Presiden Direktur Asuransi Astra Maximiliaan Agatisianus menjelaskan prinsip tersebut dengan pendekatan probabilitas. Menurut dia, risiko memiliki unsur ketidakpastian yang membedakannya dari sebuah kejadian yang sudah pasti.
“Risiko itu probabilitasnya antara 0 dan 1. Kalau probabilitasnya sudah 1, itu sudah certainty, bukan risk," ujar Maxi dalam Media Conference Asuransi Astra pekan lalu.
Dari logika tersebut, bisa dipahami mengapa seseorang tidak bisa menunggu sampai sebuah kerugian hampir pasti terjadi, kemudian baru membeli asuransi dan mengharapkan kejadian tersebut ditanggung.
Baca Juga: Asuransi Astra Bidik 80 Persen Klaim Diproses Tanpa Manusia, AI Dipakai untuk Deteksi Fraud
Baca Juga: Cermati Protect Komitmen Hadirkan Pembelian Asuransi Mobil dengan Praktis dan Mudah
Hal pertama yang perlu dibedakan adalah risiko dan kejadian.
Risiko merupakan kemungkinan bahwa sesuatu akan terjadi. Seseorang yang hendak bepergian, misalnya, menghadapi kemungkinan penerbangan terlambat, perjalanan dibatalkan, mengalami kecelakaan, atau sakit di tempat tujuan.
Selama kejadian tersebut belum terjadi dan masih terdapat ketidakpastian, terdapat risiko yang dapat menjadi objek perlindungan asuransi sesuai ketentuan polis.
Situasinya berbeda ketika kejadian sudah berlangsung.
Jika penerbangan sudah dibatalkan sebelum seseorang membeli asuransi perjalanan, misalnya, pembatalan tersebut bukan lagi sebuah kemungkinan. Penumpang sudah mengetahui bahwa penerbangannya batal.
Begitu pula dengan gunung yang sudah mengalami erupsi. Sebelum erupsi, letusan merupakan salah satu kemungkinan. Setelah erupsi terjadi dan dampaknya sudah diketahui, situasinya berubah menjadi kejadian nyata.
Di sinilah prinsip dasar asuransi bekerja: perlindungan diberikan atas ketidakpastian, bukan atas hasil yang sudah diketahui.
=====
Bayangkan seseorang hendak berangkat berlibur ke sebuah daerah yang memiliki gunung api aktif.
Gunung tersebut belum meletus. Ada kemungkinan aktivitas vulkanik meningkat, tetapi belum ada kepastian bahwa perjalanan akan terganggu.
Kondisi tersebut masih mengandung risiko.
Sekarang ubah situasinya. Gunung sudah meletus, penerbangan mulai dibatalkan, akses menuju destinasi ditutup, dan dampaknya terhadap perjalanan sudah diketahui.
Pada titik tersebut, seseorang yang baru membeli asuransi tidak sedang membeli perlindungan terhadap sesuatu yang masih belum diketahui. Ia sudah mengetahui adanya kejadian yang dapat menyebabkan kerugian.
Perbedaan ini menjadi penting karena asuransi bukan sekadar mekanisme untuk mengganti uang yang hilang. Asuransi merupakan mekanisme pengelolaan risiko yang bekerja dengan menghimpun premi dari banyak pihak untuk memberikan perlindungan ketika sebagian dari risiko tersebut benar-benar terjadi.
Jika seseorang bisa membeli perlindungan setelah mengetahui bahwa dirinya pasti mengalami kerugian, keseimbangan mekanisme tersebut akan terganggu.
Penjelasan tentang probabilitas sebenarnya membantu menggambarkan cara kerja risiko secara sederhana.
Jika sebuah peristiwa memiliki kemungkinan terjadi, tetapi belum diketahui apakah akan benar-benar terjadi, masih terdapat ketidakpastian.
Misalnya, peluang sebuah penerbangan mengalami keterlambatan masih terbuka. Pesawat bisa berangkat tepat waktu, tetapi juga bisa terlambat karena cuaca, masalah teknis, atau faktor lain yang tercakup dalam polis.
Kondisinya berubah ketika penerbangan sudah dinyatakan batal.
Tidak ada lagi pertanyaan apakah penerbangan akan batal. Keputusan tersebut sudah terjadi.
Itulah yang dimaksud dengan pergeseran dari risk menjadi certainty.
Konsep tersebut juga menjelaskan mengapa waktu pembelian asuransi menjadi penting. Perlindungan tidak hanya berkaitan dengan apa yang terjadi, tetapi juga kapan polis dibeli dibandingkan dengan kapan risiko tersebut diketahui atau terjadi.
