Airlangga mengatakan saat ini terdapat sekitar 800.000 penjual daring di Indonesia. Di sisi lain, video commerce menjadi salah satu kanal perdagangan yang berkembang dengan menggabungkan aktivitas promosi melalui video dan transaksi secara online.
"Jadi jualan pakai video tetapi pelanggannya online. Kalau kita lihat, jumlah penjual online sekitar 800.000, namun dalam video commerce ini transaksinya sudah naik hampir 90 persen yaitu 2,6 miliar transaksi," kata Airlangga saat ditemui di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Kamis (27/8/2026).
Baca Juga: Soal Desil DTSEN, Airlangga: Tunggu Hasil Sensus BPS
Video commerce pada dasarnya merupakan aktivitas perdagangan yang memanfaatkan konten atau siaran video untuk menawarkan produk kepada konsumen.
Salah satu bentuk yang paling mudah ditemui adalah aktivitas live streaming oleh pedagang di platform e-commerce.
Model tersebut membuat batas antara perdagangan offline dan online semakin tipis. Pedagang yang sebelumnya mengandalkan toko fisik kini dapat menggunakan ponsel untuk menawarkan barang secara langsung kepada konsumen, sementara proses pembayaran dan pembelian dilakukan melalui kanal digital.
Airlangga mengatakan perkembangan video commerce menunjukkan semakin menyatunya aktivitas perdagangan daring dan luring.
Menurutnya, perdagangan offline masih menjadi bagian terbesar dari aktivitas perdagangan nasional. Namun, transaksi melalui e-commerce kini telah mengambil porsi sekitar sepertiga dari keseluruhan perdagangan.
"Kalau kita lihat, offline masih sekitar dua pertiga, sementara e-commerce sudah sekitar sepertiga," ujar Airlangga.
Perubahan tersebut membuka ruang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk memperluas pasar tanpa harus meninggalkan model perdagangan konvensional.
Pedagang tidak lagi hanya mengandalkan konsumen yang datang langsung ke toko. Produk dapat diperkenalkan melalui video, ditawarkan dalam siaran langsung, kemudian dibeli konsumen secara online.
Model ini juga memungkinkan satu aktivitas penjualan menjangkau konsumen di luar wilayah operasional toko.
Pertumbuhan video commerce berlangsung di tengah perkembangan ekonomi digital Indonesia.
Airlangga mengatakan ekonomi digital Indonesia telah mencapai sekitar USD100 miliar pada 2025. Menurutnya, Indonesia juga menjadi salah satu pasar utama untuk perkembangan video commerce.
"Ekonomi digital terus tumbuh menjadi sekitar 100 miliar di tahun 2025 dan Indonesia juga merupakan andalan dari pasar yang namanya video commerce," kata Airlangga.
Besarnya pasar digital tersebut turut ditopang oleh basis pengguna media sosial di Indonesia.
Airlangga menyebut jumlah pengguna media sosial telah mencapai lebih dari 180 juta dan masih tumbuh sekitar 26% per tahun.
Besarnya basis pengguna tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat konten video semakin penting dalam aktivitas perdagangan. Konsumen dapat menemukan produk melalui konten yang mereka lihat, kemudian langsung melanjutkan proses pembelian secara digital.
Bagi pelaku usaha, pola tersebut juga mengubah cara memasarkan produk. Promosi tidak lagi hanya dilakukan melalui iklan atau etalase toko, tetapi dapat dilakukan melalui demonstrasi produk, siaran langsung, ulasan, hingga interaksi langsung dengan calon pembeli.
Selain video commerce, pemerintah juga melihat penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sebagai bagian penting dalam perkembangan e-commerce.
Airlangga mengatakan AI dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan algoritma yang mampu menawarkan produk sesuai dengan preferensi konsumen.
"Teknologi AI ini penting untuk e-commerce, terutama untuk membangun algoritma yang bisa menawarkan produk berdasarkan personalisasi dan preferensi konsumen," ujar Airlangga.
Pemanfaatan AI tersebut dapat digunakan untuk membantu platform memahami pola pencarian dan perilaku konsumen. Dengan demikian, produk yang ditampilkan kepada pengguna dapat disesuaikan dengan minat dan kebutuhannya.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa persaingan dalam perdagangan digital tidak hanya berlangsung pada sisi jumlah transaksi. Teknologi juga semakin menentukan bagaimana produk ditemukan, ditawarkan, dan dibeli oleh konsumen.
Di tengah pertumbuhan tersebut, pemerintah terus mendorong penguatan ekosistem perdagangan digital melalui regulasi dan pembangunan infrastruktur.
Baca Juga: Emas Bawah Bantal Capai 1.800 Ton, Airlangga Bidik 20 Persen Masuk Bullion Bank
Airlangga mengatakan pemerintah juga memfasilitasi kolaborasi antara platform e-commerce, UMKM, asosiasi industri, dan konsumen.
Langkah tersebut diperlukan agar pertumbuhan ekonomi digital tidak hanya meningkatkan volume transaksi, tetapi juga memberikan ruang yang lebih besar bagi pelaku usaha lokal untuk masuk dan berkembang di pasar digital.
Bagi UMKM, perkembangan video commerce memberikan alternatif untuk memperluas jangkauan penjualan. Pedagang dapat tetap menjalankan aktivitas perdagangan secara offline sekaligus memanfaatkan kanal digital untuk menjangkau konsumen yang lebih luas.
Dengan jumlah transaksi video commerce yang telah mencapai 2,6 miliar dan sekitar 800.000 penjual daring, pola perdagangan digital Indonesia kini semakin bergeser dari sekadar transaksi melalui marketplace menuju model yang menggabungkan konten, interaksi, dan transaksi dalam satu ekosistem.