Dosen Hubungan Internasional Universitas Al Azhar Indonesia, Pizaro Ghozali Idrus, dalam sebuah seminar di Pusat Kebudayaan Turki, Bintaro, Jakarta Selatan, Sabtu (24/10/2026).
JAKARTA -- Aliansi pertahanan yang melibatkan negara-negara Muslim dinilai dapat menjadi daya tawar baru dalam dinamika geopolitik Timur Tengah. Kerja sama itu juga dapat memperkuat posisi negara-negara anggotanya dalam menghadapi ancaman keamanan sekaligus meningkatkan pengaruh diplomatik mereka.
Dosen Hubungan Internasional Universitas Al Azhar, Pizaro Ghozali Idrus, menilai pembentukan Pakta Pertahanan Makkah oleh Arab Saudi, Turki, dan Pakistan merupakan sebuah terobosan untuk menyatukan negara-negara muslim.
Terlebih, belakangan juga terjalin Badr Memorandum of Understanding (MoU) antara Turki, Indonesia, Qatar, dan Pakistan, yang membuka peluang kerja sama produksi persenjataan, pengembangan teknologi, hingga riset militer, di antara keempat negara tersebut.
"Sebagai sebuah model terobosan pertahanan, menurut saya ini menarik. Karena selama ini pakta pertahanannya di negara-negara muslim yang melibatkan berbagai kawasan itu bahkan belum ada," kata dia dalam sebuah seminar di Pusat Kebudayaan Turki, Bintaro, Jakarta Selatan, Sabtu (24/10/2026).
Menurut dia, selama ini terdapat sebuah mitos yang menyebutkan bahwa persatuan negara-negara muslim adalah sesuatu yang mustahil terjadi. Namun, dua kerja sama itu membuktikan bahwa mitos tersebut bisa diakhiri.
Pizaro menilai, kerja sama di antara negara-negara muslim itu akan meningkatkan daya tawar masing-masing pesertanya. Di sisi lain, negara lain juga akan berpikir ulang ketika hendak melakukan serangan terhadap negara-negara tersebut.
"Karena ketika dia melakukan serangan kepada entah Turki, Saudi, maupun Pakistan, dengan adanya tadi ya, artikel di mana mereka harus saling membantu sama lain, itu kan menjadi pesan bahwa mereka tidak hanya berhadapan pada satu negara," ujar Pizaro.