Jakarta -
Modal untuk memulai usaha tidak selalu berbentuk uang. Bagi Amanda Mitsuri, Founder Massicot, perjalanan membangun bisnisnya justru bermula dari sebuah MacBook Pro pemberian sang ayah.
Kisah itu dimulai pada 2011 ketika Amanda mulai kuliah. Alih-alih memberikan uang ratusan juta rupiah sebagai modal, ayahnya memilih membekali Amanda dengan perangkat yang dinilai dapat menunjang ketertarikannya terhadap desain dan seni.
"Dia bilang, 'Ini warisan yang bukan ratusan juta, tapi ini launcher for your career'," ujar Amanda saat ditemui di Jakarta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Amanda mengatakan ayahnya memiliki latar belakang sebagai geologis dan cukup dekat dengan teknologi. Sang ayah juga mengetahui betul ketertarikan putrinya terhadap dunia desain dan seni sehingga mencari perangkat yang cocok untuk mendukung aktivitas tersebut.
Keputusan itu rupanya ikut menentukan jalan karier Amanda. Berbekal MacBook Pro tersebut, ia mulai memberanikan diri untuk membangun brand pada tahun yang sama.
Amanda Mitsuri menceritakan perjalanan mendirikan Massicot Foto: Adi FR/detikINET
"Saya nggak bisa kasih kamu ratusan juta untuk modal, tapi device ini bisa menarik kamu ke jalan berkarya," kenang Amanda menirukan pesan ayahnya saat itu.
Keinginan menjadi entrepreneur juga tidak muncul begitu saja. Amanda tumbuh melihat orang tuanya menjalankan usaha. Pengalaman tersebut membuatnya tertarik mengikuti jejak mereka dan akhirnya memilih membangun bisnis sendiri.
Dalam prosesnya, ketertarikan Amanda terhadap desain bertemu dengan latar belakang geologi sang ayah. Ia kemudian mengeksplorasi material dan membuat koleksi artificial gemstone, yang menjadi bagian dari perjalanan awalnya berkarya dan berbisnis.
Seiring bisnis berkembang, perangkat yang digunakan Amanda ikut bertambah. Saat ini ia mengandalkan sejumlah perangkat dalam ekosistem Apple, mulai dari iPhone Pro, iPad Pro hingga MacBook Pro untuk mendukung aktivitas sehari-hari.
Produk Massicot dikenakan oleh artis Indonesia. Foto: Adi FR/detikINET
Menurut Amanda, penggunaan perangkat yang terintegrasi menjadi penting karena timnya relatif kecil. Dengan tools yang efisien, tim kecil tersebut tetap dapat menjalankan pekerjaan yang kompleks.
"Tim yang kecil kalau nggak di-provide dengan device yang efficient, itu juga bisa kacau. Justru bahkan dengan tim yang kecil, dengan kita integrasikan device kita, itu tuh jadi kayak orang lihatnya, 'Oh, ini timnya besar.' Padahal nggak," ungkapnya.
Untuk proses kreatif, salah satu aplikasi yang paling sering digunakan Amanda adalah Procreate di iPad Pro. Latar belakangnya yang terbiasa menggambar secara manual membuat kombinasi keduanya terasa natural.
Amanda menggunakan iPad untuk berkarya Foto: Adi FR/detikINET
"Procreate tuh kawin ya sama iPad Pro itu. Karena jadi kayak ada no limitation. Ketika saya pegang itu kayak semuanya saya gambar manual," jelas Amanda.
Ia juga menyoroti tekstur, warna, hingga akurasi warna sebagai aspek yang membuatnya nyaman berpindah dari medium manual ke digital.
Ada cerita personal di balik penggunaan iPad Pro. Amanda mulai menggunakan tablet tersebut pada 2018 setelah mendapatkannya dari sang suami.
Saat itu ia baru menjadi ibu dan mengalami kondisi klinis yang membuatnya harus sekitar tiga bulan lebih banyak berada di rumah. Aktivitas menggambar menggunakan iPad Pro kemudian menjadi salah satu cara Amanda untuk terus berkarya di tengah keterbatasan tersebut.
"Adanya iPad Pro dan output-nya adalah kegiatan saya menggambar, save my life," tuturnya.
Amanda Mitsuri, Founder Massicot, Foto: Adi FR/detikINET
Menurut Amanda, periode tersebut membuatnya menemukan kembali ruang untuk bercerita melalui karya meski tidak bisa banyak bertemu orang. iPad Pro pun kemudian ia ibaratkan sebagai studio yang dapat dibawa ke mana-mana.
"Kalau iPad Pro, makanya saya tadi bilang ini tuh studio yang portable," katanya.
Kini teknologi menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari proses kreatif dan bisnis Amanda. Namun, perangkat hanyalah alat. Baginya, kemampuan menemukan cerita tetap menjadi fondasi utama sebuah karya.
Amanda mengatakan seorang kreator tidak seharusnya selalu menunggu mood untuk berkarya. Kepekaan justru perlu terus diasah karena inspirasi bisa muncul dari hal-hal sederhana di sekitar.
"Bahkan kayak dengan bunga yang layu aja kita bisa bikin inspirasi. Jadi mengasah kita untuk ber-storytelling itu jadi poin utama di brand masing-masing," pungkasnya.
(afr/fay)
TAGSLIHAT LAINNYA