat membuat perhatian tidak terus-menerus tertarik pada aktivitas orang lain.

Sesekali, seseorang juga dapat menikmati waktu tanpa harus mengetahui apa yang sedang terjadi di media sosial.

5. Belajar nyaman mengatakan "tidak"

Tidak semua ajakan harus diterima.

Jika sedang lelah, memiliki prioritas lain, atau memang tidak tertarik dengan kegiatan tertentu, menolak dengan sopan merupakan hal yang wajar.

Mengatakan "tidak" bukan berarti tidak menghargai teman. Justru, kemampuan menentukan batas dapat membantu seseorang menjaga waktu dan energinya.

Yang penting, keputusan tersebut tidak digunakan sebagai alasan untuk terus mengisolasi diri dari orang lain. Tetap menjaga hubungan sosial dan berkomunikasi dengan orang-orang terdekat juga merupakan bagian penting dalam kehidupan sehari-hari.

6. Nikmati aktivitas tanpa harus mengunggahnya

Salah satu cara sederhana menerapkan JOMO adalah menikmati pengalaman tanpa selalu merasa perlu membagikannya di media sosial.

Ketika makan bersama teman, misalnya, cobalah sesekali fokus pada percakapan tanpa sibuk memikirkan foto atau unggahan berikutnya.

Begitu juga ketika pergi berjalan-jalan, membaca buku, atau melakukan hobi. Tidak semua pengalaman harus menjadi konten agar tetap bermakna.

Baca juga: Conscious living: Cara jalani hidup lebih sadar tanpa ikut-ikutan

7. Tentukan prioritas sendiri

JOMO juga berkaitan dengan kemampuan menentukan apa yang penting.

Coba buat daftar sederhana mengenai hal-hal yang sedang menjadi prioritas, seperti sekolah atau pekerjaan, keluarga, kesehatan, pertemanan, hobi, atau waktu untuk beristirahat.

Dengan mengetahui prioritas tersebut, akan lebih mudah menentukan aktivitas mana yang layak mendapatkan waktu dan perhatian.

Jika ada tren yang tidak sesuai dengan prioritas, melewatkannya bukan berarti ketinggalan. Itu merupakan pilihan berdasarkan kebutuhan sendiri.

JOMO bukan berarti anti-sosial

Salah satu kesalahpahaman mengenai JOMO adalah anggapan bahwa seseorang harus menjauhi teman, tidak mengikuti kegiatan sosial, atau menghindari media sosial.

Padahal, JOMO bukan tentang seberapa sering seseorang keluar rumah atau seberapa jarang menggunakan media sosial.

Konsep ini lebih kepada perubahan cara berpikir. Dari yang sebelumnya merasa harus mengikuti semuanya menjadi lebih selektif dalam menentukan apa yang layak mendapatkan waktu, perhatian, dan energi.

Seseorang tetap dapat menghadiri konser, mencoba tempat makan yang sedang viral, mengikuti tren fesyen, atau bepergian bersama teman. Bedanya, keputusan tersebut dibuat karena memang ingin, bukan karena takut dianggap tertinggal.

JOMO bukan berarti harus selalu melewatkan tren

Mengikuti tren bukan sesuatu yang salah. Begitu juga dengan memilih untuk melewatkannya.

Jika sebuah tren memang menarik, bermanfaat, dan sesuai dengan kebutuhan, tidak ada alasan untuk menolaknya hanya demi terlihat berbeda.

Sebaliknya, jika tidak tertarik, tidak perlu memaksakan diri hanya karena semua orang sedang membicarakannya.

Pada akhirnya, JOMO bukan tentang siapa yang paling jarang mengikuti tren atau siapa yang paling banyak menghabiskan waktu sendirian. JOMO lebih kepada kemampuan merasa nyaman dengan keputusan sendiri.

Hidup bukan perlombaan untuk selalu menjadi orang pertama yang mengetahui, mencoba, atau memiliki sesuatu.

Kadang, bisa mengatakan, "Saya tidak ikut, dan itu tidak apa-apa," justru menjadi bentuk kebebasan tersendiri.

Baca juga: Terlalu sering scroll, remaja rentan cemas dan turun percaya diri

Baca juga: Cegah FOMO, Indodax galakkan literasi aset digital dan kripto

Baca juga: Siasat hadapi anak yang sedang FOMO

Pewarta: Raihan Fadilah
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.