Liputan6.com, Jakarta - Konten promosi dapat menjadi salah satu cara bagi pelaku UMKM untuk memperkenalkan produk dan usaha kepada calon pelanggan melalui media sosial. Bentuknya pun beragam, mulai dari menampilkan produk, membagikan aktivitas usaha, memberikan informasi yang bermanfaat, hingga menawarkan promo tertentu.
Bagi pelaku UMKM, membuat konten promosi tidak selalu membutuhkan peralatan khusus. Dengan ponsel, berbagai aktivitas usaha dapat diolah menjadi konten yang informatif sekaligus membantu calon pelanggan mengenal produk dan bisnis yang ditawarkan.
Berbeda dengan iklan langsung yang biasanya berbayar dan fokus pada penawaran, konten promosi lebih fleksibel karena bisa berupa cerita, edukasi, atau aktivitas sehari-hari usaha yang dikemas menarik.
Untuk kamu pengusaha UMKM, hampir semua jenis-jenis konten promosi produk di artikel ini bisa dibuat sendiri memakai ponsel, jadi mari simak sampai akhir!
1. Konten Produk
Jenis konten ini menampilkan produk yang kamu jual secara langsung, baik lewat foto maupun video supaya calon pembeli tahu persis bentuk dan kualitas produkmu.
Contoh: Jika kamu menjual kue kering, jangan hanya mengunggah foto kemasan. Tampilkan bagian dalam kue untuk memperlihatkan teksturnya, ukuran produk, pilihan rasa, serta video singkat saat kue dipotong atau disantap. Dengan begitu, calon pembeli bisa melihat produk dengan lebih jelas sebelum memutuskan untuk membeli.
Tips membuat kontennya:
2. Konten Behind the Scenes
Konten promosi tidak harus selalu berisi foto produk dan ajakan untuk membeli. Kamu juga bisa menunjukkan kegiatan yang dilakukan saat menjalankan usaha, seperti menyiapkan dagangan, memasak, melayani pelanggan, atau mengemas pesanan.
Contoh: "Jam 5 pagi sudah mulai siap-siap jualan. Hari ini bikin 30 bungkus nasi kuning. Mulai dari masak nasi, siapin lauk, sampai bungkus satu-satu. Kalau kamu lagi cari sarapan di sekitar sini, hari ini ada nasi kuning, telur balado, ayam suwir, dan sambal. Bisa langsung datang atau chat WhatsApp untuk pesan duluan."
Tips membuat kontennya:
3. Konten Edukasi
Konten edukasi berisi informasi yang masih berkaitan dengan produk atau usaha kamu. Misalnya, kamu bisa membagikan tips memilih produk, cara menggunakan atau merawatnya, hal yang perlu diperhatikan sebelum membeli, atau kesalahan yang sebaiknya dihindari.
Contoh: Jika kamu menjual keripik, kamu bisa membuat video tentang cara menyimpan keripik agar tetap renyah. Jelaskan bahwa keripik sebaiknya disimpan dalam wadah kedap udara dan diletakkan di tempat yang kering. Di akhir video, kamu bisa mengarahkan calon pembeli untuk mencoba produk yang kamu jual.
Tips membuat kontennya:
Konten ini menceritakan perjalanan usaha kamu, mulai dari alasan memulai, pengalaman saat pertama berjualan, tantangan yang pernah dihadapi, hingga perkembangan usaha sampai sekarang. Cerita seperti ini membantu calon pelanggan mengenal usaha kamu dan orang yang ada di baliknya.
Kamu tidak harus punya cerita usaha yang besar untuk membuat konten seperti ini. Hal sederhana, seperti pertama kali mendapat pelanggan, pindah dari berjualan di rumah ke toko, atau mulai menerima pesanan dalam jumlah lebih banyak juga bisa menjadi cerita yang menarik.
Contoh: Jika kamu menjalankan usaha katering, kamu bisa menceritakan bagaimana awalnya hanya menerima pesanan dari tetangga. Setelah pelanggan bertambah, kamu mulai menerima pesanan untuk acara keluarga hingga katering dalam jumlah lebih banyak.
"Dulu awal jualan, saya cuma terima pesanan dari tetangga. Masaknya juga masih sendiri, dari pagi sampai pesanan siap diantar. Sekarang sudah mulai dapat pesanan untuk acara keluarga dan pernah menyiapkan sampai 100 porsi."
