Bengkayang (ANTARA) - Bunda Literasi Provinsi Kalimantan Barat Erlina Ria Norsan mengajak keluarga dan kader PKK memperkuat budaya membaca serta meningkatkan literasi digital untuk membentengi anak dari hoaks dan dampak negatif penggunaan teknologi.
Menurut dia, literasi menjadi salah satu kunci peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), terutama di tengah derasnya arus informasi digital yang semakin mudah diakses anak-anak.
“Di era digital sekarang, anak-anak kita sangat mudah mendapat informasi melalui telepon genggam dan media sosial. Namun, kita harus bertanya, apakah anak-anak kita hanya pandai menggunakan teknologi atau sudah mampu menggunakan teknologi secara bijaksana,” kata Erlina saat membuka Pekan Gemar Membaca di Aula Kantor Bupati Sambas, Rabu.
Ia mengingatkan agar penggunaan telepon genggam tidak membuat anak-anak menghabiskan lebih banyak waktu untuk menggulir layar dibandingkan membaca, belajar, dan mengembangkan kemampuan diri.
Karena itu, menurut dia, kebiasaan membaca perlu berjalan beriringan dengan pemanfaatan teknologi secara bijak. Anak-anak harus dibekali kemampuan memahami informasi, berpikir kritis, serta membedakan informasi yang benar dan salah sebelum mempercayai atau menyebarkannya.
“Kita ingin generasi muda Sambas menjadi generasi yang cerdas menggunakan teknologi, tidak mudah percaya berita bohong, tidak terjebak perundungan digital, dan mampu memanfaatkan internet untuk belajar serta berkarya,” ujarnya.
Erlina yang juga Ketua TP PKK Provinsi Kalbar menegaskan, literasi tidak cukup dimaknai sebagai kegiatan membaca buku di perpustakaan. Literasi juga mencakup kemampuan memahami informasi, menilai kebenaran suatu informasi, serta menggunakan pengetahuan untuk mengambil keputusan yang tepat.
“Literasi bukan sekadar membaca, tetapi memahami kehidupan. Literasi adalah kemampuan membaca, memahami informasi, berpikir kritis, memilah yang benar dan yang salah, serta menggunakan pengetahuan untuk mengambil keputusan yang baik,” katanya.
Ia juga menyoroti perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang mulai dimanfaatkan dalam berbagai bidang, termasuk pendidikan. Menurut dia, teknologi tersebut dapat digunakan untuk mendukung pembelajaran, tetapi tetap memerlukan pendampingan agar anak mampu menggunakannya secara bertanggung jawab.
Erlina turut mengajak para ibu yang tergabung dalam PKK untuk meningkatkan pemahaman mengenai teknologi digital dan AI sehingga dapat mendampingi anak dalam memanfaatkan teknologi sesuai kebutuhan dan usianya.
“Boleh digitalisasi digunakan, handphone digunakan, tetapi juga harus ada keseimbangan. Bagaimana literasi juga harus dibudayakan, itu sangat penting sekali,” katanya.
Ia menekankan, keluarga memiliki peran mendasar dalam membangun kebiasaan literasi karena rumah merupakan lingkungan pendidikan pertama bagi anak. Orang tua dapat memulainya melalui kegiatan sederhana, seperti membaca bersama, menyediakan pojok baca di rumah, serta mendampingi anak ketika mengakses internet.
“Pendidikan pertama seorang anak dimulai dari rumah, dan keluarga adalah sekolah pertama bagi anak-anak kita. Melalui gerakan PKK, kita dapat mengajak seluruh keluarga membiasakan membaca bersama anak, menyediakan pojok baca sederhana di rumah, dan mendampingi anak menggunakan teknologi,” ujarnya.
Lebih lanjut, Erlina berharap kader PKK dapat menjadi penggerak literasi hingga ke desa-desa melalui kegiatan dasawisma, posyandu, pendidikan anak usia dini (PAUD), dan kelompok kegiatan masyarakat. Upaya tersebut diharapkan dapat memperluas jangkauan gerakan literasi sekaligus membangun kebiasaan membaca di lingkungan keluarga.
Ia mengatakan, keberhasilan gerakan literasi tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya buku yang dimiliki, tetapi oleh konsistensi dalam membangun kebiasaan membaca sejak dini.
Pewarta: Narwati
Uploader : Admin Antarakalbar
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.