Denpasar (ANTARA) - Sekolah Dasar Negeri 5 Pedungan, Denpasar, mengenalkan program bank sampah sekolah yang secara produktif dijalankan para siswa kepada Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq.
"Kami di SDN 5 Pedungan, nama program bank sampah adalah program Bank Sampah Gema Pelita, jadi program bank sampah ini memang rutin dilaksanakan dua minggu sekali, paling lama minimal sekali sebulan," kata Kepala SDN 5 Pedungan Ni Made Suciningsih di Denpasar, Bali, Kamis.
Suciningsih menjelaskan, kegiatan penimbangan dan pengelolaan sampah sekolah digerakkan oleh kader siswa kelas 6 yang dinamai Gema Gempita Ranger.
Sementara nasabahnya merupakan seluruh siswa dari kelas 1 hingga kelas 6.
Para siswa mengumpulkan sampah berupa plastik, kertas, hingga botol yang berasal dari sekolah maupun rumah, pihak sekolah juga mengedukasi orang tua wali agar berkolaborasi dengan mengumpulkan sampah yang bisa diterima bank sampah dari rumah.
"Dilihat dari volume sampah dan semangatnya datang ke sekolah sangat antusias, karena mungkin ada hadiah yang diberikan oleh sekolah, hadiahnya baik berupa tabungan yang bisa diambil di kelas 6 saat tamat, dan hadiah dari sekolah ketika kenaikan kelas kami mencari siswa yang terbanyak memiliki tabungan sampah dapat hadiah," ujar Suciningsih.
Ia menyampaikan program ini sendiri telah berjalan sejak 2018 dan berdampak signifikan pada kebersihan sekolah.
Dari catatan Kepala SDN 5 Pedungan itu, pengurangan sampah per hari di sekolah mencapai hampir 70 persen hingga 90 persen.
"Apalagi untuk botol-botol minuman itu kan anak-anak bawa tumbler, di sekolah juga sudah sediakan dispenser, itu kan mengurangi sampah-sampah air kemasan, anak-anak kalau belanja ke kantin sudah bawa kotak bekal, piring, dan gelas plastik yang memang sudah bisa dipakai berkali-kali," tuturnya.
Kepada Wamenko Pangan, dijelaskan pula di sekolah tersebut sampah yang terkumpul rutin disalurkan kepada pihak ketiga, yakni Bali Wastu Lestari, sementara untuk sampah organik pihak sekolah mengelola sendiri untuk dijadikan eco enzym bagi kebun sekolah.
Terkait nominal tabungan, harga sampah disesuaikan dengan standar vendor se-Denpasar, dimana nilai per kilogramnya bervariasi mulai dari Rp100, Rp200, hingga puluhan ribu rupiah untuk jenis aluminium dan botol plastik.
"Tadi ada Pak Wamen kan sudah langsung nanya ke muridnya, ada yang punya tabungan Rp52.000, ada yang punya Rp100.000, tetapi ketika dia tamat kelas 6 dia hampir Rp1 juta," ujar Suciningsih.
Pencatatan tabungan sendiri menerapkan sistem less paper menggunakan aplikasi Sidarling dan mesin pemindai dari DLHK Kota Denpasar, setiap siswa baru didaftarkan dan memiliki akun masing-masing, sehingga secara tidak langsung mereka wajib memilah dan mengumpulkan sampah.
Salah satu siswi kelas 6B, Ni Kadek Daika Rania mengaku rutin mengumpulkan sampah sejak duduk di kelas 2 SD dengan dibantu orang tuanya di rumah.
"Tadi saya menabung buku bekas, yaitu LKS, buku tulis, dan buku paket kakak saya, biasanya memang mengikuti kalau ada, soalnya bisa bikin tabungan bertambah untuk pas lulus nanti," kata dia.
Selain buku, Daika biasa menabung kardus dan botol plastik, namun ia sendiri belum melihat total saldo tabungannya di aplikasi setelah menabung bertahun-tahun.
"Kata orang tua katanya biar banyak tabungannya, biar punya uang lebih, tadi pas ketemu Pak Wamenko paling penting disuruh jangan mengotori lingkungan, harus jaga lingkungan agar bersih," kata dia.
Atas produktifitas sekolah dalam mengelola sampah, Wamenko Pangan Hanif Faisol Nurofiq mengapresiasi langkah Pemkot Denpasar beserta jajaran sekolah.
Ia memuji inisiatif menggerakkan pemilahan sampah secara masif di rumah tangga, hotel, hingga lingkungan sekolah.
"Secara acak tadi saya mencoba tanya adik-adik tinggal di mana, apakah sudah ada teba modern atau bag composter, ternyata hampir semuanya menjawab sudah, artinya keseriusan pemerintah ini tentu menjadi langkah besar," ucap Hanif.
Pewarta: Ni Putu Putri Muliantari
Editor : Ardi Irawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.