Tips membuat kontennya:
5. Konten Tutorial
Konten tutorial berisi panduan tentang cara menggunakan produk atau membuat sesuatu yang berkaitan dengan usaha kamu. Jenis konten ini bisa membantu calon pelanggan memahami cara kerja produk sekaligus melihat hasilnya secara langsung.
Misalnya, kalau kamu menjual cairan pembersih WC yang sedang viral, kamu bisa membuat video yang memperlihatkan proses membersihkan WC yang kotor menggunakan produk tersebut. Mulai dari kondisi sebelum dibersihkan, cara menggunakan produk, sampai hasil akhirnya.
Contoh: “Kerak di WC sudah bertahun-tahun dan tidak bisa hilang meski disikat? Kalau pakai produk ini, cuma dioles pakai kuas, diamkan beberapa saat, lalu bilas pakai air dan hasilnya langsung kinclong!”
Tips membuat kontennya:
6. Konten Testimoni
Konten testimoni menampilkan pengalaman pelanggan setelah membeli atau menggunakan produk kamu. Bentuknya bisa berupa screenshotchat, ulasan dari marketplace, komentar di media sosial, atau video singkat dari pelanggan.
Contoh: Jika kamu menjalankan usaha laundry, kamu bisa membagikan screenshot chat pelanggan setelah menerima pakaiannya, lalu tambahkan caption singkat untuk menjelaskan konteksnya.
Chat pelanggan: “Kak, mau bilang aja tadi bajunya udah saya ambil. Bersih banget ternyata, noda di bagian lengan juga udah nggak kelihatan. Wanginya juga enak, nggak terlalu menyengat. Makasih ya kak, nanti saya laundry di sini lagi.”
Caption: “Senang banget kalau pelanggan balik lagi dan puas sama hasil laundry kita.”
Tips membuat kontennya:
Konten tanya jawab berisi beberapa pertanyaan yang sering ditanyakan pelanggan tentang usaha kamu dalam satu konten. Misalnya, kamu bisa sekaligus menjawab pertanyaan tentang jam buka, lokasi, harga, pilihan produk, dan cara memesan.
Konten seperti ini memudahkan pelanggan mendapatkan informasi dasar tentang usaha kamu tanpa harus bertanya satu per satu melalui pesan pribadi.
Contoh: Jika kamu memiliki toko pakaian, kamu bisa membuat satu video yang menjawab beberapa pertanyaan sekaligus.
“Banyak yang tanya, tokonya buka jam berapa, lokasinya di mana, dan bisa pesan lewat WhatsApp atau enggak. Toko kami buka setiap hari dari jam 09.00 sampai 21.00. Lokasinya ada di Jalan X, dekat X. Kalau kamu belum sempat datang langsung, bisa juga pesan lewat WhatsApp. Mau lihat model atau cek ukuran yang tersedia? Langsung chat kami, ya. Siapa tahu ada yang cocok.”
Tips membuat kontennya:
8. Konten Promo
Konten promo berisi penawaran khusus untuk menarik pelanggan membeli produk atau menggunakan jasa kamu. Promonya bisa berupa diskon, paket hemat, bonus produk, gratis ongkir, atau harga khusus untuk pembelian tertentu.
Konten jenis ini bisa membantu menarik perhatian pelanggan, terutama jika promo memiliki batas waktu atau keuntungan yang jelas.
Contoh: Kalau kamu menjual minuman, kamu bisa membuat video singkat yang menampilkan produk sambil menyampaikan promo yang sedang berlangsung.
“Lagi mau ngumpul sama teman-teman? Minggu ini ada promo beli 2 gratis 1 untuk semua varian. Promonya berlaku sampai hari Minggu, ya. Bisa datang langsung atau pesan lewat WhatsApp biar gak kelewatan!”
Tips membuat kontennya:
Setelah mengetahui berbagai contoh konten promosi produk, pelaku UMKM juga perlu menyesuaikan konten dengan calon pelanggan dan kemampuan usaha. Tidak semua konten harus dibuat dengan konsep yang rumit. Hal terpenting adalah informasi yang disampaikan jelas, relevan, dan dapat dipahami audiens. Berikut beberapa tips yang bisa kamu terapkan.
