Rabu, 23 September 2026 20:33 WIB
Pengendara sepeda motor menerobos hujan lebat. ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/nz
Palembang (ANTARA) - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut hujan yang mulai mengguyur sejumlah wilayah Sumatera Selatan (Sumsel), termasuk Kota Palembang, dipicu kondisi dinamika atmosfer yang mendukung pembentukan awan hujan serta pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang Siswanto di Palembang, Rabu, mengatakan kondisi atmosfer saat ini mendukung pembentukan awan hujan di sejumlah wilayah Sumsel.
"Secara umum dapat disampaikan bahwa beberapa kejadian hujan yang terjadi secara sporadis di wilayah Sumsel termasuk di Kota Palembang, di samping karena kondisi dinamika atmosfernya mendukung untuk pembentukan awan hujan, tentu trigger dari kegiatan OMC Sumsel periode 19 sampai 23 September 2026 ini juga memperkuat pembentukan awan hujan yang terjadi di Sumsel," katanya.
Ia menjelaskan kondisi atmosfer Sumsel masih berpotensi mendukung terjadinya hujan dalam beberapa hari ke depan. Salah satunya dipengaruhi aktivitas gelombang Rosby yang diprediksi aktif di wilayah Sumsel pada 24-25 September 2026.
Aktivitas tersebut mengindikasikan adanya peningkatan potensi curah hujan dan juga pola konvergensi dan belokan angin yang terbentuk di sekitar Sumsel juga dapat mendukung pertumbuhan awan konvektif pembentuk hujan.
Dalam tiga hari ke depan, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat diprakirakan terjadi pada siang hingga sore hari di wilayah Ogan Komering Ulu (OKU), OKU Selatan, Muara Enim, Ogan Ilir, dan Lahat.
Kemudian, pada malam hingga dini hari, potensi hujan diprakirakan terjadi di wilayah Musi Rawas, Musi Rawas Utara, Musi Banyuasin, dan Penukal Abab Lematang Ilir (PALI). Namun, kondisi tersebut diperkirakan tidak berlangsung terus-menerus. Pada 27 September hingga 1 Oktober 2026, potensi hujan di Sumsel diprakirakan kembali berkurang dengan kondisi cuaca secara umum berawan hingga hujan ringan.
"Pastinya dengan adanya hujan mampu mengurangi dampak kekeringan dan karhutla, terlihat dengan penurunan jumlah hotspot," jelasnya.
Meski hujan mulai turun, masyarakat tetap diminta tidak lengah terhadap perubahan cuaca. BMKG mengingatkan potensi cuaca ekstrem dan bencana hidrometeorologi masih dapat terjadi ketika kondisi atmosfer berubah.
"Masyarakat juga diminta memantau prakiraan cuaca secara berkala, terutama sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan. Informasi prakiraan cuaca hingga tingkat desa/kelurahan dapat dipantau melalui situs resmi BMKG dan aplikasi InfoBMKG," kata Siswanto.
Pewarta: Ahmad Rafli Baiduri
Editor: Dolly Rosana
COPYRIGHT © ANTARA 2026