Meski berhasil menekan deforestasi, Brasil masih menghadapi berbagai tantangan dalam melindungi Amazon. Ancaman tersebut datang dari perubahan iklim, sejumlah rancangan undang-undang yang diajukan, hingga kemungkinan pergantian presiden.
Sekitar 40 persen kawasan Amazon mengalami kerusakan akibat kebakaran hutan, penebangan, dan kekeringan. Dalam beberapa tahun terakhir, kerusakan akibat faktor-faktor tersebut bahkan telah melampaui kerusakan akibat pembukaan hutan secara menyeluruh.
Ancaman ini dapat semakin parah jika fenomena El Nino yang kuat terjadi pada 2026 dan 2027. Fenomena pemanasan berkala suhu permukaan laut di kawasan khatulistiwa Samudra Pasifik tersebut dapat menyebabkan cuaca lebih panas dan kering, sehingga meningkatkan risiko kebakaran hutan.
Sepanjang tahun ini, jumlah kebakaran di kawasan Amazon sempat mendekati rekor terendah sepanjang sejarah. Namun, jumlah kebakaran meningkat tiga kali lipat sejak 4 Oktober, ketika masyarakat Brasil memberikan suara dalam putaran pertama pemilihan umum nasional.
Pihak berwenang kini menyelidiki dugaan bahwa sejumlah kebakaran sengaja dilakukan dengan motif politik menjelang putaran kedua pemilihan presiden (Pilpres) pada 25 Oktober.
Dalam putaran pertama, Senator Flavio Bolsonaro, putra mantan Presiden Bolsonaro, memperoleh 47 persen suara. Sementara itu, Lula meraih 45 persen suara. Keduanya akan kembali bersaing dalam pemungutan suara putaran kedua.
Kedua calon presiden memiliki pandangan yang sangat berbeda mengenai masa depan hutan hujan Amazon.
Para pakar iklim dan konservasi memperingatkan bahwa kemenangan Flavio berpotensi membatalkan berbagai kebijakan yang selama ini diterapkan untuk menekan deforestasi.
Flavio berjanji mengakhiri deforestasi ilegal pada 2029 atau satu tahun lebih cepat daripada target pemerintah Brasil saat ini.
Sementara itu, Lula mengusung target yang lebih luas dalam kampanye pemilihannya kembali, yakni mencapai nol deforestasi bersih pada 2030. Artinya, seluruh kehilangan kawasan hutan, baik akibat pembukaan lahan yang legal maupun ilegal, harus diimbangi dengan pemulihan hutan.
Cristiane Mazzetti dari Greenpeace Brasil mengatakan bahwa rekor terendah deforestasi menunjukkan keberhasilan kebijakan pemerintah. Namun, keberlanjutan kebijakan tersebut dapat terancam, bergantung pada siapa yang memenangkan pemilihan presiden.
"Kongres selama ini berupaya melemahkan, menunda, bahkan menghapus undang-undang dan peraturan yang membantu melindungi lingkungan," ungkap Mazzetti.
"Komposisi parlemen mendatang akan semakin tidak mendukung perlindungan lingkungan. Bergantung pada pemerintahan federal berikutnya, risiko pencabutan kebijakan perlindungan lingkungan dan kembali melonjaknya deforestasi akan meningkat tajam."
Mantan Menteri Lingkungan Hidup Marina Silva, dalam pernyataan pada Jumat, menyebut penurunan deforestasi sebagai "pencapaian bersejarah" bagi rakyat Brasil.
Menurutnya, hasil pemilihan presiden akan sangat menentukan apakah keberhasilan tersebut dapat dipertahankan.
"Pemerintahan Jair Bolsonaro menyangkal persoalan perlindungan lingkungan dan perubahan iklim, sekaligus membongkar berbagai kebijakan lingkungan secara besar-besaran. Flavio mewarisi pandangan dan cara kerja tersebut serta berniat meneruskannya, sebagaimana telah beberapa kali ia tunjukkan," kata Silva.
"Orang yang menyangkal adanya masalah tentu tidak akan melakukan apa pun untuk mengatasinya."
Flavio menyangkal perubahan iklim, tetapi pada saat yang sama menggambarkan dirinya sebagai pembela lingkungan. Ia sendiri belum menjelaskan secara terperinci langkah-langkah yang akan ditempuh untuk melindungi Amazon maupun mendukung pendanaan bagi upaya pelestarian hutan.
Flavio menyerukan pembaruan undang-undang lingkungan hidup. Namun, banyak pegiat lingkungan menilai gagasan tersebut sebagai upaya untuk memperlemah aturan perlindungan lingkungan.
"Flavio Bolsonaro adalah pembela lingkungan hidup dan masyarakat yang menjaga kelestarian hutan serta kebersihan sungai," demikian pernyataan tim kampanyenya.