Pernah tidur beberapa jam lalu mengandalkan secangkir kopi agar tetap bisa beraktivitas seperti biasa?
Kafein memang bisa membuat kita terjaga lebih lama. Tapi rasa kantuk berkurang, bukan berarti tubuh kita sudah mendapatkan manfaat yang sama seperti ketika tidur cukup. Kafein pada kopi ternyata hanya membantu meningkatkan kesiapan, tetapi tidak bisa menggantikan fungsi tidur bagi tubuh.
Oleh karena itu, kita harus memahami jangka waktu dan pentingnya tidur bagi tubuh kita agar kebutuhan istirahat tetap terpenuhi dan tidak hanya mengandalkan kafein untuk melawan rasa kantuk. Berikut penjelasannya, dilansir dari National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI, 18/9).
Kafein merupakan stimulan yang dapat meningkatkan kewaspadaan. Salah satu mekanismenya adalah menghambat kerja adenosin, atau senyawa yang berperan dalam munculnya rasa kantuk.
Karena itu, setelah minum kopi, seseorang bisa merasa lebih alert meskipun sebelumnya kurang tidur. Tetapi rasa kantuk yang tertahan tidak sama dengan kebutuhan tidur yang sudah terpenuhi. Dengan kata lain, kopi hanya bisa membuat kita merasa lebih terjaga, tetapi tubuh tetap membutuhkan tidur.
Kafein pada kopi tidak langsung serta-merta hilang dari tubuh. Jika dikonsumsi terlalu dekat dengan waktu tidur, kadar kafein justru dapat membuat seseorang lebih sulit tidur atau mengurangi kualitas tidurnya. Akibatnya, seseorang bisa tidur lebih sedikit pada malam berikutnya.
Situasinya kemudian dapat menjadi siklus. Dari kurang tidur, minum kopi, lebih terjaga, lalu sulit tidur, dan kembali kurang tidur. Meski begitu, bukan berarti setiap orang yang minum kopi pasti mengalami masalah tidur. Sensitivitas terhadap kafein berbeda-beda. Namun, waktu konsumsi tetap perlu diperhatikan, terutama bagi orang yang sensitif terhadap kafein.
Tidur bukan sekadar waktu untuk memejamkan mata dan beristirahat. Saat tidur, tubuh menjalankan berbagai proses yang penting bagi kesehatan, termasuk fungsi otak, konsentrasi, daya ingat, suasana hati, dan pemulihan tubuh. Ketika tidur berkurang, berbagai fungsi tersebut juga dapat ikut terdampak.
Lalu, berapa lama sebenarnya yang kita butuhkan untuk tidur? Untuk orang dewasa, rekomendasi umum menyebutkan setidaknya 7 jam tidur setiap malam secara rutin.
Jika seseorang hanya tidur empat atau lima jam lalu mengandalkan kopi untuk menjalani hari, tubuh tetap belum mendapatkan waktu tidur yang cukup. Akan tetapi, kita tidak perlu khawatir; kopi tetap bisa menjadi bagian dari rutinitas. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kita mengelola takaran jumlah, waktu konsumsi, dan alasan mengonsumsinya.
Kopi dan tidur memiliki fungsi yang berbeda. Kafein dapat membantu meningkatkan rasa alert dan membuat rasa kantuk berkurang untuk sementara. Di samping itu, tidur memberikan waktu bagi tubuh dan otak untuk menjalankan proses pemulihan.
Secangkir kopi setelah kurang tidur mungkin membuat kita merasa lebih siap, tetapi bukan berarti tubuh sudah mendapatkan manfaat yang sama seperti saat tidur. Oleh karena itu, untuk memenuhi kebutuhan istirahat yang cukup, kita memerlukan takaran tidur yang sesuai dan jumlah kafein yang pas agar tubuh kita tidak menjadikan kopi sebagai alat agar kita bisa bergerak.