Jakarta (ANTARA) - Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk memperluas dampak pengelolaan zakat bagi masyarakat.
Ketua Baznas RI Sodik Mudjahid dalam keterangan di Jakarta, Kamis mengatakan potensi zakat nasional yang mencapai Rp327 triliun perlu diikuti dengan penguatan realisasi penghimpunan dan penyaluran agar dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat, khususnya dalam mendukung pengentasan kemiskinan.
"Jangan hanya terus kita bermimpi potensi, potensi, potensi, tapi kita kurang realisasi, sehingga yang harus kita terus tingkatkan adalah profesionalisme kita agar potensi ini jadi realisasi," katanya.
Sodik memaparkan Baznas RI mengusung tiga arah strategis dalam mengoptimalkan pengelolaan dana zakat, infak, sedekah, dan dana sosial keagamaan lainnya (ZIS-DSKL) nasional, yakni perluasan basis muzaki melalui Expand, penguatan transparansi dan profesionalitas lembaga melalui Trust, serta pembangunan sinergi berkelanjutan melalui Collaborate.
Baca juga: Baznas RI lakukan monev guna pastikan beasiswa berdampak optimal
Kolaborasi tersebut, lanjut dia, perlu dibangun bersama berbagai pihak, mulai dari pemerintah, lembaga amil zakat (LAZ), dunia usaha, hingga akademisi. Sinergi lintas sektor diharapkan dapat memperkuat kualitas program dan memastikan penyaluran dana zakat memberikan dampak yang lebih luas bagi pengentasan kemiskinan.
Sementara itu, Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kemenag RI Waryono Abdul Ghafur mengatakan pengelola zakat nasional perlu melakukan pergeseran paradigma dari sekadar mengejar target penghimpunan menuju pemberdayaan mustahik agar mampu mandiri.
Menurut dia, perubahan tersebut penting agar pengelolaan dana ZIS dan wakaf tidak berhenti pada pemberian bantuan karitatif jangka pendek, tetapi turut memperkuat kapasitas sumber daya manusia dan penguasaan teknologi sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
"Hari ini ukuran keberhasilan lembaga zakat termasuk Baznas tidak lagi sekadar seberapa banyak pengumpulan yang diperoleh, tetapi bagaimana ada shifting paradigm dari pengumpulan menjadi bagaimana menjadikan mustahik berdaya dan mandiri," ucap Waryono Abdul Ghafur.
Baca juga: Mustahik pengusaha tempe di Demak kini sukses setelah dibina Baznas
Baca juga: Baznas RI raih Penghargaan Lembaga Pemberdaya dari HPDKI
Pewarta: Sean Filo Muhamad
Editor: Nurul Hayat
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.