Pick me adalah istilah dalam bahasa gaul yang menggambarkan seseorang yang berusaha mendapatkan perhatian, pengakuan, atau validasi dari kelompok tertentu dengan menampilkan dirinya sebagai sosok yang berbeda atau lebih baik dibanding orang lain, sering kali sambil merendahkan kelompoknya sendiri.
Ciri utama perilaku pick me antara lain:
Mencari validasi atau pengakuan dari orang lain.
Sengaja menonjolkan diri sebagai sosok yang "tidak seperti kebanyakan orang".
Membandingkan diri dengan kelompoknya sendiri agar terlihat lebih unggul.
Berusaha menarik perhatian, terutama dalam lingkungan sosial atau media sosial.
Secara harfiah, frasa pick me berasal dari bahasa Inggris yang berarti "pilih aku". Namun, dalam konteks media sosial, maknanya berkembang menjadi istilah untuk menggambarkan perilaku tertentu, bukan sekadar arti harfiahnya.
Dalam bahasa gaul, pick me merujuk pada seseorang yang ingin terlihat paling unik atau berbeda demi mendapatkan perhatian dari orang lain. Perilaku ini biasanya muncul melalui ucapan, sikap, maupun unggahan di media sosial.
Sebagai contoh, seseorang berkata:
Aku nggak kayak cewek lain. Mereka sukanya belanja, aku lebih suka nongkrong sama cowok.
Kalimat tersebut bukan sekadar menunjukkan preferensi pribadi. Masalah muncul ketika seseorang merasa perlu merendahkan kelompok lain agar dirinya terlihat lebih menarik.
Inilah yang membedakan pick me dengan sekadar memiliki karakter atau hobi yang unik. Semua orang berhak memiliki minat berbeda. Namun, ketika perbedaan itu dijadikan alat untuk mencari pengakuan sambil menjatuhkan orang lain, perilaku tersebut mulai mengarah pada pick me.
Popularitas istilah ini melonjak setelah banyak konten parodi dan diskusi di TikTok pada 2023. Bahkan, pick me menjadi salah satu istilah yang banyak dicari di Google karena sering muncul dalam berbagai percakapan di media sosial.
Media sosial menjadi tempat yang sangat mudah memberikan perhatian sekaligus penilaian kepada seseorang. Semakin unik sebuah unggahan, semakin besar peluangnya mendapatkan komentar, likes, atau dibagikan ulang.
Di sinilah istilah pick me semakin sering digunakan.
Banyak kreator membuat konten yang menggambarkan sosok pick me girl atau pick me boy secara berlebihan untuk tujuan hiburan. Akibatnya, istilah ini kemudian dipakai secara luas, bahkan terkadang tanpa memahami makna sebenarnya.
Ada beberapa alasan mengapa istilah ini begitu populer:
mudah dipahami oleh pengguna media sosial;
sering digunakan dalam video parodi;
berkaitan dengan fenomena mencari validasi digital;
relevan dengan budaya komentar yang berkembang di TikTok dan X.
Menariknya, perkembangan ini juga menunjukkan perubahan cara masyarakat memberi label terhadap perilaku orang lain. Di era media sosial, seseorang bisa langsung dicap pick me hanya berdasarkan satu unggahan berdurasi beberapa detik, padahal konteks sebenarnya belum tentu diketahui.
Dikutip dari penjelasan Psikolog Universitas Airlangga, Ike Herdiana, terdapat beberapa karakteristik yang sering muncul pada seseorang dengan perilaku pick me.
Seseorang terus menegaskan bahwa dirinya tidak sama dengan kelompoknya.
Misalnya:
Aku nggak pernah ikut tren kayak mereka.
Perbedaannya bukan terletak pada pilihan hidupnya, tetapi pada kebutuhan untuk terus mengumumkan bahwa dirinya lebih baik.
Ini merupakan ciri yang paling sering muncul.
Contohnya:
Cowok sekarang nggak ada yang serius.
atau
Cewek lain sukanya drama.
Kalimat seperti ini digunakan agar dirinya terlihat lebih menarik dibanding kelompoknya.
Perhatian dan pengakuan menjadi tujuan utama.
Validasi tersebut bisa berasal dari:
lawan jenis;
teman sebaya;
komunitas tertentu;
pengikut di media sosial.
Seseorang terkadang mengubah opini atau minatnya agar sesuai dengan kelompok yang ingin ia dekati.
Misalnya berpura-pura menyukai hobi tertentu hanya supaya dianggap cocok dengan lingkungan tertentu.
Inilah bagian yang paling sering disalahpahami.
Tidak semua orang yang percaya diri adalah pick me. Sebaliknya, seseorang yang disebut pick me belum tentu benar-benar percaya diri.
Percaya Diri | Pick Me |
|---|---|
Nyaman menjadi diri sendiri | Ingin diakui orang lain |
Tidak perlu membandingkan diri | Sering membandingkan diri |
Menghargai pilihan orang lain | Cenderung merendahkan kelompok lain |
Konsisten dengan nilai pribadi | Mudah berubah demi validasi |
Perbedaan mendasarnya terletak pada motivasi.
Orang yang percaya diri tidak membutuhkan orang lain terlihat lebih buruk agar dirinya tampak lebih baik. Sementara perilaku pick me sering bergantung pada pengakuan sosial.
Ini menjadi sudut pandang penting karena di media sosial label pick me kerap diberikan hanya karena seseorang memiliki karakter berbeda. Padahal, selama ia tidak mencari validasi dengan menjatuhkan orang lain, istilah tersebut belum tentu tepat digunakan.