Bayangkan seseorang mengetahui bahwa penerbangannya sudah dibatalkan. Setelah mendapatkan informasi tersebut, ia baru membeli asuransi perjalanan dengan harapan biaya pembatalan akan diganti.
Secara sederhana, masalahnya adalah hasil akhirnya sudah diketahui.
Kondisi ini berbeda dengan membeli asuransi ketika perjalanan masih memiliki kemungkinan berjalan normal ataupun terganggu.
Jika mekanisme seperti itu diperbolehkan secara bebas, seseorang hanya perlu membeli asuransi ketika mengetahui dirinya akan mengalami kerugian. Sementara orang yang tidak mengalami kerugian tetap membayar premi tanpa mengajukan klaim.
Model tersebut membuat perusahaan asuransi menerima risiko yang hasil akhirnya sudah diketahui, bukan ketidakpastian yang menjadi dasar pengelolaan risiko.
Dengan kata lain, asuransi tidak dirancang sebagai cara untuk membeli kompensasi setelah kerugian terjadi.
=====
Prinsip tersebut dapat dilihat dalam produk asuransi perjalanan seperti Garda Trip.
Asuransi perjalanan pada dasarnya dapat memberikan perlindungan atas berbagai risiko selama perjalanan, termasuk manfaat yang berkaitan dengan keterlambatan atau pembatalan perjalanan maupun biaya medis, tergantung pada manfaat yang tercantum dalam polis.
Persoalannya muncul ketika kejadian yang menyebabkan pembatalan atau keterlambatan sudah diketahui sebelum perlindungan dibeli.
Maximiliaan menjelaskan bahwa apabila sebuah peristiwa sudah terjadi, peristiwa tersebut tidak lagi berada dalam wilayah ketidakpastian yang sama seperti ketika polis dibeli sebelum kejadian.
Logika tersebut bukan berarti setiap manfaat asuransi otomatis hilang ketika terjadi sebuah bencana.
Misalnya, seseorang sudah berada di destinasi dan kemudian sakit atau mengalami cedera. Biaya medis yang timbul merupakan risiko yang berbeda dari pembatalan perjalanan akibat bencana yang sudah diketahui sebelumnya.
Karena itu, pembaca perlu membedakan jenis manfaat dan jenis risiko. Perlindungan terhadap satu risiko tidak otomatis berarti seluruh kerugian yang berkaitan dengan sebuah peristiwa akan ditanggung.
Pada akhirnya, cakupan tetap bergantung pada ketentuan polis.
Situasinya berbeda apabila perlindungan sudah dibeli ketika peristiwa tersebut masih berupa risiko.
Misalnya, seseorang membeli asuransi perjalanan ketika belum ada kejadian yang menyebabkan perjalanannya terganggu. Beberapa waktu kemudian, terjadi peristiwa yang memenuhi ketentuan perlindungan dalam polis.
Dalam kondisi seperti itu, kejadian tersebut merupakan realisasi dari risiko yang sebelumnya masih belum pasti.
Itulah salah satu alasan mengapa waktu pembelian menjadi bagian penting dalam asuransi.
Meski begitu, bukan berarti setiap kejadian setelah polis dibeli otomatis mendapatkan penggantian. Penyebab kejadian, manfaat yang dipilih, masa berlaku, pengecualian, serta syarat lain dalam polis tetap menentukan apakah suatu klaim dapat dibayarkan.
Logika yang sama juga dapat dilihat dari contoh risiko perang.
Maximiliaan menyinggung kondisi ketika terjadi krisis di Selat Hormuz. Ketika risiko konflik meningkat, perlindungan terhadap risiko perang menjadi jauh lebih mahal.
Menurut dia, untuk risiko perang setelah konflik mulai terjadi, kenaikan tarif dapat mencapai 10 kali lipat.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa risiko bukan sesuatu yang memiliki harga tetap.
Semakin besar kemungkinan terjadinya sebuah kerugian, semakin kompleks pula perhitungan perusahaan asuransi dalam menentukan harga dan syarat perlindungannya.
Namun, ada perbedaan antara risiko yang meningkat dan kejadian yang sudah menjadi kepastian.
Ketika kemungkinan terjadinya suatu peristiwa meningkat, risiko masih dapat dihitung dan dinilai. Ketika peristiwa tersebut sudah terjadi, persoalannya berubah karena ketidakpastian atas kejadian tersebut sudah hilang.