Jakarta (ANTARA) - Keloid dapat membuat permukaan kulit menonjol dan terkadang disertai rasa gatal atau nyeri. Kondisi ini umumnya tidak berbahaya, tetapi keloid dapat menetap dan memerlukan penanganan medis untuk mengecilkannya.
Keloid merupakan jaringan parut yang tumbuh berlebihan setelah kulit mengalami luka, misalnya akibat operasi, jerawat, tindik, luka bakar atau cedera. Berbeda dengan bekas luka biasa, keloid dapat terus tumbuh melewati batas luka semula.
American Academy of Dermatology (AAD) menyebut keloid tidak akan hilang dengan sendirinya. Karena itu, orang yang memiliki keloid atau melihat bekas luka mulai menebal disarankan berkonsultasi dengan dokter kulit untuk menentukan pilihan terapi.
Berikut delapan cara yang dapat digunakan untuk menangani keloid.
1. Menggunakan gel atau lembaran silikon
Silikon merupakan salah satu pilihan yang banyak digunakan dalam penanganan bekas luka menonjol. Produk dapat berbentuk lembaran maupun gel.
Silikon dapat membantu mengurangi ukuran, kekerasan, kemerahan, pembengkakan, rasa gatal dan kekakuan pada bekas luka yang menonjol. Lembaran silikon biasanya digunakan setiap hari selama beberapa bulan dan hanya boleh ditempelkan setelah luka tertutup.
Silikon juga dapat digunakan untuk membantu mencegah keloid berkembang setelah luka sembuh, terutama pada orang yang memang memiliki kecenderungan membentuk keloid.
Baca juga: Benarkah rosemary efektif untuk regenerasi kulit dan samarkan bekas luka?
Baca juga: 7 rekomendasi body lotion untuk menghilangkan bekas luka
2. Suntikan kortikosteroid
Suntikan kortikosteroid langsung ke jaringan keloid merupakan salah satu terapi yang sering digunakan dokter kulit.
Obat tersebut dapat membantu mengecilkan dan melunakkan keloid sekaligus mengurangi gejala seperti gatal dan rasa tidak nyaman. AAD mencatat sekitar 50 hingga 80 persen keloid menyusut setelah mendapatkan suntikan kortikosteroid, meski sebagian dapat tumbuh kembali dalam beberapa tahun.
Karena itu, dokter dapat mengombinasikan suntikan dengan metode lain untuk menurunkan kemungkinan keloid kembali.
3. Terapi tekanan
Terapi tekanan dilakukan dengan memberikan tekanan pada area keloid menggunakan alat khusus, seperti perban tekan, pakaian tekanan atau anting tekanan untuk keloid pada telinga.
Metode ini dapat membantu mengurangi aliran darah ke jaringan parut sehingga pertumbuhan keloid dapat ditekan. Namun, alat tekanan biasanya perlu digunakan dalam waktu lama agar memberikan hasil.
Pada keloid telinga, dokter dapat merekomendasikan pressure earring setelah tindakan tertentu untuk membantu mencegah keloid tumbuh kembali.
4. Cryotherapy
Cryotherapy atau terapi pembekuan menggunakan suhu sangat rendah untuk menghancurkan sebagian jaringan keloid.
Metode tersebut dapat membantu mengurangi ukuran dan kekerasan keloid serta cenderung lebih sesuai untuk keloid berukuran kecil. Dalam sejumlah kasus, cryotherapy dikombinasikan dengan suntikan kortikosteroid.
Namun, metode ini perlu dipertimbangkan secara hati-hati pada orang dengan kulit lebih gelap karena dapat menyebabkan perubahan warna kulit yang menetap.
5. Terapi laser
Laser dapat digunakan untuk mengurangi ketinggian dan memudarkan warna keloid. Terapi ini umumnya tidak berdiri sendiri dan dapat dikombinasikan dengan suntikan kortikosteroid atau terapi lainnya.
Tinjauan sistematis dan meta-analisis yang diterbitkan pada 2024 membandingkan terapi eksisi yang diikuti radioterapi dengan laser yang dikombinasikan steroid. Dari 26 penelitian yang melibatkan 989 pasien, kelompok laser dan steroid memiliki angka kekambuhan gabungan sekitar 12,2 persen, sedangkan eksisi dan radioterapi sekitar 13,5 persen. Peneliti menekankan perlunya penelitian komparatif lebih lanjut.