Baca Juga: Apa Arti Mens Rea? Istilah Hukum yang Viral di 2026 dan Penjelasan Lengkapnya
Baca Juga: Apa Arti Emoji Love Biru? Inilah Contoh Teks yang Cocok untuk Teman!
Menurut Psikolog Universitas Airlangga, Ike Herdiana, perilaku pick me tidak semata-mata muncul karena ingin menarik perhatian lawan jenis.
Lebih dari itu, perilaku tersebut berkaitan dengan kebutuhan akan pengakuan sosial dan keinginan memperoleh rasa diterima dalam lingkungan.
Pada sebagian perempuan, kondisi ini juga dikaitkan dengan konsep internalized misogyny, yaitu ketika seseorang tanpa sadar menerima stereotip negatif terhadap perempuan sehingga berusaha menjauh dari identitas kelompoknya agar dianggap lebih istimewa.
Namun, fenomena ini tidak hanya dialami perempuan.
Laki-laki juga dapat menunjukkan perilaku serupa melalui istilah pick me boy, misalnya dengan terus menampilkan diri sebagai sosok yang paling tersakiti atau paling berbeda demi memperoleh simpati.
Artinya, akar masalahnya bukan soal jenis kelamin, melainkan kebutuhan akan validasi yang berlebihan.
Agar lebih mudah dipahami, berikut beberapa ilustrasi yang sering ditemui.
"Aku nggak pernah pakai make up. Cewek lain ribet banget."
Unggahan tersebut tidak hanya menunjukkan preferensi pribadi, tetapi juga merendahkan perempuan lain.
Seorang siswa berkata,
Aku lebih nyaman sama cowok karena cewek sukanya drama.
Kalimat tersebut menggeneralisasi kelompok tertentu agar dirinya terlihat lebih baik.
Seorang karyawan mengatakan,
Aku nggak pernah ngeluh kayak rekan kerja lain.
Tujuannya bukan sekadar berbagi pengalaman, melainkan membangun citra diri dengan membandingkan orang lain.
Seseorang terus menekankan bahwa dirinya jauh lebih baik dibanding mantan pasangannya atau dibanding perempuan maupun laki-laki lain agar memperoleh pujian.
Tidak selalu.
Di sinilah banyak orang keliru menggunakan istilah ini.
Misalnya, seseorang memang menyukai otomotif, sepak bola, atau permainan video. Selama ia tidak merasa perlu merendahkan orang lain untuk menunjukkan hobinya, perilaku tersebut bukanlah pick me.
Sebaliknya, jika seseorang berkata,
Perempuan lain sukanya belanja, aku jauh lebih keren karena suka balapan.
Barulah terdapat unsur membandingkan diri demi memperoleh validasi.
Karena itu, istilah pick me sebaiknya digunakan secara hati-hati. Memberi label kepada seseorang tanpa memahami konteks justru dapat menciptakan stereotip baru yang tidak adil.
Fenomena pick me menunjukkan bahwa kebutuhan akan pengakuan masih menjadi bagian dari kehidupan sosial, terutama di era media sosial.
Beberapa cara menyikapinya antara lain:
tidak mudah memberi label kepada orang lain;
memahami konteks sebelum menyimpulkan perilaku seseorang;
membangun rasa percaya diri tanpa membandingkan diri dengan orang lain;
mengurangi ketergantungan pada validasi di media sosial;
menghargai perbedaan minat, gaya hidup, dan kepribadian.
Pada akhirnya, setiap orang ingin diterima. Yang membedakan adalah cara mencarinya. Pengakuan yang dibangun dengan merendahkan orang lain biasanya hanya memberikan kepuasan sesaat, sedangkan rasa percaya diri yang sehat lahir dari penerimaan terhadap diri sendiri.
Baca Juga: Apa Arti Gonggongan Anjing Menurut Studi? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Baca Juga: Apa Arti Effort dalam Suatu Hubungan? Berikut Penjelasan dan Contohnya
Dalam bahasa gaul, pick me adalah sebutan bagi seseorang yang berusaha mendapatkan perhatian atau validasi dengan menampilkan diri sebagai sosok yang berbeda atau lebih baik dibanding kelompoknya, sering kali sambil merendahkan orang lain.
Pick me girl adalah istilah untuk perempuan yang berusaha memperoleh perhatian atau pengakuan, terutama dari laki-laki, dengan menonjolkan bahwa dirinya tidak seperti perempuan lain.
Pick me boy adalah sebutan untuk laki-laki yang berusaha mencari simpati atau validasi, misalnya dengan menampilkan diri sebagai sosok yang paling tersakiti atau paling berbeda dibanding laki-laki lain.
Tidak sepenuhnya. Mencari validasi bisa menjadi salah satu ciri pick me, tetapi seseorang baru dapat disebut pick me jika perilaku tersebut juga disertai kecenderungan membandingkan atau merendahkan kelompok lain demi membuat dirinya terlihat lebih unggul.
Orang yang percaya diri merasa nyaman dengan dirinya tanpa perlu menjatuhkan orang lain. Sebaliknya, perilaku pick me cenderung bergantung pada pengakuan dari lingkungan dan sering menggunakan perbandingan agar terlihat lebih istimewa.
Istilah ini populer karena banyak digunakan dalam konten parodi, diskusi, dan komentar mengenai perilaku seseorang di media sosial. Algoritma platform juga membuat istilah viral lebih cepat menyebar sehingga pengguna internet semakin akrab dengan kata pick me.