Daftar Isi
Salah satu buku ilmiah yang akan rutin disusun oleh dosen Indonesia adalah buku monograf. Buku monograf adalah salah satu jenis buku ilmiah yang biasanya berisi hasil penelitian yang telah dilaksanakan oleh dosen.
Sehingga menulis dan menerbitkannya menjadi bagian dari upaya menyebarluaskan hasil penelitian dosen. Sekaligus menjadi luaran dari penelitian tersebut. Namun, karena termasuk buku ilmiah atau KTI (Karya Tulis Ilmiah) maka penyusunannya harus mengikuti ketentuan. Berikut informasinya.
Sebelum membahas bagaimana cara menyusun dan aturan penyusunan buku monograf. Para dosen tentunya perlu memahami dulu karakteristik atau ciri khasnya. Buku monograf adalah buku ilmiah yang secara umum memiliki ciri-ciri di bawah ini:
Buku monograf memiliki beberapa karakteristik atau ciri-ciri. Salah satunya adalah penyusunan didasarkan pada hasil penelitian dosen. Inilah alasan kenapa buku monograf masuk dalam tugas penelitian saat pelaporan BKD. Sedangkan dalam penilaian angka kredit, masuk dalam penilaian AK Prestasi.
Secara substansi pembahasan, buku monograf membahas satu topik yang menjadi fokus utama. Inilah yang kemudian membedakannya dengan buku referensi. Meski sama-sama didasarkan hasil penelitian, buku referensi membahas beberapa topik di suatu bidang keilmuan. Sementara di buku monograf, topiknya tunggal.
Karakteristik ketiga, buku monograf disusun dan diterbitkan dengan memenuhi kaidah ilmiah. Sehingga memenuhi standar umum penyusunan KTI dari hasil penelitian.
Misalnya mengandung rumusan masalah dengan kebaruan (novelty), mencantumkan metode penelitian yang membantu pemecahan masalah atau menjawab pertanyaan secara ilmiah, didukung oleh data mutakhir, dan lain sebagainya. Sehingga berisi fakta, bukan hasil imajinasi maupun data yang diubah.
Karakteristik ketiga, buku monograf menjelaskan suatu topik tunggal yang relevan dengan bidang kepakaran dosen. Sehingga bisa diakui dalam pelaporan BKD maupun penilaian angka kredit.
Sesuai ketentuan terbaru di dalam Kepmendiktisaintek No. 39/M/KEP/2026. Buku monograf dan referensi minimal terdiri dari 125 halaman dihitung dari bab pertama sampai bab terakhir (bagian isi utama).
Buku monograf adalah buku ilmiah karya dosen yang wajib diterbitkan dan wajib terbit dengan ISBN. Sehingga setelah selesai ditulis, dosen wajib mengurus proses penerbitannya di penerbit resmi. Baik itu penerbit yang dikelola Badan Ilmiah/ Organisasi/Perguruan Tinggi maupun Penerbit Resmi.
Buku monograf adalah salah satu jenis KTI dalam bentuk buku. Maka lumrahnya, proses penulisan atau penyusunan menyesuaikan dengan ketentuan yang berlaku. Selain memenuhi ciri khas yang dijelaskan sebelumnya. Isi dan sistematika penyusunan juga harus sesuai ketentuan. Ketentuan tersebut adalah sebagai berikut:

Ketentuan penyusunan yang pertama adalah bagian luar buku. Bagian luar disini adalah cover (sampul) dari buku monograf. Sesuai ketentuan, desain dan informasi (unsur) yang tercantum di cover buku monograf adalah sebagai berikut:
Ketentuan penyusunan buku monograf yang kedua adalah bagian dalam buku. Pada bagian dalam, terbagi menjadi 3 bagian. Yaitu:

