Balikpapan (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Balikpapan menyebut bahwa cuaca di kabupaten maupun kota di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) dalam beberapa hari ke depan masih didominasi panas meskipun ada peluang terjadi hujan ringan.
"Dominasi panas terjadi karena saat ini memang masih musim kemarau. Bahkan, saat ini Provinsi Kaltim menuju El Nino fase kuat dengan tingkat kekeringan tinggi," ujar Ketua Tim Data dan Informasi BMKG Stasiun Kelas I Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan Huda Abshor Mukhsinin, di Balikpapan, Senin.
Sejumlah kawasan yang hujan hari ini antara lain di Samarinda dan Balikpapan telah terjadi hujan ringan pagi tadi. Kemudian Kabupaten Berau diperkirakan hujan ringan pada pagi hingga pukul 20.00 Wita.
Di Kota Bontang hujan ringan terjadi pada pukul 14.00 Wita, Kabupaten Kutai Barat pada pukul 14.00-20.00 Wita, Kutai Kartanegara pada pukul 08.00-20.00 Wita, Kutai Timur pukul 11.00-20.00 Wita.
Kabupaten Paser diperkirakan hujan ringan pada pukul 17.00 Wita, Penajam Paser Utara pukul 08.00 Wita, dan Kabupaten Mahakam Ulu diperkirakan hujan ringan pada pukul 11.00 hingga 20.00 Wita.
Ia melanjutkan, faktor panas yang terjadi di Kaltim saat ini akibat dominasi musim timur atau Monsun Australia yang membawa sifat udara lebih kering. Namun, fase ini belum berada pada fase puncak, sehingga kewaspadaan harus terus ditingkatkan.
Untuk puncak El Nino lebih kering di Kaltim diperkirakan terjadi pada September hingga Oktober tahun ini, sehingga kemungkinan titik panas di bulan-bulan tersebut bisa lebih tinggi.
Mengingat musim panas yang lebih kering, maka langkah mitigasi mulai dari edukasi ke masyarakat tentang pencegahan hingga penanganan karhutla perlu diperkuat.
Edukasi dan pendekatan ke masyarakat merupakan hal mendesak, terutama edukasi dan ajakan tidak melakukan pembakaran saat membuka lahan baik pertanian maupun perkebunan, karena pembakaran yang dilakukan berpotensi membakar lahan lain saat terjadi angin kencang.
"Aktivitas lain seperti membakar sampah, atau pekerja di perkebunan maupun di hutan, saat merokok agar tidak membuang puntung rokok yang masih membara, karena hal ini bisa membakar daun kering yang berpotensi memicu karhutla. Ini memerlukan kesadaran tiap individu dan harus terus menerus diingatkan," katanya.
Pewarta: M.Ghofar
Editor : Rahmad
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.