ILUSTRASI. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengapresiasi kinerja bank digital di Indonesia yang mulai menunjukkan perbaikan profitabilitas. ?(KONTAN/Baihaki)
Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengapresiasi kinerja bank digital di Indonesia yang mulai menunjukkan perbaikan profitabilitas.
Dalam pantauan Kontan, terdapat tujuh bank digital Tanah Air yang berhasil menumbuhkan laba bersih tahun berjalannya hingga Juli 2026.
Pertumbuhan tertinggi dicetak Superbank, dengan catatan laba sebesar Rp 219.44 miliar atau tumbuh melesat 639,13% secara tahunan (year-on-year/yoy). Menyusul, Seabank berhasil mencetak laba bersih Rp 863,68 miliar atau melonjak 240,64% yoy.
Dalam periode yang sama, Krom Bank berhasil meraup laba Rp 133,48 miliar atau naik 53,91% yoy, BCA Digital mengantongi laba Rp 152,10 miliar atau naik 53,81% yoy, dan Bank Jago mencetak laba Rp 228,61 miliar atau naik 51,09% yoy.
Baca Juga: Ini Strategi Fintech Samir untuk Jaga TWP90 Tetap Terkendali
Kemudian, masih dalam periode yang sama, ada Amar Bank dengan catatan laba Rp 171,06 miliar atau tumbuh 29,07% yoy serta Bank Neo Commerce dengan laba Rp 352,04 miliar atau tumbuh 1,26% yoy.
Di sisi lain, laba bersih tahun berjalan Allo Bank terkoreksi tipis 2,29% yoy menjadi Rp 261,85 miliar dalam periode ini. Bank Raya bahkan turun 62,32% yoy menjadi Rp 14,52 miliar. Sementara Hibank mencatat rugi Rp 83,92 miliar dari posisi untung Rp 67,32 miliar pada tahun sebelumnya.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengungkapkan, secara keseluruhan perkembangan ini patut diapresiasi jika dibandingkan dengan kondisi bank digital di sejumlah negara lain.
Sebagai pembanding, Dian menyebut bank digital di Singapura telah beroperasi hampir lima tahun. Namun, hingga 2025 baru satu dari lima bank digital di negara tersebut yang berhasil mencatatkan profit.
Sementara itu, di Arab dan Hong Kong, baru tiga dari delapan bank digital yang mencapai titik impas atau break-even meski telah beroperasi lebih dari lima tahun.
Baca Juga: Kredit Konsumsi Diproyeksi Tumbuh pada Triwulan III-2026, Ini Pendorongnya
Dian menekankan bahwa perbandingan tersebut bukan untuk menjustifikasi kinerja bank digital di Indonesia. Namun, kondisi tersebut menunjukkan bahwa model bisnis bank digital masih berada dalam tahap perkembangan.
“Semua model bisnis bank digital ini masih dalam tahap perkembangan,” katanya, dikutip Minggu (13/9/2026).
Dian mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan bank digital ke depan tak cukup hanya dilihat dari pertumbuhan jumlah pengguna maupun laba dalam jangka pendek.
Bank digital, menurutnya, perlu memastikan pertumbuhan bisnis berlangsung secara berkualitas dan berkelanjutan. Hal tersebut antara lain tercermin dari struktur pendanaan yang sehat, kualitas aset yang terjaga, peningkatan efisiensi, serta permodalan yang kuat.
“Yang lebih penting adalah kualitas pertumbuhan, yaitu struktur pendanaan yang sehat, kemudian kualitas aset yang terjaga, efisiensi yang meningkat, permodalannya kuat, serta profitabilitas yang berkelanjutan,” pungkas Dian.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Tag