Apakah Sudah Saatnya Developer Optimalisasi Game di Tengah Krisis RAM?

calendar_today 09.08.2026 - person  - timer ~

Harga RAM PC kembali menjadi topik perbincangan panas belakangan ini. Setelah sempat stabil dalam beberapa waktu terakhir, kini harga modul DDR4 maupun DDR5 mulai menunjukkan tren kenaikan.

Penyebabnya sudah jelas, mulai dari berkurangnya produksi chip DDR5, pergeseran industri menuju memori berkapasitas lebih besar, hingga meningkatnya permintaan dari sektor AI dan data center. Akibatnya, upgrade PC yang sebelumnya terasa mudah kini mulai menguras kantong.

Kondisi ini lalu memicu sebuah pertanyaan yang menarik untuk diulik. Mengapa solusi yang selalu ditawarkan justru meminta gamer untuk upgrade RAM? Mengapa bukan developer yang berusaha membuat game lebih efisien?

developer optimalisasi
Spesifikasi yang kian butuh memori tinggi

Dalam beberapa tahun terakhir, spesifikasi minimum dan rekomendasi game AAA naik sangat cepat. Dulu RAM 8 GB sudah cukup memainkan hampir semua game ketika itu. Kemudian standar bergeser menjadi 16 GB. Sekarang, semakin banyak game yang menyarankan 32 GB untuk mendapatkan pengalaman bermain yang benar-benar nyaman.

Angka sejujurnya bukan inti dari pembahasan kali ini. Persoalan terbesar adalah apakah kenaikan kebutuhan RAM itu benar-benar dibutuhkan, atau justru hanya jadi jadi jalan pintas karena optimalisasi game semakin ala kadarnya.

Tidak sedikit game yang dirilis dalam kondisi performa acakadut. Frame rate tidak stabil, muncul stuttering saat menjelajahi area baru, shader compilation membuat permainan tersendat, hingga penggunaan RAM yang terasa berlebihan bahkan ketika pengaturan grafis sudah diturunkan.

Lucunya, beberapa bulan kemudian game tersebut mendapatkan patch besar yang mampu meningkatkan performa secara signifikan. Penggunaan RAM turun, loading menjadi lebih cepat, dan stuttering berkurang. Jadi, dapat disimpulkan bahwa sejak awal masalahnya bukan karena hardware kurang kuat, melainkan proses optimalisasi yang belum selesai ketika game dirilis.

Mentalitas “Yang Penting Rilis”

Image
Game Triple A

Industri game saat ini sudah mulai terbiasa dengan pola “yang penting rilis dulu”. Selama bug masih bisa diperbaiki melalui update, game tetap dirilis sesuai jadwal. Akibatnya, gamerlah yang menjadi pengetes game secara masal meskipun sejatinya mereka telah membeli game tersebut dan seharusnya mendapatkan pengalaman terbaik.

Ketika performa buruk menjadi hal yang dianggap normal, muncul anggapan bahwa solusi terbaik adalah membeli hardware baru. Jika RAM kurang, tambah RAM. Jika prosesor sudah tua, ganti prosesor. Jika kartu grafis mulai kewalahan, upgrade GPU.

Padahal kalau mau ditelisik, ada banyak game lawas yang hingga hari ini masih menjadi contoh bagaimana optimalisasi yang baik mampu memperpanjang umur sebuah game. Berbagai judul dari era PlayStation 4 bahkan masih berjalan sangat baik di PC kelas menengah. Beberapa game open world juga mampu menghadirkan dunia yang luas tanpa memakan RAM secara berlebihan.

Hadirnya Upscaling AI

Geforce Rtx Dlss4 Video Dune Awakening 1920x1080 Play
NVIDIA DLSS

Sayangnya, perkembangan teknologi terkadang justru membuat sebagian developer terlena. Teknologi seperti upscaling, frame generation, SSD super cepat, hingga RAM berkapasitas besar memang membuka banyak kemungkinan baru. Namun teknologi tersebut seharusnya menjadi pelengkap, bukan alasan untuk mengurangi perhatian terhadap optimalisasi dasar.

Sering kali kita melihat game yang tampil biasa saja secara visual, tetapi justru membutuhkan RAM jauh lebih besar dibanding game lain dengan kualitas grafis yang lebih baik. Yang seperti ini tentu menimbulkan pertanyaan: Apakah penggunaan memori sudah diperiksa secara menyeluruh sebelum peluncuran? Pertanyaan-pertanyaan tersebut semakin relevan ketika harga RAM mulai naik.

Contoh yang cukup sering menjadi sorotan adalah Black Myth: Wukong. Secara visual game ini memang sangat mengesankan, tetapi banyak review dari media luar seperti Digital Foundry menyoroti bahwa beban grafisnya sangat tinggi, bahkan untuk GPU kelas atas. Pada pengaturan maksimal, pengalaman bermain yang nyaman praktis lebih mudah dicapai ketika DLSS atau FSR diaktifkan.

