Kamis, 13 Agustus 2026 03:59 WIB
Sinergitas peluncuran program uji coba teknologi monitoring dan pengawasan Kawasan Konservasi di Taman Nasional Laut Sawu di Kupang, Rabu (12/8/2026). ANTARA/Kornelis Kaha
Kupang (ANTARA) - Balai Pengelola Kelautan (BPK) Kupang bersinergi dengan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) meluncurkan program uji coba teknologi monitoring dan pengawasan Kawasan Konservasi di Taman Nasional Laut Sawu.
Kepala BPK Kupang Imam Fauzi di ditemui di Kupang, Rabu mengatakan dengan luas wilayah laut TN Laut Sawu di NTT mencapai 3,35 juta hektare, dibutuhkan teknologi monitoring yang bisa digunakan untuk memonitoring kawasan TN Laut Sawu.
“Kawasan Taman Nasional Laut Sawu merupakan kawasan yang sangat luas dibandingkan dengan perairan wilayah lain di Indonesia, tentunya untuk melakukan monitoring butuh tenaga karena itu saat ini bersama YKAN sudah ada alatnya yang bisa digunakan untuk memonitoring,” katanya.
Dia mengatakan ada dua teknologi yang digunakan yakni Havoc-Rampange dan Blueoasis-Hydrotwin.
Dua alat tersebut juga ujar dia, berguna untuk memonitoring berbagai mamalia laut yang ada di kawasan tersebut, yang kemudian datanya. langsung dikirim ke Kementerian Kelautan dan Perikanan di Jakarta.
Selama ini ujar dia, proses monitoring TN Laut Sawu yang sangat luas, dilakukan secara manual, artinya dilakukan penyelaman dan membutuhkan waktu yang lama dan keselamatan petugas monitoring juga dipertaruhkan.
Officer In Charge (OIC) Manager YKAN Wildan dalam pemaparannya menjelaskan bahwa teknologi Havoc merupakan drone kapal yang merupakan wahana permukaan otonom.
"Fungsinya adalah mendukung pengelolaan kawasan konservasi dalam skala besar. Jangkuannya juga bisa mencapai 1.400 kilometer sehingga lebih luas proses monitoringnya," tambah dia.
Sistem penggerak juga ujar dia menggunakan listrik dan panel surya yang terintegrasi. Selain itu juga menyediakan data real time dan periode sebagai dasar pengambilan keputusan berbasis data.
Teknologi tersebut juga tambah dia, mampu mendeteksi kehadiran dan distribusi paus, lumba-lumba, dugong serta biota laut besar lainnya. "Tak hanya itu teknologi tersebut juga mampu mendeteksi kemunculan spesies penting," katanya.
Sementara itu teknologi kedua yakni Blueoasis-Hydrotwin yang mana berguna untuk mengubah suara yang ada di dasar laut menjadi informasi AI untuk mengambil keputusan. Kemudian juga bisa mengidentifikasi otomatis sumber suara.
"Jadi bisa memastikan apakah suara yang didengar itu suara mamalia laut, atau suara kapal," ujar dia.
Ia menjelaskan, pemasangan kedua alat itu akan dilakukan pada akhir September untuk Havoc-Rampange dan akhir Oktober 2026 untuk Blueoasis-Hydrotwin.
Pewarta : Kornelis Kaha
Editor:
Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.