Ketentuan penyusunan lainnya adalah pada halaman daftar pustaka. Setiap jenis KTI, termasuk buku monograf wajib menggunakan referensi. Sehingga wajib terdapat halaman daftar pustaka.
Dalam struktur penulisan buku monograf, daftar pustaka masuk pada bagian dalam buku. Yakni pada subbagian Postliminaries sesuai penjelasan sebelumnya. Namun, penyusunan halaman daftar pustaka harus sesuai ketentuan gaya sitasi.
Gaya sitasi memiliki jenis yang beragam. Sebut saja seperti APA Style, MLA Style, Chicago Style, dan masih banyak lagi yang lainnya. Naskah buku monograf harus menggunakan satu jenis gaya sitasi dan konsisten dari halaman pertama sampai halaman terakhir.
Lalu, gaya sitasi mana yang harus digunakan? Dalam konteks menyusun buku monograf, gaya sitasi menyesuaikan kebijakan perguruan tinggi. Biasanya disediakan buku panduan penulisan buku monograf dan mencakup ketentuan gaya sitasi mana yang harus digunakan.
Memahami juga bahwa buku monograf adalah jenis buku ilmiah yang berisi hasil penelitian dosen. Maka penyusunannya baru bisa dimulai setelah penelitian berhasil diselesaikan. Berikut adalah rincian seluruh tahapan dalam cara membuat (menulis) buku monograf:
Sesuai penjelasan mengenai karakteristik buku monograf yang didasarkan pada hasil penelitian. Maka sebelum mulai disusun, dosen harus memastikan kegiatan penelitian sudah diselesaikan.
Sehingga sudah ada laporan penelitian maupun KTI yang dipublikasikan sebagai luaran. Sebab keduanya, bisa menjadi acuan dosen untuk menyusun naskah buku monograf. Paling direkomendasikan adalah melakukan konversi KTI, agar proses penulisan buku monograf lebih efisien.
Tahap kedua, dosen perlu membaca dulu buku panduan penulisan buku monograf yang disediakan perguruan tinggi. Tujuannya agar memahami apa itu buku monograf, struktur penulisan, format penulisan, ketentuan substansi pembahasan, dll. Sehingga meminimalkan kesalahan.
Tahap ketiga, dosen bisa menyusun kerangka tulisan. Kerangka ini bersifat opsional, akan tetapi jika disusun maka akan memudahkan proses penulisan. Sebab membantu dosen menyusun struktur buku yang sistematis sesuai alur logika keilmuan, terfokus, dan memberi efisiensi dalam penulisan naskah.
Tahap keempat, adalah proses mencari dan memilih referensi. Meski buku monograf bisa disusun melalui proses konversi. Namun seringnya dosen membutuhkan data tambahan. Sehingga pembahasan lebih detail, mendalam, dan untuk tujuan lainnya.
Maka ada tahap mencari dan menentukan referensi yang tepat. Referensi tersebut harus sesuai topik buku monograf, kredibel, dan merupakan terbitan terkini. Sehingga memberikan data yang benar-benar sesuai dan tentunya relevan.
Tahap berikutnya adalah proses penulisan. Yakni tahap mengembangkan kerangka yang disusun sebelumnya. Penulisan dimulai dari bab pertama, kedua, dan seterusnya. Selama proses ini, dosen mungkin butuh referensi tambahan. Sehingga bisa mencari referensi kembali sesuai kebutuhan.
Setelah selesai disusun, buku monograf perlu diedit dan disunting mandiri oleh dosen. Jadi, silahkan dibaca ulang dan melakukan koreksi jika menjumpai kesalahan.
Pada tahap ini, dosen juga bisa mengecek plagiarisme atau cek skor similarity index, misalnya di Turnitin. Jadi, jika skor similarity terbilan tinggi maka bisa direvisi dulu. Langkah ini membantu melancarkan proses penerbitan, karena similarity sudah sesuai standar penerbitan buku ilmiah.
Tahap akhir dari penulisan buku monograf adalah mengurus proses penerbitan. Diawali dengan menentukan penerbit, dosen perlu memastikan penerbit tersebut kredibel agar bisa terbit ber-ISBN dan memenuhi standar Kemdiktisaintek lainnya.
Setelah menentukan penerbit, barulah naskah buku monograf dikirim sesuai prosedur yang ditetapkan penerbit tersebut. Pada tahap ini ada kemungkinan naskah diterima, ditolak, atau diterima dengan catatan penulis bersedia melakukan revisi sesuai permintaan editor. Ikuti seluruh prosesnya agar penerbitan lancar.
Memudahkan dalam menyusun buku monograf, amaka memperbanyak membaca buku monograf bisa dilakukan. Sehingga memiliki gambaran lebih jelas buku monograf penulisannya seperti apa, pembahasannya, gaya bahasanya, dan sebagainya.
Sebagai rekomendasi buku monograf yang tepat untuk dibaca dan dianalisis, berikut beberapa contoh yang sudah terbit sesuai standar Kemdiktisaintek:
Buku monograf satu ini merupakan karya dari beberapa dosen Politeknik Perikanan Negeri Tual. Yaitu Syahibul Kahfi Hamid, Tati Atia Ngangun, Frischilla Pentury dan Wellem Anselmus Teniwut.
Sesuai dengan judulnya, isi pembahasan mengenai bagaimana mengembangkan agribisnis perikanan di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Penyampaian topik dibuat sederhana sehingga mudah dipahami. Sekaligus memudahkan pembaca mengetahui tahapan penerapan pengembangan potensi agribisnis di 3T.

