Minggu, 18 Oktober 2026 15:52 WIB
Bupati Kotawaringin Timur Halikinnor didampingi Kapolres AKBP I Kadek Dwi Yoga Sidhimantra saat memimpin rapat di Posko Satgas Penanganan Karhutla dan Kekeringan, Minggu (18/10/2026). ANTARA/HO-Diskominfo Kotim
Sampit (ANTARA) - Bupati Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, Halikinnor menegaskan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di daerah ini terus dioptimalkan meski dihadapkan pada kendala sulitnya sumber air dan lokasi yang cukup jauh.
"Tetap kita maksimalkan, bahkan kita tambah sarana prasarananya seperti selang, dan itu akan kita tambah lagi. Kita evaluasi setiap minggu nanti, apakah upaya yang kita lakukan itu sudah maksimal, efektif dan efisien dan bisa memadamkan api tersebut," ujar Halikinnor di Sampit, Minggu.
Penegasan itu disampaikannya usai memimpin rapat di Posko Satuan Tugas Penanganan Karhutla dan Kekeringan di kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotawaringin Timur. Turut hadir Kapolres AKBP I Kadek Dwi Yoga Sidhimantra dan sejumlah kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD).
Halikinnor menyebut, saat ini ada dua kebakaran cukup besar yang menjadi perhatian yakni di Desa Camba Kecamatan Kota Besi dan kawasan hutan di Kecamatan Seranau. Kendala yang dihadapi juga sama, yakni jauhnya lokasi serta sulitnya sumber air.
Untuk kebakaran di Desa Camba, petugas menyiasati dengan mengerahkan suplai air dari mobil tangki dan mobil tandon air, sehingga petugas di garis depan tetap fokus pada upaya memadamkan api dengan air yang terus dipasok menggunakan mobil.
"Kita sudah membangun sumur bor-sumur bor, tetapi tidak mencukupi. Misalnya ada airnya begitu, sekali sedot itu sudah habis. Kita menunggu dulu bahkan kadang-kadang ada jaringan irigasi itu menunggu air pasang baru bisa ada air. Jadi kendala utama kita adalah air," timpalnya.
Sementara itu kebakaran di Seranau menghadapi tantangan yang jauh lebih besar. Lokasinya yang berada di seberang sungai tidak terjangkau mobil tangki air sehingga hanya bisa mengandalkan petugas berbekal mesin pompa jinjing dan harus berjalan cukup jauh menuju lokasi kebakaran. Kondisi ini diperparah dengan sulitnya sumber air di sekitar lokasi.
"Makanya kita berharap ini mungkin penanganan yang jauh-jauh ini, mudah-mudahan hujan yang kita harapkan memadamkan itu," sambung Halikinnor.
Diakuinya, situasi saat ini masih cukup rawan meski beberapa kali hujan turun, namun belum signifikan. Untuk itulah Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur memutuskan memperpanjang status tanggap darurat bencana karhutla hingga 30 Oktober 2026.
Keberadaan personel dinilai sudah cukup memadai yakni 448 orang, ditambah bantuan personel Brimob Polda Nusa Tenggara Barat sebanyak 32 orang, serta relawan swadaya masyarakat yang hingga kini terus membantu penanganan karhutla di Kotawaringin Timur.
Peralatan pemadam kebakaran juga terus ditingkatkan sesuai kebutuhan di lapangan. Harapannya, penanganan karhutla bisa lebih cepat, efektif dan efisien.
Armada pemadam kebakaran juga dinilai sudah memadai. Selain armada yang dilengkapi tangki air, juga ada 38 mobil pengangkut tandon air milik OPD yang dikerahkan sebagai penyuplai air kepada petugas pemadam di lokasi kebakaran sehingga mereka tidak perlu bolak balik mengambil air.
"Kendala kita saat ini memang sumber airnya serta lokasi yang jauh. Meski begitu, tim darat kita terus berusaha semaksimal mungkin, bahkan siang dan malam. Mudah-mudahan hujan segera turun signifikan sehingga bisa memadamkan kebakaran," demikian Halikinnor.
Baca juga: DPKP Kotim bekali warga binaan Lapas Sampit keterampilan usaha
Baca juga: Sudah bekukan 26 izin, Menhut juga soroti perusahaan di Kalteng
Baca juga: Setahun berjalan Sekolah Rakyat Kotim cetak generasi berkualitas
Pewarta : Norjani
Uploader: Admin 3
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.