
Telah diterbitkan 23 menit yang lalu
Waktu membaca: 5 menit
Para pekerja pembangkit listrik tenaga air di Nepal menceritakan kepada BBC tentang momen mengerikan ketika air dari Sungai Trishuli menerjang terowongan tempat mereka bekerja, saat kawasan tersebut diterjang banjir bandang mematikan pekan lalu.
Semuanya bermula dengan hembusan udara yang tiba-tiba dan sangat kuat, kata Pemba Dundu Tamang, yang saat itu bekerja bersama sekitar 30 orang dalam tim yang sedang memasang lapisan beton di dalam terowongan.
Hembusan itu menerbangkan lembaran kayu lapis dan menggeser alat-alat berat dari posisinya. Di luar terowongan, rumah-rumah sudah lebih dulu tersapu arus.
"Saya berlari menuju pintu masuk terowongan," ujarnya.
"Air mengejar dari belakang, sementara saya berlari di depannya."
Tamang kehilangan beberapa anggota keluarganya yang saat itu berada di rumah.
Jumlah korban tewas akibat banjir dahsyat pekan lalu di Nepal telah melampaui 1.000 orang, sementara para pejabat mengatakan sekitar 4.000 orang lainnya masih hilang.
Sejumlah orang yang hilang tersebut, yang jumlahnya kemungkinan mencapai ratusan, merupakan para pekerja seperti Tamang yang bekerja di jaringan terowongan luas pada proyek-proyek pembangkit listrik tenaga air di sepanjang sungai.
Para insinyur terus memompa udara ke dalam terowongan-terowongan itu sebagai bagian dari operasi penyelamatan besar-besaran.
"Kami memusatkan perhatian pada upaya pencarian dan penyelamatan di terowongan-terowongan tersebut, dan pekerjaan kami masih terus berlangsung," kata juru bicara Angkatan Darat Nepal, Raja Ram Basnet, kepada kantor berita AFP.
"Para prajurit kami juga dikerahkan untuk mengevakuasi jenazah serta mencegah penyebaran penyakit."
Pihak militer mengatakan 119 orang berhasil diselamatkan pada Selasa.

Tamang mengatakan ia berlari selama sekitar 20 menit untuk menyelamatkan diri dari banjir bandang yang dahsyat, yang terus mengejarnya hingga ke daerah yang lebih tinggi.
"Saya hampir pingsan karena syok. Saya tidak bisa berpikir jernih."
Rekannya, Itha Ghale, mengatakan hembusan udara yang sangat kuat hampir membuat mereka terhempas saat mereka berlari secepat mungkin.
Lebih dari 99% listrik yang dihasilkan di Nepal berasal dari tenaga air, dan Tamang serta Ghale bekerja di salah satu lokasi pembangkit besar yang sedang membangun Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air Upper Trishuli 3B.
Pembangkit yang dijadwalkan mulai beroperasi tahun depan itu dirancang untuk memanfaatkan kembali air dari pembangkit listrik tenaga air yang berada lebih jauh di hulu guna menghasilkan tambahan listrik bagi jaringan listrik nasional Nepal.
Ada beberapa tim yang bekerja di lokasi tersebut. Tamang mengatakan tim yang mengoperasikan mesin besar pelapis terowongan merupakan kelompok terakhir yang berhasil keluar.
Namun tak lama kemudian, ia menyadari kenyataan yang menghancurkan.
"Saya bisa melihat lokasi tempat rumah saya seharusnya berdiri. Tidak ada lagi yang tersisa. Saat itulah saya sadar semuanya telah hilang."
Enam anggota keluarga Tamang, yaitu ibunya, kakak laki-lakinya, kakak iparnya, serta tiga anak mereka, hilang, katanya. Mereka berada di rumah yang terletak di tepi sungai ketika banjir menerjang.
Hanya istrinya, putranya, dan seorang keponakannya yang selamat.

"Saya merasa hidup tidak lagi berarti. Bertahan hidup justru terasa menyiksa. Saya tidak tahu harus makan di mana atau pergi ke mana," kata Tamang.
"Mereka yang meninggal telah tenang. Justru kami yang selamat yang harus menanggung penderitaan."
Ghale, yang kehilangan delapan anggota keluarganya, mengatakan dirinya tidak tahu mengapa ia bisa selamat.
"Mungkin memang belum takdir saya untuk meninggal."
Delapan anggota keluarga yang hilang itu termasuk ibunya dan putri sulungnya. Sementara itu, ketiga putranya dan sang istri berhasil selamat.
Tamang juga cemas memikirkan masa depan, terutama jika proyek-proyek pembangkit listrik tenaga air tersebut dihentikan.
"Jika kondisi seperti ini terus berlanjut, kami akan kelaparan. Kadang saya merasa mungkin lebih baik jika saya tidak selamat."
Pada akhirnya, Tamang berhasil mengungsi bersama sejumlah orang lainnya di Desa Shanti Bazar selama dua hari hingga tim Angkatan Darat datang untuk mengevakuasi mereka.
Ia memperkirakan sekitar 50 hingga 60 pekerja berhasil keluar dari terowongan dan menyelamatkan diri bersamanya.

Sumber gambar, Reuters
Menurut Tamang, lebih banyak nyawa seharusnya dapat diselamatkan jika sumber daya dan perlengkapan yang memadai telah tersedia.
Pernyataannya sejalan dengan laporan terbaru yang menyebut terdapat tanda-tanda meningkatnya ketidakstabilan di sekitar gletser beberapa hari sebelum bencana terjadi, serta bahwa sistem peringatan dini yang lebih baik berpotensi menyelamatkan banyak nyawa.
Citra satelit menunjukkan permukaan gletser bergerak lebih cepat, air lelehan berubah warna menjadi kecokelatan, dan retakan mulai muncul pada batuan di sekitarnya, menurut para ahli dari Asian Mountain Academic Alliance, Stimson Center, dan Institute of Mountain Hazards and Environment di China.
Semua itu merupakan indikasi yang mungkin menunjukkan lereng pegunungan berada dalam kondisi semakin tidak stabil.
Para ilmuwan mengatakan longsoran itu sendiri bergerak terlalu cepat sehingga sistem peringatan konvensional tidak akan banyak membantu orang-orang yang berada paling dekat dengan lokasi kejadian.
Namun, di wilayah yang lebih jauh di hilir, tempat banjir baru tiba sekitar 10 menit atau lebih setelah longsoran terjadi, mereka menilai sistem peringatan yang komprehensif berpotensi menyelamatkan sejumlah besar korban.
Saat ini, para ahli dari China, India, dan Nepal masih terus menggunakan ekskavator serta alat berat untuk menembus timbunan material dari proyek-proyek pembangkit listrik tenaga air guna menjangkau para pekerja yang masih terjebak di beberapa lokasi proyek.
"Kemungkinan masih ada korban yang selamat di dalam. Saya akan sangat senang jika mereka bisa segera diselamatkan," kata Tamang.
"Saya mengenal banyak orang yang hingga kini masih terjebak di sana."

Laporan tambahan oleh Justin Rowlatt, editor iklim BBC.