Buku monograf ini adalah karya dari Retno Wulandari dan Ferra Naidir yang merupakan dosen di Universitas Bhayangkara Jakarta Raya. Buku bidang teknik kimia ini membahas potensi pengolahan limbah ampas kopi. Buku ini juga menjelaskan bagaimana mengolah limbah kopi menjadi sumber biomassa. Sekaligus potensinya di pasar global.

Buku monograf satu ini karya dari 3 dosen dari Universitas Sains dan Teknologi Jayapura, yaitu Dr. Ir. Jusuf Haurissa, M.T., Prof. Dr. Hendry Y. Nanlohy, M.T. dan Santje M. Iriyanto, M.T..
Buku ini membahas mengenai potensi limbah hijau seperti sisa sampah organik rumah tangga di Papua yang bisa diolah menjadi sumber energi terbarukan. Mulai dari pengolahan menjadi biomassa hingga diolah menjadi briket yang bernilai ekspor.

Beberapa contoh buku monograf tersebut bisa dibaca. Sehingga bisa menambah pemahaman bagaimana menulis naskahnya dan bisa diterima penerbit dengan lebih mudah. Memahami buku monograf adalah buku ilmiah, maka lumrah ada banyak aturan yang menyertainya. Jadi, membaca buku panduan sangat dianjurkan sebelum mulai menulis.
1. Bagaimana cara memastikan monograf diakui secara akademik?
Pastikan buku: memiliki ISBN, diterbitkan oleh penerbit kredibel, sesuai bidang keilmuan, dan disusun secara sistematis dan ilmiah
2. Apa yang membedakan monograf dengan jenis buku ilmiah lain?
Monograf fokus pada satu topik secara mendalam, sehingga pembahasannya lebih detail dibandingkan buku referensi yang biasanya lebih luas.
3. Bagaimana cara meningkatkan kualitas monograf sebelum diterbitkan?
Lakukan editing mandiri, periksa kesesuaian referensi, serta mintalah masukan dari rekan sejawat atau editor profesional.
4. Bagaimana cara mengubah hasil penelitian menjadi buku monograf?
Langkah praktisnya adalah dengan mengembangkan laporan penelitian atau artikel jurnal menjadi beberapa bab, memperluas pembahasan, serta menambahkan analisis dan referensi pendukung agar lebih komprehensif.
Artikel Terkait:
Referensi: