Rabu, 2 September 2026 12:52 WIB
Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono. ANTARA/Sumarwoto
Purwokerto (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah menyiapkan pembangunan tandon dan sumur bor sebagai upaya jangka panjang mengatasi kekeringan yang setiap tahun melanda sejumlah wilayah di daerah itu.
Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono di Pendopo Si Panji, Purwokerto, Banyumas, Rabu, mengatakan pembangunan infrastruktur penyediaan air diperlukan agar penanganan kekeringan tidak hanya mengandalkan distribusi air bersih kepada masyarakat terdampak.
“Harusnya dibikinkan tandon di situ. Kita bikin embung sudah banyak,” katanya menegaskan.
Ia mengatakan di Banyumas sebenarnya terdapat dua wilayah dengan cakupan cukup luas yang memiliki potensi sumber air, baik berupa mata air maupun air bawah tanah.
Menurut dia, potensi tersebut akan dikembangkan untuk menyediakan sumber air bagi masyarakat.
Bahkan, kata dia, Menteri Pertanian Amran Sulaiman sedianya akan meninjau dua wilayah tersebut pada Kamis (3/9) untuk melihat potensi pengembangan sumber air itu, namun rencana kunjungan tersebut batal karena Mentan memiliki agenda lain.
“Semestinya besok (3/9) Pak Amran ke sini. Saya sudah minta, beliau akan meninjau dua wilayah yang cakupannya luas, tetapi punya kandungan air, entah itu mata air atau air bawah tanah, akan dibangunkan,” katanya menegaskan.
Selain tandon dan embung, kata dia, pembangunan sumur bor menjadi salah satu upaya untuk memperkuat ketersediaan air di daerah rawan kekeringan.
Ia mengatakan Banyumas sebelumnya banyak mendapat bantuan pembangunan sumur bor dari TNI.
Akan tetapi, realisasi pembangunan sumur bor melalui anggaran pemerintah tahun ini mengalami penurunan karena keterbatasan anggaran.
“Tahun ini realisasi sumur bor turun karena tidak ada uangnya. Tapi bantuan dari TNI banyak,” katanya.
Ia mengatakan wilayah sekitar Kecamatan Lumbir sebagai salah satu daerah yang rutin mengalami kekeringan setiap musim kemarau.
Demikianlah pula dengan sejumlah wilayah di Kecamatan Sumpiuh sering menghadapi persoalan kekurangan air, meskipun pada musim hujan beberapa wilayah tersebut berpotensi mengalami banjir.
“Untuk penanganan saat ini, Pemkab Banyumas masih melakukan distribusi air bersih melalui BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) dan Perumdam Tirta Satria serta mendapat dukungan sejumlah organisasi masyarakat,” katanya.
Ia mengatakan distribusi air menjadi langkah cepat untuk memenuhi kebutuhan warga selama kekeringan, sedangkan pembangunan tandon, embung, sumur bor, dan pemanfaatan mata air diarahkan sebagai solusi jangka panjang.
Menurut dia, pengembangan sarana penyediaan air juga dapat dilakukan melalui program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) di wilayah yang membutuhkan.
“Kalau di situ ada mata air, itu juga mulai bertahap kita bikin tandon,” kata Bupati.
Berdasarkan data BPBD Kabupaten Banyumas, hingga Selasa (1/9) tercatat sebanyak 50 desa/kelurahan di 19 kecamatan serta 10 fasilitas umum terdampak kekeringan pada musim kemarau 2026.
Terkait dengan hal itu, BPBD Banyumas telah menyalurkan bantuan air bersih sebanyak 2.545.000 liter yang terbagi dalam 513 ritase pengiriman bagi 12.805 keluarga yang terdiri atas 44.545 jiwa di wilayah terdampak kekeringan.
Selain menyalurkan bantuan air bersih, BPBD Banyumas bersama sejumlah pihak juga menangani kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di beberapa wilayah dengan total luasan yang terbakar mencapai 23,868 hektare.
Baca juga: BPBD Banyumas salurkan air bersih ke 39 desa
Pewarta: Sumarwoto
Editor:
Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.