BGN dan JICA kembangkan

calendar_today 25.09.2026 - person  - timer ~

BGN dan JICA kembangkan "shokuiku" perkaya pengalaman MBG

Jumat, 25 September 2026 19:58 WIB

Image Print

BGN dan JICA bekerja sama mengembangkan shokoiku untuk meningkatkan kualitas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sekaligus memperkaya pengalaman siswa akan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). ANTARA/HO-Kemendukbangga/BKKBN.

Jakarta (ANTARA) - Badan Gizi Nasional (BGN) bersama Japan International Cooperation Agency (JICA) mengembangkan gagasan shokuiku atau pendidikan makanan untuk memperkaya pengalaman siswa dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Pendekatan tersebut mengadaptasi pengalaman Jepang dalam mengintegrasikan pendidikan pangan dan gizi dengan penyelenggaraan makan sekolah. Di Jepang, shokuiku dikembangkan sebagai pendidikan pangan dan gizi yang tidak hanya berorientasi pada pengetahuan, tetapi juga pengalaman praktis siswa dalam mengenal makanan dan gizi.

Deputi Sistem dan Tata Kelola BGN Prima Yosephine Berliana Tumiur Hutapea di Jakarta pada Jumat mengatakan, pembelajaran dari Jepang dapat menjadi salah satu referensi untuk memperkaya pengalaman siswa dalam pelaksanaan MBG.

"Melalui kerja sama ini, kami melihat bagaimana pendekatan shokuiku dapat memperkaya pengalaman anak dalam mengikuti program makan di sekolah. Jadi, makanan bukan hanya diterima dan dikonsumsi, melainkan juga dapat menjadi bagian dari proses belajar mengenai pangan, gizi, serta pihak-pihak yang terlibat dalam penyediaannya," ujar Prima.

Dalam rancangan MBG-JICA Pilot, terdapat sejumlah area yang menjadi perhatian untuk dikaji, di antaranya pengurangan sampah dan sisa makanan, peningkatan proses pengiriman dan penyajian makanan, penguatan keterlibatan siswa dalam kegiatan makan di sekolah, serta pendidikan pangan dan gizi.

Pilot tersebut dirancang melalui dua komponen yang saling melengkapi, yakni shokkan trial di tingkat Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan kegiatan shokuiku di tingkat sekolah. Melalui shokkan trial, pembelajaran diarahkan pada pengalaman di tingkat penyediaan layanan makanan, sedangkan shokuiku activities di sekolah memberikan ruang untuk memperkuat pengalaman siswa dalam memahami makanan dan gizi.

Menurut Prima, kedua pendekatan tersebut dapat memberikan perspektif yang lebih menyeluruh karena menghubungkan proses penyediaan makanan dengan pengalaman siswa sebagai penerima manfaat.

"Kami ingin melihat keterhubungan antara apa yang terjadi di tingkat SPPG dengan pengalaman anak ketika menerima dan mengonsumsi makanan di sekolah. Dari sana, kita dapat mempelajari aspek mana yang dapat mendukung peningkatan kualitas layanan sekaligus memperkuat edukasi pangan dan gizi," kata Prima.

Pengembangan MBG-JICA Pilot juga memberikan ruang untuk mengkaji bagaimana penyelenggaraan makan sekolah dapat mendorong keterlibatan siswa. Aspek tersebut mencakup pengalaman siswa dalam kegiatan makan, pemahaman mengenai makanan yang dikonsumsi, serta kesadaran terhadap proses dan orang-orang yang berada di balik penyediaan makanan sekolah.

"Harapannya, pembelajaran dari Jepang dapat menjadi referensi untuk terus mengembangkan MBG sesuai dengan konteks Indonesia. Kita ingin memastikan bahwa pengalaman yang diperoleh siswa melalui MBG juga dapat memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai pangan dan gizi," tuturnya.

Pewarta : Lintang Budiyanti Prameswari
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026