BI Naikkan Imbal Hasil SRBI, Investasi Asing Mencapai Rp288,65 Triliun

calendar_today 22.07.2026 - person  - timer ~

Bagikan:

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) terus memperkuat upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui optimalisasi berbagai instrumen moneter salah satu langkah yang ditempuh adalah menaikkan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) guna meningkatkan daya tarik investasi portofolio asing.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan kebijakan tersebut telah mendorong peningkatan minat investor asing terhadap SRBI sekaligus menjadi bagian dari strategi BI dalam memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah.

“Kebijakan menaikkan suku bunga SRBI untuk menarik aliran masuk investasi portofolio asing dan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah,“ ujarnya dalam konferensi pers, Rabu, 22 Juli.

Berdasarkan data Bank Indonesia, kepemilikan SRBI oleh investor nonresiden meningkat dari Rp238,09 triliun pada 15 Juni 2026 menjadi Rp288,65 triliun per 20 Juli 2026 atau setara dengan 27,11 persen dari total outstanding SRBI.

Selain itu, Perry menyampaikan Bank Indonesia juga mengoptimalkan seluruh instrumen moneter dan memberikan insentif penurunan tingkat swap lindung nilai (hedging swap) sebesar 10 persen bagi investor asing guna semakin meningkatkan daya tarik masuknya investor asing serta mengkompensasi kewajiban yang selama ini ditanggung investor.

“Bank Indonesia juga memperluas instrumen operasi moneter valuta asing dengan instrumen spot dan swap dalam valuta offshore Chinese Renminbi (CNH) terhadap Rupiah sejalan dengan meluasnya penggunaan mata uang lokal (Local Currency Transaction, LCT) untuk penyelesaian transaksi perdagangan dan investasi,” ucapnya.

Disisi lain, Perry menyampaikan rupiah kembali menguat ke Rp17.885 per dolar AS pada 21 Juli 2026, setelah sempat melemah sejak akhir Juni 2026 akibat kembali meningkatnya konflik di Timur Tengah dan menguatnya ekspektasi pasar terhadap kenaikan FFR, dengan perkembangan tersebut, nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS relatif stabil dibandingkan dengan level akhir Juni 2026 sebesar Rp17.880.

BACA JUGA:


"Guna tetap menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, Bank Indonesia terus mengoptimalkan intervensi baik di pasar NDF luar negeri (off-shore) maupun transaksi spot dan DNDF di pasar dalam negeri," jelasnya.

Ke depan, Perry mengatakan BI akan terus memperluas pemberian insentif untuk tetap menarik aliran masuk modal asing dan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah.

"BI meyakini nilai tukar rupiah akan stabil dan cenderung menguat, didukung oleh komitmen BI melalui berbagai penguatan stabilisasi nilai tukar rupiah, imbal hasil yang menarik, dan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap baik," katanya.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+