Belum Diperlukan Regulasi, Pakar Kimia ITB Tegaskan Isu Bahaya BPA Galon Guna Ulang Belum Ada Bukti Klinisnya

calendar_today 16.07.2026 - person  - timer ~

Warta Ekonomi, Jakarta -

Isu bahaya kesehatan pada galon guna ulang berbahan polikarbonat dinilai sengaja dihembuskan tanpa dasar yang kuat. Pakar Kimia dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr. Handajaya Rusli, M.Si., menegaskan regulasi baru belum mendesak untuk diterapkan mengingat kekhawatiran masyarakat selama ini baru sebatas potensi teoritis dan sama sekali belum memiliki bukti klinis yang konkret. 

“Itu kan kalau yang diceritakan itu selama ini hanya menyebutkan potensinya bisa meningkat karena ini dan itu. Cuma, itu kan faktor yang dia tahu doang dari orang lain, tapi nggak ada yang pernah bisa buktikan sampai saat ini,” katanya.

Lebih lanjut, Dia menjelaskan bahwa pada dasarnya seluruh senyawa kimia pembentuk plastik memiliki sifat beracun. Oleh karena itu, pengawasan ketat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta pengujian mandiri oleh produsen sudah dilakukan sebelum kemasan plastik diizinkan beredar di pasar.

Ia pun mensinyalir bahwa mencuatnya isu bahaya BPA ini erat kaitannya dengan persaingan bisnis di industri air minum dalam kemasan (AMDK), terutama sejak munculnya galon alternatif berbahan Polietilena Tereftalat (PET) atau galon sekali pakai.

“Kadang-kadang isunya muncul kalau sudah ada gantinya. Kayak misalkan galon berbahan polikarbonat kan sudah ada gantinya yaitu galon PET. Jadi, seperti persaingan bisnis gitulah,” ucapnya. 

Menurutnya, galon plastik sekali pakai juga sering digunakan masyarakat secara berulang-ulang, padahal itu tidak diperbolehkan karena berbahaya juga bagi kesehatan. “Saya lihat kemasan galon sekali pakai itu juga digunakan berulang-ulang sama pedagang-pedagang itu sampai kuning,” tuturnya. 

Dia menegaskan bahwa para produsen menggunakan kemasan plastik itu karena mereka mau menyesuaikan dengan produk yang dijualnya. Misalnya, kalau mau menggunakan galon yang agak keras, produsen memang harus memilih plastik berbahan polikarbonat. Demikian juga kalau carinya yang elastis, biasanya yang digunakan itu yang plastik polietilena atau polipropilena, “Jadi, itu disesuaikan dengan jualannya saja,” tukasnya.

Sebelumnya, peneliti di Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan dan SEAFAST Center Institut Pertanian Bogor (IPB), Nugraha Edhi Suyatma juga menjelaskan keunggulan kemasan galon guna ulang berbahan Polikarbonat (PC) dibanding galon sekali pakai berbahan PET. “Dilihat dari sifat fungsionalnya, galon guna ulang lebih fleksibel sehingga lebih tahan dari risiko pecah atau retak,” tuturnya.

Galon guna ulang, kata dia, memiliki ketahanan gores dan benturan lebih baik dan suhu transisi gelas atau Tg yang lebih tinggi dibanding galon sekali pakai. Disebutkan, galon guna ulang memiliki Tg 150 derajat Celcius, sementara galon sekali pakai hanya 70 derajat Celcius. Semakin tinggi Tg, semakin tahan pada kondisi suhu tinggi.

“Kondisi ini membuat galon guna ulang tahan untuk dicuci dengan suhu panas antara 60-80 derajat Celcius dengan penyikatan menggunakan sikat plastik tanpa menyebabkan kerusakan pada permukaan kemasan," ungkapnya.

Dilihat dari data absorpsi air, menunjukkan bahwa penyerapan galon guna ulang lebih rendah dibanding galon sekali pakai. "Sehingga, dapat dikatakan bahwa galon guna ulang lebih tahan terhadap air dibandingkan galon sekali pakai," katanya.

Baru-baru ini, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Taruna Ikrar juga sudah menegaskan bahwa kemasan galon guna ulang yang saat ini beredar di masyarakat aman untuk dipakai. Ditegaskan, BPOM terus mengawasi dengan ketat standar keamanan kemasan pangan produsen air minum dalam kemasan (AMDK). "Ya tentu aman, yang sudah (berijin) Badan POM-nya sudah pasti aman. Karena kan salah satu persyaratan Badan POM mengeluarkan kalau kemasan itu sudah punya SNI kan. Jadi semua kemasan yang ber-SNI itu aman," katanya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.