Jakarta (ANTARA) - Mengelola penghasilan sejak usia muda menjadi langkah penting untuk menjaga kondisi keuangan tetap sehat. Namun, sejumlah kebiasaan seperti belanja impulsif hingga tidak memiliki dana darurat masih kerap dilakukan.
Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 mencatat indeks literasi keuangan nasional sebesar 66,46 persen, sedangkan inklusi keuangan mencapai 80,51 persen. Pada kelompok usia 18-25 tahun, indeks literasi keuangan tercatat 73,22 persen dan kelompok usia 26-35 tahun sebesar 74,04 persen.
Meski tingkat literasi pada kelompok usia tersebut relatif tinggi, kemampuan mengelola uang tetap perlu dibarengi kebiasaan finansial yang baik. Berikut tujuh kesalahan yang perlu dihindari.
1. Tidak membuat anggaran bulanan
Kesalahan pertama adalah menggunakan penghasilan tanpa membuat batas pengeluaran yang jelas.
Tanpa anggaran, seseorang akan lebih sulit mengetahui berapa uang yang tersedia untuk kebutuhan pokok, tabungan, cicilan, hiburan dan kebutuhan lainnya.
Mencatat pemasukan dan pengeluaran dapat membantu mengetahui ke mana uang digunakan sekaligus menentukan prioritas.
Baca juga: 8 cara praktis mengelola uang sesuai teladan Rasulullah SAW
2. Menabung hanya dari sisa gaji
Menunggu uang tersisa di akhir bulan untuk ditabung sering membuat jumlah tabungan tidak konsisten.
Kebiasaan yang lebih baik adalah menentukan nominal tabungan sejak awal menerima penghasilan. Dengan begitu, tabungan menjadi bagian dari anggaran bulanan, bukan sekadar uang yang disimpan jika masih tersisa.
Besarnya nominal tidak harus sama untuk setiap orang. Yang terpenting adalah dilakukan secara rutin dan disesuaikan dengan kemampuan.
3. Terlalu mengikuti gaya hidup
Kenaikan penghasilan tidak selalu harus diikuti kenaikan gaya hidup.
Ketika pendapatan meningkat, sebagian orang justru menambah pengeluaran untuk makan di luar, belanja, hiburan, kendaraan atau berbagai layanan berlangganan.
Jika seluruh kenaikan penghasilan langsung digunakan untuk konsumsi, kemampuan membangun tabungan dan aset bisa tetap rendah.
Karena itu, peningkatan pendapatan sebaiknya juga diikuti peningkatan alokasi untuk tabungan, dana darurat atau tujuan keuangan jangka panjang.
Baca juga: Penyebab dan cara mengelola stres karena masalah keuangan
4. Mengandalkan paylater dan utang konsumtif
Kemudahan pembayaran digital dapat membuat seseorang lebih mudah membeli barang yang sebenarnya belum mampu dibayar.
Utang untuk kebutuhan produktif dan utang konsumtif memiliki konsekuensi berbeda. Masalah dapat muncul ketika cicilan digunakan terus-menerus untuk memenuhi keinginan.
Sebelum mengambil cicilan, perhitungkan kemampuan membayar seluruh kewajiban setiap bulan dan jangan hanya melihat besarnya cicilan awal.
5. Tidak memiliki dana darurat
Dana darurat diperlukan untuk menghadapi pengeluaran yang tidak direncanakan, seperti kehilangan pekerjaan, kebutuhan kesehatan atau kerusakan barang penting.
Tanpa dana cadangan, seseorang bisa terpaksa menggunakan kartu kredit, pinjaman atau paylater ketika menghadapi keadaan mendesak.
Karena itu, dana darurat sebaiknya dibangun secara bertahap dan dipisahkan dari uang yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
6. Berinvestasi tanpa memahami risikonya
Investasi memang dapat menjadi bagian dari perencanaan keuangan, tetapi bukan berarti semua produk investasi cocok untuk setiap orang.
Kesalahan yang sering terjadi adalah mengikuti tren atau rekomendasi orang lain tanpa memahami cara kerja produk, risiko kerugian, biaya dan tujuan investasinya.
SNLIK 2025 menunjukkan literasi masyarakat pada sejumlah sektor jasa keuangan masih berbeda cukup jauh. Misalnya, indeks literasi pasar modal tercatat 17,78 persen, sedangkan perbankan 65,50 persen. Data tersebut menunjukkan pentingnya memahami produk keuangan sebelum menggunakannya.
Baca juga: 7 cara mengatur keuangan rumah tangga agar tidak boros & tetap stabil
7. Tidak memiliki tujuan keuangan
Menabung tanpa tujuan sering membuat seseorang mudah mengambil kembali uang yang sudah disisihkan.
Tujuan keuangan dapat dibuat berdasarkan jangka waktu, misalnya dana darurat untuk kebutuhan tidak terduga, tabungan liburan, biaya pendidikan, membeli kendaraan, uang muka rumah hingga persiapan masa pensiun.
Dengan tujuan yang jelas, seseorang dapat menentukan berapa nominal yang harus disisihkan dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapainya.
Cara mengelola uang agar lebih sehat
Anak muda dapat mulai memperbaiki kebiasaan finansial dengan langkah sederhana. Pertama, catat seluruh pemasukan dan pengeluaran. Kedua, tentukan kebutuhan yang harus dibayar setiap bulan. Ketiga, sisihkan uang untuk tabungan atau dana darurat setelah menerima penghasilan.
Selanjutnya, batasi utang konsumtif, jangan mudah tergoda investasi hanya karena sedang populer dan lakukan evaluasi keuangan secara berkala.
OJK dan BPS dalam SNLIK 2025 juga menunjukkan bahwa tingkat literasi keuangan kelompok usia 18-25 tahun dan 26-35 tahun masing-masing mencapai 73,22 persen dan 74,04 persen. Angka tersebut menunjukkan kelompok usia muda memiliki tingkat literasi yang relatif tinggi, tetapi pengetahuan tetap perlu diterapkan dalam perilaku sehari-hari.
Pada akhirnya, mengelola uang bukan sekadar soal berapa besar penghasilan, tetapi bagaimana penghasilan tersebut digunakan. Kebiasaan membuat anggaran, menabung secara rutin, mengendalikan utang dan memiliki tujuan keuangan dapat membantu anak muda membangun kondisi finansial yang lebih kuat.
Baca juga: Cara Mengelola Tagihan Bulanan Secara Online agar Terhindar dari Denda
Baca juga: 10 cara mengatur keuangan bulanan agar gaji tidak cepat habis
Pewarta: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.