Jumat, 14 Agustus 2026 - 20:17 WIB
Jakarta, VIVA – Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 pada 17 Agustus 2026, berbagai pihak diimbau untuk menjaga kedamaian dan persatuan nasional. Seruan ini mengemuka di tengah beredarnya informasi terkait peringatan satu tahun wafatnya Affan Kurniawan yang jatuh pada 28 Agustus mendatang.
Baca Juga
Aktivis 98 Resolution Network, Wahab Talaohu mengingatkan agar tragedi yang merenggut nyawa Affan Kurniawan pada 28 Agustus 2025 tidak dieksploitasi untuk kepentingan politik sesaat maupun disusupi oleh pihak-pihak yang ingin memicu kekacauan.
"Jangan sampai ada pihak yang ingin mengeksploitasi wafatnya Affan sebagai alat politik. Karena itu, momentum 17 Agustus 2026 jangan sampai diubah menjadi panggung untuk kepentingan politik sesaat, provokasi, atau agenda pihak-pihak yang ingin melihat Indonesia gaduh," ujar Wahab kepada wartawan, Jumat, 14 Agustus 2026.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Pihak keluarga almarhum, melalui pernyataan ayah kandungnya Zulkifli, telah menyampaikan keberatan jika wafat almarhum dipolitisasi oleh oknum-oknum provokator.
Keluarga menegaskan bahwa yang paling dibutuhkan oleh almarhum saat ini adalah ketenangan dan doa dari masyarakat luas, alih-alih kegiatan seremonial publik yang berisiko ditunggangi oleh muatan provokasi serta hasutan kebencian.
Wahab juga menekankan agar simbol-simbol negara seperti bendera Merah Putih, lagu kebangsaan, serta perayaan kemerdekaan dimaknai sebagai momentum memperkuat persatuan bangsa, bukan justru dicederai oleh narasi yang menggambarkan Indonesia seolah-olah berada dalam situasi yang tidak terkendali.
Baca Juga
"Indonesia memang masih memiliki banyak pekerjaan rumah, tetapi semua itu harus diperjuangkan dengan data, argumentasi, dan mekanisme demokrasi, bukan dengan cara menciptakan kekacauan," lanjutnya.
Terkait insiden yang menimpa almarhum, Wahab mengingatkan bahwa pemerintah sejak awal telah menunjukkan empati dan komitmen nyata.
Baca Juga
Wahab mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tetap waspada, tidak mudah terpancing oleh potongan video, informasi tanpa sumber yang jelas, atau narasi provokatif yang sengaja dimainkan untuk memicu emosi publik.
"Kepada siapa pun yang ingin menyampaikan aspirasi, sampaikan dengan tertib dan bertanggung jawab. Kepada pemerintah, terus buka ruang dialog dan dengarkan kritik masyarakat,” katanya.
VIVA.co.id
3 Agustus 2026