Ahli Ungkap Alasan Kebakaran Hutan di Lahan Gambut Sulit Dipadamkan

calendar_today 13.10.2026 - person  - timer ~

Liputan6.com, Jakarta - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan gambut menjadi tantangan dalam penanggulangan bencana. Sebab, api tidak hanya membakar vegetasi di permukaan, tetapi juga dapat bertahan di bawah tanah sehingga sulit dipadamkan sepenuhnya.

Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) sekaligus Dosen Magister Manajemen Bencana SPPB Universitas Indonesia (UI), Daryono, menjelaskan bahwa gambut yang mengering dapat mengalami smouldering combustion, yakni pembakaran membara tanpa nyala api yang jelas di bawah permukaan.

"Akibatnya, permukaan tanah yang terlihat tidak lagi mengeluarkan api belum tentu menunjukkan bahwa kebakaran telah benar-benar padam. Bara dapat tetap bertahan di lapisan gambut dan berpotensi kembali memicu kebakaran permukaan apabila kondisi mendukung," kata Daryono dalam keterangannya, Selasa (13/10/2026).

Menurut Daryono, kondisi tersebut membuat pemadaman tidak cukup dilakukan dengan mematikan kobaran api yang terlihat.

Petugas perlu memastikan bara di dalam lapisan gambut benar-benar padam agar kebakaran tidak kembali muncul.

Ia menyebut sejumlah kendala utama dalam pemadaman kebakaran gambut, mulai dari api yang tersembunyi di bawah permukaan, keterbatasan sumber air, hingga sulitnya akses menuju lokasi kebakaran.

"Pada puncak musim kemarau, ketersediaan air untuk pembasahan dapat berkurang. Banyak kawasan gambut juga berada di wilayah terpencil dengan keterbatasan akses kendaraan dan peralatan," ungkapnya.

Selain itu, angin dapat mempercepat penyebaran api di permukaan sekaligus membawa asap ke wilayah yang lebih jauh. Pemadaman menggunakan pengeboman air dari udara juga memiliki keterbatasan karena belum tentu mampu menjangkau seluruh bara yang tersisa di lapisan gambut.

"Karena itu, penanganan kebakaran gambut membutuhkan pembasahan yang memadai, pengelolaan tata air, pemantauan kondisi bawah permukaan, dan pemeriksaan berulang untuk memastikan tidak ada bara yang tersisa," kata Daryono.