Batik dan Rotan Solo Bersiap Cari Buyer Baru di TEI 2026

calendar_today 05.09.2026 - person  - timer ~

Salah satu yang menjadi perhatian adalah Reka Design di Desa Trangsan, Sukoharjo. Sentra tersebut dikenal sebagai Desa Devisa Rotan karena produk kerajinan rotannya telah menembus pasar Eropa dan Amerika Serikat.

Roro mengatakan keberhasilan ekspor Reka Design tidak hanya diukur dari nilai transaksi. Menurutnya, aktivitas produksi yang melibatkan ratusan perajin juga memberikan dampak terhadap ekonomi masyarakat sekitar.

"Kami melihat Reka Design dan UMKM di Desa Devisa Rotan ini benar-benar menghadirkan efek pengganda yang positif," kata Roro dalam keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu (5/9/2026).

Dirinya menjelaskan, aktivitas usaha tersebut melibatkan ratusan perajin yang tersebar di Desa Trangsan. Selain membuka lapangan pekerjaan, kegiatan produksi juga menciptakan permintaan terhadap bahan baku rotan.

"Dari segi desain, UMKM di sini juga inovatif dan memiliki daya saing tinggi yang siap memenuhi standar pasar mancanegara," ujarnya.

Menurut Roro, pengembangan industri rotan untuk pasar ekspor juga membutuhkan keberlanjutan dari sisi sumber daya manusia dan bahan baku.

Regenerasi keahlian perajin menjadi salah satu hal yang dinilai penting agar keterampilan yang selama ini berkembang di sentra rotan tetap bertahan. Di sisi lain, rantai pasok bahan baku perlu dijaga agar pelaku usaha dapat memenuhi kebutuhan produksi secara berkelanjutan.

"Produk rotan Indonesia dinilai telah memiliki ciri khas yang kuat di pasar global, sehingga ketersediaan bahan baku antarwilayah harus saling menyokong demi menjaga reputasi dan keberlanjutan ekspor nasional," kata Roro.

Persoalan tersebut menjadi penting ketika pelaku UMKM mulai memperluas pasar ke luar negeri. Permintaan dari buyer internasional tidak hanya membutuhkan desain yang sesuai selera pasar, tetapi juga kemampuan memenuhi volume, kualitas dan kontinuitas pasokan.

Karena itu, Kemendag mendorong pelaku usaha memanfaatkan berbagai fasilitas pendampingan, termasuk pengembangan desain melalui Indonesia Design Development Center (IDDC).

Pemilik Reka Design, Suryanto, mengatakan pihaknya optimistis keikutsertaan bersama HIPMI Surakarta dalam TEI 2026 dapat membuka pasar ekspor yang lebih luas.

"Kami optimistis keikutsertaan di TEI 2026 dapat efektif memperluas pasar ekspor dan membuat popularitas produk rotan semakin meningkat sehingga diperhitungkan buyer internasional," kata Suryanto.

Roro juga menyatakan ketertarikannya memanfaatkan pendampingan Kemendag, salah satunya melalui IDDC, untuk mengembangkan desain produk.

Selain sentra rotan, Roro mengunjungi Kampung Batik Laweyan dan Kampung Batik Kauman di Surakarta.

Kedua kawasan tersebut selama ini menjadi sentra industri batik dengan sejarah panjang. Namun, pelaku usaha kini dituntut untuk menjaga produk tradisional tetap relevan di tengah perubahan selera konsumen.

Sejumlah UMKM batik di Laweyan dan Kauman bahkan telah mengikuti TEI dan menjalin kemitraan dagang dengan buyer dari Asia Tenggara, Jepang hingga Eropa.

"Keikutsertaan para perajin batik Surakarta di ajang TEI membuktikan bahwa warisan budaya lokal dapat ditransformasikan menjadi komoditas ekspor bernilai tinggi," kata Roro.

Roro menegaskan Kemendag ingin menjaga keberlanjutan partisipasi pelaku UMKM tersebut dalam TEI sehingga akses mereka terhadap pasar ekspor semakin luas.

Upaya memperluas pasar juga dilakukan pelaku usaha melalui inovasi produk. Salah satunya Toko Sudagaran Laweyan yang tidak hanya mempertahankan batik tulis premium dengan corak khas Surakarta, tetapi juga menyiapkan jenama baru untuk menyasar konsumen muda.