1. Kenali Pelanggan yang Ingin Dijangkau
Sebelum membuat konten, cari tahu siapa yang paling mungkin membeli produk kamu. Perhatikan usia, kebutuhan, kebiasaan, dan media sosial yang sering mereka gunakan. Informasi ini bisa membantu kamu menyesuaikan topik dan cara menyampaikan konten dengan target pasar.
2. Manfaatkan Aktivitas Usaha sebagai Ide Konten
Tidak perlu bingung mencari ide baru setiap hari. Kegiatan yang kamu lakukan saat menjalankan usaha juga bisa menjadi bahan konten, seperti menyiapkan produk, mengemas pesanan, belanja bahan, atau melayani pelanggan.
3. Buat Pembuka yang Menarik
Buat bagian awal konten yang langsung membuat orang tertarik untuk melihat sampai selesai. Kamu bisa mulai dengan pertanyaan, masalah yang sering dialami pelanggan, atau informasi yang membuat mereka penasaran.
Misalnya, daripada membuka video dengan “Hari ini kami akan memperkenalkan produk...”, kamu bisa mulai dengan “Kerak di kamar mandi sudah lama dan susah dibersihkan?”
4. Sampaikan Satu Hal dalam Satu Konten
Jangan memasukkan terlalu banyak informasi dalam satu konten. Pilih satu topik yang ingin dibahas dan fokus pada topik tersebut. Dengan begitu, audiens lebih mudah memahami informasi yang kamu sampaikan.
Supaya tetap konsisten dan tidak bingung setiap kali ingin membuat konten, kamu bisa membuat jadwal untuk menentukan apa yang akan diunggah.
Misalnya, Senin untuk konten produk, Rabu untuk tips, dan Jumat untuk promo. Jadwal ini bisa kamu sesuaikan dengan waktu dan kegiatan usaha agar lebih mudah dijalankan secara rutin.
6. Lihat Konten yang Paling Disukai
Lihat konten mana yang paling banyak ditonton, disukai, dibagikan, atau dikomentari. Kalau ada jenis konten yang banyak mendapat respons, kamu bisa membuat konten lain dengan tema atau cara yang serupa.
7. Jangan Menunggu Konten Terlihat Sempurna
Kamu tidak harus memiliki kamera mahal atau tempat khusus untuk membuat konten. Selama produk terlihat jelas dan informasi yang disampaikan mudah dipahami, kamu sudah bisa mulai menggunakan ponsel untuk membuat konten.
Setelah mengetahui berbagai contoh konten promosi produk dan tips membuatnya, kamu bisa mulai mencoba menerapkannya untuk mengenalkan usaha kepada lebih banyak pelanggan.
Namun, mengembangkan usaha tentu tidak hanya membutuhkan promosi. Kamu juga perlu terus belajar tentang cara mengelola usaha, keuangan, dan memanfaatkan teknologi untuk mendukung perkembangan bisnis.
Salah satu upaya untuk menambah pengetahuan dan keterampilan tersebut adalah mengikuti program Pengembangan Kapasitas Usaha (PKU) dari PNM.
PT Permodalan Nasional Madani (PNM) merupakan lembaga keuangan nonbank milik negara yang memberikan pembiayaan sekaligus pendampingan bagi pengusaha UMKM.
Sejalan dengan campaign Melayani Sepenuh Hati, PNM menghadirkan berbagai pelatihan untuk mengembangkan usaha, termasuk literasi keuangan, pengelolaan usaha, dan pemanfaatan teknologi digital.
Jadi, jika kamu menjadi nasabah PNM Mekaar atau PNM ULaMM, dukungan yang diberikan tidak hanya berupa modal usaha. Kamu juga bisa mendapatkan pengetahuan dan pendampingan agar modal tersebut dapat digunakan dan dikelola dengan lebih baik untuk membantu mengembangkan usaha.
Perlu kamu ketahui, PNM tidak menyediakan pinjaman online melalui aplikasi atau website. Pengajuan pembiayaan harus dilakukan secara langsung melalui kantor cabang PNM dan tidak menggunakan perantara online.
Untuk mengetahui informasi lebih lanjut tentang pembiayaan dan program pendampingan PNM, kamu bisa mengunjungi website resmi PNM atau menghubungi call center PNM di 1500-654.
(*)
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6