Jakarta (ANTARA) - Hujan sering kali membawa perubahan pada suasana udara. Setelah hujan turun cukup deras, udara biasanya terasa lebih sejuk dan segar. Langit yang sebelumnya terlihat berkabut atau berdebu juga bisa tampak lebih cerah.
Kondisi tersebut bukan sekadar perasaan. Hujan memang dapat membantu mengurangi sebagian polutan yang berada di udara, terutama partikel-partikel kecil seperti PM2.5.
Namun, bukan berarti setiap kali hujan turun, udara otomatis menjadi bersih.
Salah satu cara hujan membantu membersihkan udara adalah melalui proses yang dikenal sebagai wet scavenging atau pembersihan polutan oleh presipitasi.
Ketika tetesan air hujan jatuh melewati atmosfer, sebagian partikel yang melayang di udara dapat menempel atau ikut terbawa oleh tetesan tersebut. Partikel kemudian jatuh ke permukaan bersama air hujan.
Proses ini terutama berpengaruh terhadap partikulat atau particulate matter (PM), termasuk PM2.5 yang berukuran sangat kecil.
Baca juga: Pertahankan imun tubuh dengan konsumsi rempah saat musim hujan
Baca juga: Tabir surya tetap efektif melindungi kulit selama musim hujan
Sebuah penelitian yang mengamati hubungan antara curah hujan dan PM2.5 menemukan bahwa konsentrasi PM2.5 rata-rata turun sekitar 20,99 persen satu jam setelah hujan mulai dibandingkan satu jam sebelumnya. Penelitian tersebut juga menemukan efek pengurangan yang lebih terlihat ketika intensitas hujan meningkat.
Meski demikian, ada batasnya.
Hujan tidak menghilangkan semua jenis polutan dari atmosfer. Beberapa polutan berbentuk gas, seperti nitrogen dioksida (NO2), sulfur dioksida (SO2), dan karbon monoksida (CO), memiliki perilaku yang berbeda di atmosfer.
Selain itu, kualitas udara tidak hanya ditentukan oleh apakah hujan turun atau tidak. Sumber emisi seperti kendaraan bermotor, industri, pembakaran bahan bakar, pembakaran sampah, hingga kebakaran hutan tetap dapat menghasilkan polutan setelah hujan berhenti.
WHO mencatat partikulat, termasuk PM2.5, sebagai salah satu komponen utama polusi udara yang memiliki dampak terhadap kesehatan. Paparan polusi udara juga berkaitan dengan penyakit kardiovaskular dan pernapasan.
Kenapa setelah hujan udara terasa lebih segar?
Ada beberapa faktor yang bisa membuat udara setelah hujan terasa lebih nyaman.
Selain sebagian partikulat yang terbawa air hujan, kondisi atmosfer ketika hujan juga dapat membantu mengurangi konsentrasi polutan di sekitar permukaan.
Hujan biasanya disertai perubahan kondisi angin, suhu dan kelembapan. Jika terjadi pergerakan udara yang cukup baik, polutan dapat tersebar sehingga konsentrasinya di satu lokasi menjadi lebih rendah.
Baca juga: Konsumsi makanan bervitamin D baiknya ditingkatkan pada musim hujan
Karena itu, rasa udara yang lebih segar setelah hujan bukan semata-mata karena "polusi hilang", tetapi juga karena kondisi atmosfer berubah.
Menariknya, hubungan antara hujan dan polusi ternyata tidak sesederhana "hujan turun, polusi turun".
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Atmospheric Environment pada 2025 menemukan bahwa hujan ringan dalam kondisi tertentu justru dapat meningkatkan konsentrasi aerosol. Dalam penelitian tersebut, hujan berperan sebagai pembersih ketika kondisi polusi cukup tinggi, tetapi dapat memberikan efek berbeda ketika atmosfer berada dalam kondisi sangat bersih.
Artinya, intensitas hujan, ukuran partikel, kondisi atmosfer, serta tingkat polusi sebelum hujan semuanya dapat memengaruhi hasil akhirnya.
Inilah alasan mengapa kualitas udara tidak bisa hanya dinilai berdasarkan ada atau tidaknya hujan.
Setelah hujan, apakah aman beraktivitas di luar?
Tidak selalu harus menunggu hujan untuk memastikan udara aman, tetapi juga tidak tepat menganggap hujan sebagai "pembersih udara alami" yang bekerja sempurna.
Cara paling praktis adalah melihat indeks atau informasi kualitas udara di wilayah masing-masing. Jika konsentrasi PM2.5 masih tinggi setelah hujan, terutama di kawasan dengan sumber emisi yang besar, masyarakat tetap perlu memperhatikan aktivitas di luar ruangan.
WHO menetapkan pedoman kualitas udara berdasarkan berbagai polutan karena paparan partikulat dan polutan lainnya tetap memiliki risiko terhadap kesehatan meskipun konsentrasinya berubah-ubah.
Jadi, hujan memang bisa membantu menurunkan kadar sebagian polusi udara, terutama partikulat yang dapat terbawa oleh tetesan air. Namun, efeknya bersifat sementara dan tidak berlaku sama pada semua jenis polutan maupun semua kondisi cuaca.
Dengan kata lain, hujan bisa membantu "mencuci" sebagian polusi dari udara, tetapi bukan berarti setelah hujan turun udara pasti bebas polusi.
Baca juga: Hujan abu vulkanik: Ini 9 cara melindungi pernapasan dan mata
Baca juga: Hujan di Jakarta mengandung mikroplastik, BRIN ingatkan polusi langit
Pewarta: Raihan Fadilah
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.