Asia Kebakaran Hebat: Yen - Rupiah Tumbang Cuma Korea Selamat

calendar_today 11.09.2026 - person  - timer ~

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

11 September 2026 09:50

Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang Asia hampir seluruhnya mengalami pelemahan dari dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (11/9/2026). 

Merujuk data Refinitiv per pukul 09.20 WIB, dari 10 mata uang Asia, sembilan diantaranya melemah terhadap dolar AS. Sementara hanya satu mata uang yang mampu menguat.

Yen Jepang menjadi mata uang dengan tekanan paling dalam di Asia pagi ini. Yen melemah 0,57% ke posisi JPY 154,47/US$.

Rupiah menyusul sebagai mata uang dengan pelemahan terdalam berikutnya. Mata uang Garuda melemah 0,37% ke posisi Rp17.595/US$.

Ringgit Malaysia juga terkoreksi 0,27% ke MYR 4,072/US$, disusul peso Filipina yang turun 0,19% ke PHP 62,707/US$.

Yuan China melemah 0,11% ke CNY 6,7132/US$. Baht Thailand turun 0,09% ke THB 33,13/US$, dolar Taiwan melemah 0,07% ke TWD 31,618/US$, dolar Singapura terkoreksi 0,02% ke SGD 1,267/US$, dan dong Vietnam turun tipis 0,01% ke VND 25.924/US$.

Di sisi lain, won Korea Selatan menjadi satu-satunya mata uang Asia yang menguat pagi ini. Won naik 0,17% ke posisi KRW 1.347,1/US$.

Pergerakan mata uang Asia pagi ini tak lain dan tak bukan masih dipengaruhi oleh penguatan indeks dolar AS (DXY). pada pukul 09.22, DXY terpantau menguat 0,05% ke posisi 99,102.

Penguatan DXY pagi ini melanjutkan kenaikan 0,23% pada perdagangan sebelumnya.

Dolar AS kembali mendapat dukungan dari meningkatnya permintaan terhadap aset aman atau safe haven. Sentimen tersebut muncul setelah kekhawatiran gangguan pasokan energi di Timur Tengah kembali menguat dan mendorong harga minyak bergerak lebih tinggi.

Harga minyak Brent naik 1,2% ke US$108,96 per barel pada awal perdagangan Asia. Kenaikan ini melanjutkan tren penguatan harga energi dalam enam hari beruntun.

Kenaikan harga minyak membuat pasar kembali mencermati risiko inflasi. Hal ini penting karena inflasi yang kembali meningkat dapat memperkuat peluang The Federal Reserve (The Fed) untuk menaikkan suku bunga pada rapat pekan depan.

"Safe-haven dolar AS menguat karena aliran dana ke aset aman, dibantu oleh kenaikan harga energi yang telah mengangkat peluang kenaikan suku bunga The Fed pekan depan menjadi 70%," ujar Tony Sycamore, analis pasar IG di Sydney, dikutip dari Reuters.

Pasar kini menunggu rilis data inflasi konsumen AS atau Consumer Price Index (CPI) pada Jumat waktu setempat. Data ini menjadi salah satu indikator penting terakhir sebelum The Fed menggelar rapat kebijakan pada 15-16 September 2026.

Berdasarkan CME FedWatch, pelaku pasar kini memperhitungkan peluang 71,3% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada rapat pekan depan. Angka tersebut naik dari 61,2% pada sesi sebelumnya.

Sebelumnya, data harga produsen AS atau Producer Price Index (PPI) Agustus naik 0,4%, sesuai ekspektasi pasar, seiring kenaikan harga energi pada bulan tersebut.

Tekanan juga datang dari pasar obligasi. Imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun naik 2,3 basis poin ke 4,965%, semakin dekat ke level 5%.

Kenaikan yield membuat aset berbasis dolar AS menjadi lebih menarik bagi investor.

Di saat yang sama, pasar obligasi masih gelisah setelah Departemen Keuangan AS melipatgandakan ukuran operasi pembelian kembali atau buyback obligasi tenor panjang menjadi tiga kali lipat.

Departemen Keuangan AS akan membeli hingga US$6 miliar obligasi tenor panjang pada Kamis waktu setempat.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)