Pemilik Toko Sudagaran Laweyan, Hapsari Chandra Dewi, mengatakan jenama tersebut akan menggunakan pendekatan desain yang lebih kasual.

"Kami membuat jenama kedua, yaitu Kultur Jawa yang menargetkan pembeli muda dengan selera warna-warna lebih cerah dan dengan model pakaian yang lebih kasual," kata Hapsari.

Menurut Roro, strategi tersebut dilakukan agar batik tetap dapat diterima oleh konsumen dari berbagai kelompok usia. "Ini adalah cara kami untuk tetap memopulerkan batik agar terus diterima dan dicintai segala kalangan," ujarnya.

Kemendag akan menggunakan TEI 2026 sebagai salah satu pintu bagi UMKM daerah untuk bertemu langsung dengan calon pembeli dari luar negeri.

Pada TEI 2025, pameran tersebut mencatat kehadiran 8.045 buyer dari berbagai negara. Angka tersebut menjadi salah satu alasan Kemendag terus mendorong pelaku usaha daerah memanfaatkan TEI sebagai sarana memperluas jaringan bisnis.

"Pada gelaran TEI 2025 lalu, pameran ini berhasil mencatatkan kehadiran hingga 8.045 buyer dari berbagai negara," kata Roro.

"Hal ini membuktikan peran strategis TEI sebagai pameran dagang terbesar Indonesia dalam mendongkrak angka ekspor Indonesia. Kemendag akan mengupayakan capaian tahun ini pun dapat membanggakan," lanjutnya.

Untuk mempertemukan pelaku UMKM dengan buyer, Kemendag akan mengoptimalkan peran perwakilan perdagangan Indonesia di luar negeri, termasuk Atase Perdagangan dan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC).

Fasilitasi tersebut akan dilakukan melalui berbagai agenda bisnis, seperti business matching dan business pitching. "Kami sangat mendorong pelaku usaha memanfaatkan berbagai forum bisnis yang dilaksanakan dalam rangkaian TEI 2026," ujar Roro.

Dia menekankan keberhasilan partisipasi UMKM di TEI tidak semata-mata dilihat dari nilai transaksi yang tercatat selama pameran.

"Tujuan akhir dari seluruh rangkaian pendampingan dan partisipasi pameran ini bukan semata mencetak angka transaksi bisnis, melainkan untuk memastikan dampak ekonominya dirasakan langsung oleh masyarakat daerah serta mendorong kesejahteraan para perajin lokal secara luas," katanya.

Pemerintah Kota Surakarta juga menyiapkan pelaku usaha lokal untuk ambil bagian dalam TEI 2026.

Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani mengatakan, terdapat delapan UMKM dari Surakarta yang akan berpartisipasi dalam ajang tersebut. Produk yang dibawa mayoritas merupakan batik.

"Ada delapan UMKM dari Surakarta yang akan berpartisipasi di TEI 2026," kata Astrid.

Dia mengatakan keikutsertaan tersebut sekaligus menjadi upaya pemerintah daerah memperkenalkan produk yang memiliki basis budaya lokal kepada pasar yang lebih luas.

"Produk yang akan ditampilkan di TEI 2026 didominasi oleh batik karena kami ingin fokus pada pelestarian batik, khususnya untuk memperlihatkan bahwa batik tulis terus kami kembangkan dengan serius," ujarnya.

Menurut Astrid, TEI memberikan ruang bagi pemerintah daerah dan pelaku usaha untuk memperkenalkan produk lokal kepada calon pembeli internasional.

"TEI merupakan dukungan yang luar biasa dari Kemendag bagi kami di pemerintah daerah untuk mengenalkan dan mengangkat citra produk yang berbasis kultur asli setempat," katanya.

Dengan demikian, persiapan menuju TEI 2026 tidak hanya menyangkut keikutsertaan dalam pameran.

Bagi UMKM batik dan rotan di Solo-Sukoharjo, ajang tersebut menjadi kesempatan untuk menguji daya saing produk, mencari buyer baru, memperluas pasar ekspor sekaligus mempertahankan keberlanjutan industri berbasis keterampilan lokal.