Jumat, 17 Juli 2026 - 09:58 WIB
Jakarta, VIVA – Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Bakrie menilai, mulai meredanya tekanan geopolitik global turut disertai sentimen positif terhadap Indonesia.
Baca Juga
Dia menyampaikan, sepanjang kuartal II-2026 dunia usaha menghadapi berbagai tantangan, mulai dari ketidakpastian geopolitik akibat konflik di Timur Tengah, tekanan terhadap nilai tukar rupiah, kepastian regulasi, daya beli masyarakat, hingga kenaikan biaya energi.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Menurutnya, saat ini Indonesia tengah memasuki fase transformasi ekonomi dari berbasis sumber daya alam menuju ekonomi berbasis sumber daya manusia.
Baca Juga
“Indonesia sedang bertransformasi dari natural resources based menjadi human resources based. Dalam setiap transisi tentu ada tantangan, sehingga kita harus menyiapkan peningkatan kualitas SDM,” kata Anindya dalam keterangannya, Jumat, 17 Juli 2026.
Photo :
Baca Juga
Hal ini merupakan hasil dari survei Kadin Business Pulse pada kuartal II-2026, yang merupakan instrumen yang secara rutin diterbitkan setiap kuartal untuk memotret kondisi dunia usaha sekaligus menjadi masukan bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan ekonomi.
Anindya menyampaikan, Business Pulse menjadi dashboard bagi dunia usaha, untuk melihat berbagai indikator perekonomian mulai dari kondisi bisnis, regulasi, birokrasi, kebijakan pemerintah, hingga daya beli masyarakat.
Survei tersebut juga mencakup pelaku usaha dari berbagai skala, mulai dari usaha mikro, kecil, menengah (UMKM), hingga perusahaan besar. Anindya menambahkan, perhatian investor global terhadap Indonesia kini tidak lagi berfokus pada besarnya potensi ekonomi, melainkan pada kemampuan Indonesia dalam merealisasikan berbagai kebijakan.
Menurutnya, kondisi tersebut justru mendorong Kadin untuk semakin aktif turun ke berbagai daerah guna memperkuat komunikasi dengan pelaku usaha sekaligus menyampaikan berbagai informasi dan advokasi kebijakan.
Dia menegaskan, fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat di tengah berbagai tantangan global. Anindya mengaku optimistis, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih dapat bertahan di kisaran 5 persen pada 2026.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
“Inflasi juga terjaga dan rasio utang terhadap PDB merupakan salah satu yang terbaik di G20,” ujar Anindya.
Di sisi lain, Anindya menilai dunia usaha perlu beradaptasi terhadap tatanan ekonomi global yang baru (new equilibrium). Kondisi tersebut harus dihadapi secara realistis dengan tetap menjaga optimisme.
Halaman Selanjutnya
“Ini adalah equilibrium baru. Kita tentu menginginkan rupiah menguat dan suku bunga turun, tetapi kita juga harus melihat kondisi apa adanya dengan kepala dingin. Biasanya setelah satu hingga tiga tahun, ketika kepercayaan kembali, situasi akan berbalik arah,” ujar Anin.