REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Prof KH Ali Masykur Musa mendapat amanah baru dalam jaringan tasawuf internasional. Ia terpilih secara aklamasi sebagai Chairman International Naqshabandi Council (INC) dalam rangkaian 6th International Naqshbandi Festival dan 2nd International Naqshabandi Conference di Bukhara, Uzbekistan, Jumat (19/9/2026).
Pemilihan berlangsung di Bukhara State Technical University. Berdasarkan keterangan tertulis Ali Masykur, forum tersebut dihadiri para pengamal tarekat, ulama, mursyid, akademisi, dan delegasi Naqshbandi dari 14 negara.
Pertemuan itu sekaligus menjadi momentum pembacaan Deklarasi Piagam Bukhara yang menandai berdirinya International Naqshabandi Council. Organisasi tersebut dibentuk sebagai ruang komunikasi dan kerja sama jaringan Naqsyabandiyah lintas negara.
Bagi Ali Masykur, posisi tersebut bukan sekadar jabatan kehormatan. Amanah itu, menurut dia, membawa tanggung jawab membangun komunikasi, memperkuat persaudaraan, serta mempertemukan beragam tradisi Naqsyabandiyah yang berkembang dalam konteks sosial dan budaya berbeda.
“Amanah ini bukanlah mahkota untuk dibanggakan, melainkan jalan pengabdian yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT,” ujar Ali Masykur.
Ali Masykur saat ini juga menjabat Komisaris Independen PT PLN (Persero). Di lingkungan tarekat, ia memimpin Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN) sebagai Mudir ‘Ali Idarah ‘Aliyah.
Terpilihnya Ali Masykur di Bukhara memiliki makna historis tersendiri. Kota tua di Uzbekistan tersebut mempunyai kedudukan penting dalam sejarah Islam dan perkembangan tasawuf di Asia Tengah.
Bukhara selama berabad-abad dikenal sebagai salah satu pusat keilmuan Islam. Kota yang berada di jalur bersejarah Silk Roads itu berkembang menjadi pusat teologi dan tasawuf, terutama antara abad ke-9 hingga ke-16.
Bukhara juga tidak dapat dipisahkan dari Khwaja Bahauddin Naqshband, tokoh abad ke-14 yang kemudian namanya melekat pada tradisi Naqsyabandiyah. Bahauddin Naqshband hidup dan dimakamkan di kawasan tersebut.
Kompleks makamnya hingga kini menjadi salah satu pusat spiritual penting di Uzbekistan. Kawasan itu mencakup makam, khanqah, masjid, nekropolis, hingga museum sejarah tasawuf.
Karena itu, pembentukan International Naqshabandi Council di Bukhara membawa simbolisme tersendiri. Sebuah jaringan spiritual yang dahulu tumbuh dari Asia Tengah kini kembali berkumpul di salah satu akar sejarahnya untuk merumuskan bentuk kerja sama baru pada zaman modern.
Pembentukan INC membawa sejumlah pekerjaan besar. Berdasarkan Piagam Bukhara dan keterangan Ali Masykur, sedikitnya terdapat lima arah substantif yang akan menjadi bagian dari kepemimpinan organisasi tersebut.
Pertama, membangun komunikasi jaringan Naqsyabandiyah lintas negara. Komunitas tarekat yang berkembang di berbagai kawasan memiliki latar belakang budaya, sosial, dan sejarah yang berbeda, sehingga membutuhkan ruang perjumpaan yang dapat menjaga hubungan tanpa menghapus karakter masing-masing.
Kedua, memperkuat persaudaraan di tengah keragaman tradisi. Jaringan internasional tersebut diharapkan menjadi ruang yang mampu mempertemukan komunitas Naqsyabandiyah yang berkembang dalam pengalaman sosial yang berbeda.
Ketiga, menjaga mata rantai spiritual dan nilai dasar tarekat. Ali merumuskan amanah tersebut dalam lima kata kunci: menjaga sanad, merawat adab, menghidupkan dzikir, memperkuat ukhuwah, dan menghadirkan kemaslahatan.
Keempat, membawa nilai tasawuf melampaui ruang spiritual personal menuju kehidupan sosial. Forum Bukhara tahun ini juga menempatkan perdamaian, toleransi, dan saling pengertian sebagai tema penting.
Kelima, membangun jejaring internasional yang berkelanjutan. Pertemuan ulama dan mursyid dinilai perlu diteruskan melalui pertukaran pengetahuan, pendidikan generasi muda, pengembangan kajian, dokumentasi warisan, serta forum internasional yang tidak berhenti setelah konferensi berakhir.
Lima bidang tersebut bukan pasal formal konstitusi INC. Namun arah itu dapat dibaca dari Piagam Bukhara dan penjelasan yang disampaikan Ali Masykur setelah terpilih.
sumber : Antara