Bank Sentral China Borong 20 Ton Emas pada Juli 2026

calendar_today 09.08.2026 - person  - timer ~

Liputan6.com, Jakarta - People’s Bank of China (PBOC) atau Bank Sentral China telah membeli emas selama 21 bulan berturut-turut. Berdasarkan data cadangan terbaru bank sentral, PBOC telah membeli 20 ton emas pada Juli 2026, kenaikan bulanan terbesar sejak Oktober 2023.

Mengutip Kitco, Minggu, (9/8/2026), sejak Maret, bank sentral itu telah meningkatkan laju pembelian bulannya.

"Hal ini meningkatkan penambahan bersih sejak awal tahun (YTD) menjadi 60 ton, dan total kepemilikan emas menjadi 2.366 ton," tutur Analis Senior wilayah EMEA di World Gold Council (WGC), Krishan Gopaul, dalam sebuah unggahan media sosial jelang akhir pekan ini.

China meski terus mendominasi pasar, Gopaul mencatat negara tersebut bukan satu-satunya bank sentral yang meningkatkan cadangan resminya. Dalam komentarnya di media sosial, ia menyebutkan Bank Nasional Ceko meningkatkan cadangannya sebesar 1,7 ton pada bulan lalu. Ia menambahkan, bank sentral tersebut kini semakin dekat dengan target kepemilikan 100 ton.

"Total pembelian bersih sejak awal tahun mencapai 12 ton, dengan kepemilikan emas kini mencapai 84 ton," kata dia.

Gopaul juga menyebutkan, Bank Nasional Kazakhstan meningkatkan cadangannya lebih dari 1 ton pada bulan lalu. Para analis menyatakan, permintaan dari bank sentral telah menjadi faktor kunci yang memungkinkan emas mempertahankan level support kritis di atas US$ 4.000 per ons.

Dalam sebuah catatan yang diterbitkan pada akhir Juli, analis komoditas di BMO Capital Markets memperkirakan meningkatnya permintaan dari China akan menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga emas pada paruh kedua tahun ini. Mereka menambahkan, sebagian besar cadangan emas China yang terus bertambah tersebut tidak dilaporkan secara resmi.

"Analisis terbaru kami menunjukkan bahwa China telah mengakumulasi sekitar 30.000 ton emas yang sudah ditambang (di atas tanah), jumlah yang lebih tinggi dibandingkan data resmi dan kini mendorong sekitar sepertiga dari arus permintaan global," ungkap para analis tersebut.