Benarkah Sering Makan Telur Bikin Bisulan? Dokter Gizi Beberkan Faktanya

calendar_today 31.07.2026 - person  - timer ~

Jakarta -

Telur menjadi salah satu bahan pangan yang paling sering dikaitkan dengan berbagai mitos kesehatan. Salah satu anggapan yang masih banyak dipercaya hingga sekarang adalah terlalu sering makan telur dapat menyebabkan bisulan.

Mitos tersebut kembali menjadi perbincangan setelah Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, menceritakan pengalaman masa kecilnya terbiasa mengonsumsi telur sampai bisulan karena memelihara ayam di rumah.

Pernyataan tersebut kembali memunculkan pertanyaan yang sudah lama dipercaya di Indonesia. Benarkah telur dapat menyebabkan bisulan, atau hanya mitos yang terus diwariskan dari generasi ke generasi?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bisul Disebabkan Infeksi Bakteri, Bukan Telur

Dokter Spesialis Gizi Klinik, dr Igus Ulfa Yaze, Sp.GK, menegaskan bahwa anggapan makan telur menyebabkan bisul hanyalah mitos. Ia menjelaskan bahwa bisul merupakan infeksi pada folikel rambut yang disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus, bukan karena kandungan telur.

"Bisulan disebabkan karena adanya inflamasi di folikel rambut gara-gara Staphylococcus aureus, bukan gara-gara si telur," jelas dr Yaze.

Secara medis, bakteri tersebut dapat masuk melalui luka kecil atau pori-pori kulit, kemudian berkembang hingga menimbulkan benjolan merah yang terasa nyeri dan berisi nanah.

Risiko munculnya bisul dapat meningkat pada berbagai kondisi, seperti kebersihan kulit yang kurang terjaga, diabetes yang tidak terkontrol, daya tahan tubuh yang menurun, obesitas, hingga gesekan berulang pada kulit. Hingga saat ini, belum ada penelitian yang membuktikan bahwa konsumsi telur dapat secara langsung memicu terbentuknya bisul.

Alergi Telur Bisa Berbeda dengan Bisulan

Meski telur bukan penyebab bisul, dr Yaze menjelaskan ada kondisi yang sering membuat keduanya tampak saling berkaitan, yakni alergi telur.

"Mungkin pada saat dia bisulan, enggak sengaja habis makan telur. Atau dia sebenarnya alergi telur. Kebanyakan makan telur terus ternyata dia alergi. Jadi terjadilah urtikaria. Jadi dia pikir dengan makan telur menyebabkan bisulan. Sebenarnya enggak," ujar dr Yaze.

Pada sebagian individu, telur memang dapat memicu reaksi alergi. Respons yang muncul dapat berbeda-beda, mulai dari gatal pada kulit, ruam kemerahan, biduran atau urtikaria, pembengkakan pada bibir dan wajah, mual, muntah, diare, hingga sesak napas pada kasus yang berat.

Namun, kondisi tersebut berbeda dengan bisul.

Alergi merupakan respons sistem kekebalan tubuh terhadap protein tertentu di dalam telur, sedangkan bisul merupakan infeksi bakteri yang menyebabkan peradangan dan pembentukan nanah.

Meski demikian, reaksi alergi yang menimbulkan rasa gatal sering kali membuat kulit terus digaruk. Garukan berulang dapat menyebabkan lecet atau luka kecil pada permukaan kulit sehingga menjadi pintu masuk berbagai bakteri patogen, termasuk Staphylococcus aureus. Apabila bakteri berhasil menginfeksi area tersebut, barulah dapat terbentuk bisul.

Dengan kata lain, bisul yang muncul setelah mengonsumsi telur pada individu yang memang memiliki alergi bukan disebabkan oleh telur itu sendiri. Risiko infeksi meningkat karena kerusakan lapisan kulit akibat garukan, bukan karena kandungan telur.

Telur Justru Kaya Protein dan Berbagai Zat Gizi Penting

Terlepas dari mitos yang masih beredar, telur justru merupakan salah satu bahan pangan dengan kandungan gizi yang sangat lengkap.

Dalam Tabel Komposisi Pangan Indonesia (TKPI), satu butir telur ayam mengandung sekitar 6 hingga 7 gram protein berkualitas tinggi, sekitar 5 gram lemak, kolin, vitamin A, vitamin D, vitamin B12, riboflavin, selenium, fosfor, serta berbagai vitamin dan mineral lain yang dibutuhkan tubuh.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nutrients tahun 2023 juga menunjukkan bahwa protein telur memiliki nilai biologis yang tinggi sehingga sangat efisien dimanfaatkan tubuh untuk membentuk dan memperbaiki jaringan. Kandungan kolin di dalamnya berperan penting dalam perkembangan otak, fungsi saraf, serta metabolisme.

Menurut dr Yaze, konsumsi telur setiap hari juga aman bagi individu yang sehat.

"Orang sehat normal itu makan satu butir telur sehat-sehat aja, aman-aman aja. Bahkan dalam satu minggu 5 sampai 7 butir telur itu boleh," kata dr Yaze.

Konsumsi telur secara rutin juga dikaitkan dengan berbagai manfaat kesehatan, mulai dari membantu mempertahankan massa otot, meningkatkan rasa kenyang sehingga mendukung pengendalian berat badan, hingga membantu memenuhi kebutuhan protein harian.

Karena itu, tidak ada alasan untuk menghindari telur hanya karena khawatir mengalami bisulan, selama tidak memiliki alergi terhadap telur.

Punya pertanyaan seputar nutrisi, diet, dan berat badan? Kirim lewat tautan ini, dan akan dijawab langsung oleh dokter gizi!

Halaman 2 dari 3

(mal/kna)