Jakarta -
Es identik dengan suhu dingin dan akan mencair ketika terkena suhu panas. Namun, ilmuwan berhasil menemukan es justru dapat terbentuk pada suhu panas ekstrem, lebih dari 2.000 derajat Celsius.
Penemuan ini dikabarkan oleh tim peneliti yang dipimpin fisikawan Alexis Forestier dari French Alternative Energies and Atomic Energy Commission. Mereka menciptakan kondisi tekanan ekstrem seperti yang ditemukan jauh di dalam planet.
Dilansir ScienceAlert (14/09/2026), sampel air berukuran mikroskopis ditempatkan di antara dua ujung berlian. Air kemudian diberi tekanan hingga 230 gigapascal atau sekitar 2,3 juta kali tekanan udara di permukaan laut bumi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Aneh tapi Nyata! Ilmuwan Temukan Es Bisa Tercipta di Suhu Panas Ekstrem Foto: Site News
Dalam kondisi normal, air yang terus dipanaskan akan berubah menjadi uap. Namun, tekanan ekstrem membuat air tidak memiliki ruang untuk mengembang. Kondisinya tetap sangat padat meskipun dipanaskan menggunakan laser hingga lebih dari 2.300 derajat Celsius.
Pada suhu sekitar 1.400 derajat Celsius, air memasuki kondisi yang disebut es superionik. Bentuk ini tidak sepenuhnya padat maupun cair.
Atom oksigen terkunci membentuk struktur kristal yang kaku, sedangkan hidrogen dapat bergerak bebas di dalamnya. Kondisinya menyerupai cairan yang bergerak melalui kerangka padat.
Peneliti kemudian meningkatkan suhu dan tekanan. Pada tekanan 219 gigapascal dan suhu sekitar 2.350 derajat Celsius, atom oksigen tersusun ulang menjadi pola tumpukan heksagonal.
Aneh tapi Nyata! Ilmuwan Temukan Es Bisa Tercipta di Suhu Panas Ekstrem Foto: Site News
Struktur tersebut sebelumnya sudah diprediksi secara teori, tetapi belum pernah diamati secara jelas melalui eksperimen laboratorium.
Temuan ini juga dinilai penting untuk memahami kondisi planet Uranus dan Neptunus. Kondisi ekstrem yang diperlukan untuk menghasilkan es tersebut diperkirakan terdapat jauh di dalam kedua planet raksasa es itu.
Uranus dan Neptunus diketahui memiliki medan magnet yang tidak beraturan dan belum sepenuhnya dapat dijelaskan oleh ilmuwan.
Pada es superionik, hidrogen yang bergerak bebas membawa muatan listrik. Karena itu, pemahaman mengenai kemampuan bentuk es baru ini dalam menghantarkan listrik dapat membantu ilmuwan memperbarui model mengenai kondisi di bagian dalam Uranus dan Neptunus.
Hasil penelitian mengenai bentuk baru es pada kondisi ekstrem tersebut sudah dipublikasikan dalam jurnal Physical Review Letters.
Temuan ini menunjukkan bahwa air dapat memiliki reaksi yang jauh berbeda dari kondisi yang biasa ditemui sehari-hari ketika berada di bawah tekanan dan suhu sangat ekstrem.
(sob/adr)