Jakarta (ANTARA) - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memilih saham dengan tingkat likuiditas tinggi untuk penerapan transaksi short selling guna memitigasi risiko manipulasi harga dan transaksi oleh pihak tertentu.
Direktur Pengembangan BEI Iding Pardi menyampaikan pemilihan saham likuid menjadi salah satu strategi untuk mencegah praktik trading manipulation maupun cornering yang berpotensi menggerakkan harga saham oleh segelintir pihak.
"Yang penting adalah ketika ada short selling itu jangan sampai terjadi trading manipulation, cornering gitu ya, yang menggerakkan harga pasar oleh segelintir orang. Sebenarnya itu. Makanya kita pilih saham-saham yang likuid. Sehingga tidak mudah digerakkan oleh para pihak tertentu," kata Iding di Jakarta, Jumat.
Menurut dia, penerapan short selling juga dilengkapi sejumlah ketentuan, antara lain transaksi harus dilakukan pada harga yang berlaku saat itu atau di atasnya. Bursa juga memiliki parameter tertentu untuk menghentikan sementara transaksi.
Baca juga: BEI ungkap 92 AB siap penerapan saham Rp1 pada 28 September, sisa 1 AB
Iding menjelaskan implementasi short selling dilakukan secara terbatas pada tahap awal karena bursa perlu melihat dampaknya terhadap pasar sekaligus memberikan waktu bagi investor untuk menyesuaikan diri dengan instrumen tersebut.
"Karena ini baru, dan kita juga ingin melihat bagaimana dampaknya terhadap market, kemudian investor juga menyesuaikan diri dulu, kita akan mengimplementasikan secara terbatas. Gitu. Jadi sahamnya terbatas, kemudian kriteria Anggota Bursa (AB)-nya juga ada kriterianya, bahkan investornya juga ada kriterianya," ujarnya.
Ia menyebut saham yang menjadi kandidat tahap awal berasal dari kelompok LQ45 karena dinilai memiliki likuiditas yang memadai. Meski demikian, lima saham yang akan digunakan masih dalam proses analisis.
"Per sektor itu kita lihat yang saham paling liquid, itu yang kemudian kita jadikan untuk list saham short selling. Nanti akan bertambah sekarang lima dulu, itu yang akan mewakili sektor-sektor tertentu jadi sektornya berbeda-beda," kata dia.
Pewarta: Ahmad Muzdaffar Fauzan
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.