6. Kombinasi kortikosteroid dengan obat lain
Pada keloid tertentu, dokter dapat mempertimbangkan obat yang disuntikkan langsung ke jaringan keloid selain kortikosteroid.
Salah satu yang telah diteliti adalah kombinasi kortikosteroid dengan 5-fluorouracil (5-FU). Tinjauan sistematis dan meta-analisis 2024 menunjukkan kombinasi tersebut menjadi salah satu pendekatan yang diteliti untuk meningkatkan efektivitas penanganan keloid dan bekas luka hipertrofik.
Penggunaan obat ini harus dilakukan oleh tenaga medis karena pemilihan dosis dan metode pemberian perlu disesuaikan dengan kondisi keloid.
Baca juga: Dokter: RFA jadi solusi pengobatan operasi tiroid tanpa ada bekas luka
7. Operasi pengangkatan keloid
Keloid juga dapat diangkat melalui prosedur operasi. Namun, operasi tidak dianjurkan sebagai satu-satunya terapi karena keloid memiliki risiko tinggi untuk tumbuh kembali.
AAD menyebut hampir 100 persen keloid dapat kembali setelah hanya dilakukan pengangkatan melalui operasi. Oleh sebab itu, dokter biasanya mempertimbangkan terapi tambahan, seperti suntikan kortikosteroid, terapi tekanan atau metode lainnya setelah operasi.
Tinjauan sistematis dan meta-analisis pada 2024 juga menunjukkan kombinasi pengangkatan keloid dengan steroid atau radioterapi memiliki hasil bebas kekambuhan yang lebih baik dibandingkan operasi saja pada keloid daun telinga.
8. Operasi yang dikombinasikan dengan radioterapi
Untuk keloid tertentu, terutama yang sulit ditangani atau berulang, dokter dapat mempertimbangkan operasi yang diikuti radioterapi.
Radioterapi setelah pengangkatan keloid bertujuan menekan pertumbuhan kembali jaringan parut. Tinjauan sistematis terbaru yang mencakup 22 penelitian dan lebih dari 2.219 pasien menemukan angka kekambuhan yang bervariasi, sekitar 1,6 hingga 55,2 persen, tergantung dosis, teknik, jadwal terapi dan lama pemantauan.
Karena radioterapi memiliki risiko dan keterbatasan tersendiri, keputusan penggunaannya harus dibuat oleh dokter berdasarkan kondisi pasien.
Apakah keloid bisa hilang total?
Keloid dapat dikecilkan dan dibuat lebih rata, tetapi tidak ada satu metode yang menjamin keloid hilang permanen pada semua orang.
Pilihan terapi biasanya ditentukan berdasarkan ukuran, lokasi, usia keloid, riwayat kekambuhan dan kondisi kulit. Tinjauan berbasis bukti menunjukkan silikon atau lembaran silikon bersama suntikan kortikosteroid termasuk pendekatan lini pertama yang banyak didukung literatur, sementara terapi seperti 5-FU, laser, cryotherapy, operasi dan radioterapi dapat dipertimbangkan sesuai kondisi.
Karena keloid mudah kambuh, kombinasi beberapa metode terkadang diperlukan untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.
Jangan sembarangan mengoleskan bahan ke keloid
Keloid tidak sebaiknya ditangani dengan cara menggaruk, mengorek atau mencoba memotong jaringan sendiri. Tindakan tersebut justru dapat menyebabkan luka baru dan berpotensi memperburuk pembentukan jaringan parut.
Jika bekas luka semakin menebal, terasa gatal atau nyeri, ukurannya terus bertambah, atau muncul setelah tindik maupun operasi, sebaiknya konsultasikan kepada dokter kulit. Pemeriksaan diperlukan untuk memastikan apakah benjolan tersebut benar-benar keloid atau jenis bekas luka lainnya.
Dengan demikian, cara menghilangkan keloid perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien. Penggunaan silikon dapat menjadi pilihan untuk kasus tertentu, sedangkan keloid yang lebih besar atau sulit ditangani mungkin membutuhkan suntikan, laser, cryotherapy, operasi maupun kombinasi terapi di bawah pengawasan dokter.
Baca juga: Kiat menghilangkan bekas luka membandel
Baca juga: Perbedaan skar hipertrofik dengan keloid
Baca juga: Suntik steroid bisa perbaiki jaringan keloid
Pewarta: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.