Gorontalo (ANTARA) - Anggota Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo Zulfikar A Uba memberi pemahaman tentang bahaya politik uang kepada siswa di daerah itu.
"Kami mengajak siswa-siswi di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Asparaga, untuk memahami bahaya politik uang dan turut menyampaikan pesan pencegahan kepada lingkungan sekitar," kata Zulfikar di Gorontalo, Jumat.
Menurutnya generasi muda dapat mengambil peran dalam membangun kesadaran masyarakat agar tidak menentukan pilihan politik karena imbalan.
"Jangan sampai pilihan kita ditentukan karena uang. Pilihlah pemimpin berdasarkan visi, misi, integritas dan kemampuan untuk menjalankan amanah,” katanya dalam konsolidasi demokrasi yang dilakukan di wilayah Asparaga.
Zulfikar menjelaskan pengawasan pemilu tidak hanya menjadi tanggung jawab penyelenggara, tetapi juga membutuhkan keterlibatan masyarakat.
Generasi muda dapat mengambil peran dengan memahami berbagai potensi pelanggaran serta ikut menyampaikan edukasi kepada lingkungan sekitarnya.
Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah praktik politik uang.
Ia mengatakan pemberian uang atau imbalan kepada pemilih untuk mempengaruhi pilihan politik merupakan tindakan yang dapat mencederai demokrasi.
Ia kemudian mendorong para siswa untuk menyampaikan pesan tentang bahaya politik uang kepada orang tua, teman, keluarga dan masyarakat di lingkungan sekitar.
Edukasi yang dilakukan secara berantai dapat menjadi bagian penting dalam mencegah praktik politik uang.
“Pesan tentang bahaya politik uang ini bisa disampaikan kepada orang tua, teman, keluarga, dan masyarakat di sekitar. Kalau dilakukan bersama-sama, edukasi ini bisa menjadi bagian dari pencegahan,” katanya.
Zulfikar menilai keterlibatan generasi muda dalam menyebarkan edukasi demokrasi menjadi bagian dari pengawasan partisipatif.
Semakin banyak masyarakat yang memahami bahaya politik uang, kesadaran untuk menjaga pilihan politik secara bebas dan bertanggung jawab diharapkan semakin kuat.
Pewarta: Susanti Sako
Editor : Debby H. Mano
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.