Apa itu modifikasi cuaca? Ini cara kerja hujan buatan BMKG

calendar_today 11.10.2026 - person  - timer ~

Jakarta (ANTARA) - Modifikasi cuaca atau Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) adalah upaya ilmiah yang dilakukan manusia untuk memanipulasi, mengendalikan dan mengubah kondisi atmosfer secara sengaja dalam skala lokal maupun regional dengan tujuan tertentu dengan teknik penyemaian awan.

Masyarakat Indonesia umumnya mengenal dengan praktiknya yang paling populer yaitu hujan buatan (cloud seeding).

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang dilaksanakan di Indonesia adalah suatu usaha mitigasi bencana yang terukur dan berdasarkan ilmu pengetahuan. Tindakan ini diambil sebagai respons simultan terhadap penurunan kemampuan lingkungan dan bertambahnya ancaman perubahan iklim.

Baca juga: BNPB siapkan 3 ton garam untuk modifikasi cuaca atasi karhutla Kaltim

Metode yang dipakai oleh BMKG

Operasi modifikasi cuaca yang dilakuka oleh badan meteorologi, klimatologi geofisika (BMKG) bekerja secara terukur dan berbasis dari data ilmiah yang memanfaatkan dinamika fisika alami atmosfer.

Tahap awal operasi dimulai dari mengamati secara mendalam menggunakan radar cuaca dan citra satelit untuk mendeteksi secara mengukur kelembapan awan potensial seperti cumulus. BMKG menekankan bahwa teknologi ini tidak menciptakan awan baru dari kondisi langit cerah, melainkan hanya bekerja dengan memanipulasi awan jenuh yang sudah terbentuk secara alami dari alam.

Setelah target awan teridentifikasi, pesawat yang membawa partikel garam halus (NaCi) yang ditaburkan dalam proses penyemaian (cloud seeding). Partikel garam ini berfungsi sebagai kondensasi buatan (condensasion nuclei) yang akan menyerap uap air di sekeliling awan, hingga memicu butiran air mikro menyatu menjadi tetesan air yang lebih besar.

Baca juga: Kepala BMKG: OMC karhutla situasional karena awan konvektif rendah

Ketika ukuran dan berat tetesan air tersebut melampaui daya angkut air udara naik (updraft) di dalam awan, presipitasi akan terjadi dan air jatuh ke permukaan bumi sebagai hujan di lokasi yang dituju.

BMKG menerapkan dua metode operasional utama sesuai kebutuhan lapangan. Metode pertama adalah rain enhancement atau percepatan hujan yaitu mengkondisikan agar hujan jatuh di area seperti lahan gambut atau waduk guna memadamkan kebakaran hutan dan mengatasi kekeringan.

Metode kedua adalah jumping process atau radistribusi hujan, dimana awan-awan yang bergerak dari arah perairan disemai lebih awal saat masih berada di atas laut.

Cara ini memaksa kandungan air dalam awan luruh sebelum mencapai daratan, sehingga dapat meminimalkan potensi beban curah hujan ekstrem yang memicu banjir di kawasan pemukiman padat.

Baca juga: BMKG pantau pertumbuhan potensi awan, dukung penanganan karhutla

Baca juga: BMKG sebut pertumbuhan awan jadi tantangan pelaksanaan OMC

Pewarta: Munifa Husna Haryanti
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.