Arda Hatna Refleksikan Luka lewat Matematika Tuhan Berbeda - Pophariini

calendar_today 15.09.2026 - person  - timer ~

Arda Hatna kembali menghadirkan karya terbaru lewat singel “Matematika Tuhan Berbeda” pada 11 September 2026. Mantan vokalis band Naff ini menggunakan lagu tersebut untuk membicarakan luka, kehilangan, dan bagaimana seseorang bisa tetap memilih menjadi baik meski pernah menerima perlakuan yang sebaliknya.

Gagasan tersebut berangkat dari satu pemikiran yang cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari, yakni luka yang tidak selesai bisa diteruskan kepada orang lain. Bagi Arda, persoalan itu menjadi penting karena orang baik pun memiliki batas. Ia kemudian mencoba melihat kembali bagaimana seseorang menghadapi rasa sakit tanpa menjadikannya alasan untuk melukai orang lain.

“Banyak orang yang meneruskan warisan sakit hatinya ke tempat yang lain dan itu berbahaya sekali,” jelas Arda saat dihubungi Pophariini (15/09).

Ide “Matematika Tuhan Berbeda” muncul setelah Arda keluar dari ruang hipnoterapi dan konseling. Di sana, ia melihat banyak orang datang dengan keinginan untuk menyembuhkan diri, berubah, dan bertumbuh. Percakapan singkat bersama coach sesi tersebut kemudian menjadi pemantik munculnya potongan lirik dan melodi yang langsung hadir di kepalanya.

“Awal mula memicu itu adalah, terus terang ketika saya keluar dari ruang hipnoterapi dan counseling. Tiba-tiba saya melihat banyak orang yang antre juga gitu, untuk pengin nyembuhin diri, pengin berubah, pengin tumbuh gitu,” ucap Arda.

Meski potongan lagu tersebut muncul dengan cepat, Arda sempat menahannya selama beberapa waktu. Ia baru melanjutkan penulisan sekitar tiga bulan kemudian hingga lagu tersebut menemukan bentuk utuhnya. Dari sana, “Matematika Tuhan Berbeda” berkembang menjadi karya yang lebih reflektif, tetapi tetap berangkat dari pengalaman personal.

Dalam urusan musik, Arda bekerja bersama Afif Givano sebagai produser. Menurutnya, Afif mampu memahami arah pesan yang ingin disampaikan tanpa membuat aransemen mengambil terlalu banyak perhatian dari lirik. Sementara itu, pada bagian gitar, sayatan permainan Panji Akbari digunakan untuk memperkuat rasa ngilu dan sakit, tetapi tetap menyimpan dorongan untuk bertahan.

“Jadi ibaratnya kayak musiknya ini sebuah kendaraan yang pas,” kata Arda.

Kesederhanaan kemudian menjadi keputusan penting dalam pengerjaan lagu. Arda tidak ingin “Matematika Tuhan Berbeda” dipenuhi ornamen atau isian yang justru mengaburkan pesannya. Musik dibuat sebagai pendamping bagi lirik, dengan harapan lagu ini bisa terasa seperti seseorang yang duduk di samping pendengarnya ketika sedang lelah.

“Jadi pengin dengerin musiknya itu seperti dengerin teman ngobrol di ruang tamu yang nyediain telinga,” ujar Arda.

Pendekatan tersebut membuat “Matematika Tuhan Berbeda” tidak ditempatkan sebagai lagu yang datang untuk menghakimi atau memberikan jawaban. Arda justru ingin lagu ini menjadi ruang untuk menemani orang-orang yang sedang menjalani rutinitas dan mungkin membawa persoalan mereka masing-masing.

Di luar rilisan terbarunya, Arda juga melihat semakin banyak ruang pertunjukan yang memberi kesempatan bagi musisi dengan warna berbeda untuk bertemu dengan pendengar. Salah satu festival yang menurutnya menarik adalah Synchronize Fest karena keberagaman genre dan talenta yang hadir di dalamnya.

Bagi Arda, keberagaman tersebut membuat festival terasa seperti tempat bertemunya banyak cerita sekaligus. “Matematika Tuhan Berbeda” pun akhirnya hadir dengan semangat yang serupa, bukan untuk menggurui, melainkan menjadi teman, terutama bagi mereka yang sedang belajar menerima luka tanpa menjadikannya alasan untuk berhenti menjadi baik.