Apa Itu Abu Vulkanik? Begini Asal-usul dan Bahayanya

calendar_today 06.09.2026 - person  - timer ~

Jakarta -

Hujan abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau melanda sejumlah wilayah di Indonesia termasuk Jakarta, bahkan membuat bandara Soekarno Hatta ditutup sementara. Apa itu abu vulkanik?

Saat gunung berapi meletus, letusannya dapat melepaskan lava, bebatuan, gas panas, dan abu vulkanik dalam jumlah sangat besar. Abu vulkanik terbentuk dari bebatuan yang hancur dan partikel kaca berdiameter lebih kecil dari 2 milimeter.

Begitu terlontar ke udara, abu ini dapat menyebar hingga ratusan bahkan mungkin ribuan kilometer sebelum akhirnya jatuh ke Bumi. Terdapat dua jenis abu vulkanik:

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

- Abu halus:Partikel berukuran lebih kecil dari 0,063 mm.
- Abu kasar:Partikel berukuran di bawah 2 mm.

Dikutip detikINET dari Universe Today, bebatuan yang lebih besar tidak dapat bertahan melayang di udara dan akan jatuh menghujani area di sekitar kerucut gunung berapi selama erupsi. Bebatuan terbesar ini disebut bom vulkanik dan diameternya bisa mencapai hingga 6 meter.

Abu terbentuk ketika batuan padat hancur dan magma terpecah menjadi partikel-partikel kecil selama letusan eksplosif. Letusan yang dahsyat dipadukan dengan tekanan uap akan mencabik-cabik batuan di sekitar lubang kepundan gunung berapi, lalu melontarkannya ke udara, terkadang hingga mencapai ketinggian beberapa kilometer.

Begitu abu vulkanik ini berada di udara, sebarannya dapat menghalangi cahaya Matahari, sehingga mengubah warna langit menjadi berkabut dan kekuningan. Abu ini bahkan mampu menciptakan pemandangan Matahari terbenam yang spektakuler.

Letusan besar, seperti letusan dahsyat Krakatau tahun 1883, dapat menyebarkan abu vulkanik ke seluruh dunia, memicu pendinginan suhu selama beberapa tahun. Partikel paling kecil dapat bertahan melayang di atmosfer bertahun-tahun, dan tersebar ke seluruh penjuru planet melalui hembusan angin di lapisan udara atas.

Abu vulkanik juga merupakan bagian dari salah satu ancaman terbesar gunung berapi: aliran piroklastik atau yang biasa dikenal sebagai awan panas. Fenomena ini terjadi ketika gas panas dan abu menyembur dari gunung berapi lalu meluncur deras menuruni lerengnya dengan kecepatan tinggi.

Aliran mematikan ini suhunya bisa melampaui 1.000 derajat C dan melaju dengan kecepatan lebih dari 700 km/jam sehingga sulit bagi siapa pun untuk berlari menghindari kejaran awan panas ini.

Dampak hujan abu vulkanik

Partikel abu vulkanik sangat kecil dan memiliki struktur dengan banyak rongga kecil. Kepadatannya relatif rendah sebagai material batuan.

Karena kecil dan kepadatan rendah, memungkinkannya terangkat tinggi ke atmosfer saat letusan kemudian terbawa angin hingga sangat jauh. Karenanya, abu vulkanik dapat menimbulkan berbagai masalah jauh dari gunung yang meletus.

Partikel abu vulkanik tidak larut dalam air. Ketika basah, ia berubah menjadi lumpur licin sehingga dapat membuat jalan raya maupun landasan pacu pesawat berbahaya.

Abu vulkanik menimbulkan berbagai risiko bagi manusia, properti, mesin, masyarakat, dan lingkungan. Orang yang terpapar hujan abu dapat mengalami sejumlah gangguan kesehatan seperti iritasi hidung dan tenggorokan, batuk, penyakit menyerupai bronkitis, serta tidak nyaman saat bernapas.

Risiko ini dapat dikurangi menggunakan masker debu berdaya filtrasi tinggi. Dalam jangka panjang, jika abu mengandung kadar silika tinggi, paparan dapat memicu penyakit yang dikenal sebagai silikosis.

Ternak juga mengalami gangguan pada mata dan saluran pernapasan seperti manusia. Hewan yang mencari makan dengan merumput bisa kesulitan memperoleh makanan apabila sumber pakannya tertutup abu.

Hujan abu juga berdampak pada sektor transportasi seperti penerbangan. Mesin jet modern memproses udara dalam jumlah sangat besar. Udara dihisap melalui bagian depan mesin dan dikeluarkan melalui bagian belakang.

Jika abu masuk mesin jet, abu tersebut dapat dipanaskan hingga mencapai suhu lebih tinggi daripada titik lelehnya. Akibatnya abu meleleh di dalam mesin, lalu berubah menjadi material lunak dan lengket yang menempel di dalam mesin. Kondisi ini menghambat aliran udara di dalam mesin sekaligus menambah beban pesawat.

Abu vulkanik pernah menyebabkan kegagalan mesin beberapa pesawat. Beruntung, para pilot berhasil mendarat dengan selamat menggunakan mesin yang masih berfungsi. Saat ini, gunung berapi dipantau terus-menerus untuk mendeteksi tanda letusan. Jalur penerbangan dapat dialihkan agar menghindari wilayah yang berpotensi mengandung abu vulkanik di udara.

(fyk/fyk)

TAGS

LIHAT LAINNYA