Tidak semua gamer tinggal di negara dengan daya beli tinggi. Di Indonesia misalnya, membangun sebuah PC gaming sudah menjadi investasi yang cukup mahal. Harga prosesor, kartu grafis, motherboard, SSD, hingga RAM terus mengalami perubahan mengikuti kondisi pasar global akibat gencarnya penggunaan RAM di sektor AI.

Bagi sebagian konsumen, menambah RAM dari 16 GB menjadi 32 GB bukan keputusan yang bisa diambil seenak jidat. Perlu adanya pertimbangan biaya baru yang cukup besar, apalagi jika harus mengganti seluruh kit agar kompatibel dengan platform terbaru. Alangkah baiknya jika developer mengerti akan kondisi seperti ini dan melakukan optimalisasi lebih baik.

Tidak Semua Gamer “Sultan”

3070 High End Build Feature Image
Banyak gamer yang masih punya PC mid-range

Tidak semua gamer menggunakan PC dengan spesifikasi tertinggi. Justru sebagian besar masih berada di kelas mid-range. Mereka menginginkan game yang tetap nyaman dimainkan tanpa harus melakukan upgrade setiap beberapa tahun sekali.

Steam Hardware Survey selama bertahun-tahun juga menunjukkan bahwa mayoritas pemain menggunakan spesifikasi yang tidak selalu mengikuti perkembangan hardware terbaru. Fakta ini seharusnya menjadi pertimbangan penting ketika menentukan target optimalisasi. Jika mayoritas pemain masih menggunakan RAM 16 GB, bukankah lebih masuk akal apabila developer memastikan game dapat berjalan dengan baik pada kapasitas tersebut?

Game modern memang semakin kompleks. Dunia semakin luas, NPC semakin banyak, kualitas tekstur semakin tinggi, simulasi fisika semakin rumit, dan berbagai sistem AI membutuhkan sumber daya lebih besar dibanding satu dekade lalu. Memang benar, semua itu butuh RAM besar. Namun kebutuhan yang meningkat seharusnya tetap diimbangi dengan efisiensi.

Optimalisasi bukan berarti membuat grafis menjadi jelek. Optimalisasi yang baik adalah bagaimana developer menggunakan sumber daya seefisien mungkin agar kualitas visual tetap tinggi tanpa membebani hardware secara berlebihan. Barulah kelihatan developer mana yang benar-benar menguasai teknologinya dengan developer yang sekadar mengandalkan spesifikasi tinggi.

Dulu Sudah Pernah, Mengapa Sekarang Tidak?

Jakndaxter
Game lawas yang optimize pada masanya

Sejarah industri game sudah berkali-kali membuktikan bahwa keterbatasan hardware justru sering melahirkan kreativitas. Pada era PlayStation 2, Xbox 360, hingga PlayStation 4, banyak studio menemukan berbagai teknik cerdas untuk menghemat penggunaan memori. Mulai dari texture streaming, level of detail yang agresif, asset compression, hingga pengelolaan objek secara dinamis.

Teknik-teknik tersebut tidak tiba-tiba menjadi usang hanya karena RAM komputer modern lebih besar.Justru karena harga RAM kembali naik, pendekatan seperti itu menjadi semakin relevan.

Ketika sebuah game dirilis dengan performa buruk, first impression sulit untuk diperbaiki. Walaupun patch besar hadir beberapa bulan kemudian, tidak semua gamer akan kembali mencoba. Sebagian sudah meminta refund, sebagian memberi ulasan negatif di Steam, dan sebagian lagi memilih menunggu diskon besar. Semua itu sebenarnya bisa diminimalisir apabila optimalisasi menjadi prioritas sejak awal pengembangan.

Pada akhirnya, krisis harga RAM bukan semata-mata problem dari sisi konsumen. Ia seharusnya menjadi pengingat bahwa industri game tidak bisa terus mengandalkan peningkatan spesifikasi hardware sebagai solusi utama.

Developer memang tidak bisa mengendalikan harga DRAM di pasar global. Namun mereka bisa mengendalikan bagaimana game mereka memanfaatkan memori yang tersedia. Gamer tentu memahami bahwa teknologi terus berkembang dan kebutuhan hardware akan meningkat dari waktu ke waktu. Tidak ada yang berharap game AAA tahun 2026 bisa berjalan mulus di PC dari sepuluh tahun lalu.

Yang diharapkan sebenarnya jauh lebih sederhana. Jika sebuah game meminta RAM lebih besar, pastikan memang benar-benar dibutuhkan, bukan karena proses optimalisasi belum selesai. Di saat harga RAM kembali merangkak naik, menghargai keterbatasan hardware pengguna bukan hanya keputusan teknis, melainkan juga bentuk penghormatan terhadap konsumen yang telah membeli game tersebut. Kamu setuju tidak?


Dapatkan informasi keren di Gamebrott terkait Tech atau artikel sejenis yang tidak kalah seru dari Andi. For further information and other inquiries, you can contact us via [email protected].