CNN Indonesia
Minggu, 16 Agu 2026 07:00 WIB
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --
Kucing dikenal sebagai hewan yang sensitif terhadap perubahan di sekitarnya. Hal-hal yang dianggap biasa oleh manusia ternyata bisa menjadi sumber stres bagi kucing.
Kedatangan tamu, misalnya, mungkin menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi pemilik rumah. Namun, bagi kucing, kehadiran orang baru berarti ada bau asing, suara berbeda, hingga perubahan rutinitas yang dapat membuatnya merasa tidak nyaman.
Stres pada kucing juga dapat dipicu oleh kehadiran hewan peliharaan baru, bayi, renovasi rumah, suara bising, pembangunan, hingga perubahan jadwal sehari-hari. Jika berlangsung terus-menerus, stres dapat memengaruhi kesehatan dan perilaku kucing.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karena itu, penting bagi pemilik untuk mengenali berbagai ciri kucing stres agar dapat segera mencari tahu penyebab dan memberikan penanganan yang tepat.
Kucing tidak dapat memberi tahu pemilik ketika sedang merasa tertekan. Namun, perubahan perilaku dan kondisi fisik dapat menjadi petunjuk.
Berikut sejumlah ciri kucing stres yang perlu diperhatikan, melansir berbagai sumber:
Salah satu tanda yang cukup mudah diamati adalah perubahan pola makan dan minum. Kucing yang sedang stres dapat kehilangan nafsu makan atau bahkan menolak makanan dan minuman.
Sebaliknya, sebagian kucing justru dapat makan lebih banyak sebagai respons terhadap kecemasan. Pemilik juga perlu memperhatikan gejala lain, seperti muntah atau diare.
Pilihan Redaksi
Perubahan tersebut memang bisa berkaitan dengan stres, tetapi juga dapat menjadi tanda adanya masalah kesehatan lain. Jika kucing tidak mau makan atau minum, sebaiknya jangan langsung menganggap penyebabnya hanya stres. Pemeriksaan oleh dokter hewan diperlukan untuk memastikan kondisi yang mendasarinya.
Perubahan pola tidur juga bisa menjadi tanda kucing sedang tidak nyaman. Kucing yang mengalami stres dapat tidur jauh lebih banyak dan terlihat tidak bersemangat. Namun, ada pula kucing yang justru menjadi gelisah, sering mondar-mandir, dan sulit beristirahat.
Kucing yang biasanya aktif berinteraksi dengan pemilik juga mungkin tiba-tiba lebih sering bersembunyi atau menghindari kontak dengan manusia dan hewan lain. Perubahan mendadak pada kebiasaan sehari-hari patut diperhatikan, terutama jika berlangsung cukup lama.
Stres dapat membuat perilaku kucing berubah drastis. Kucing yang biasanya tenang bisa menjadi lebih mudah marah, mendesis, menggeram, bahkan menunjukkan perilaku agresif kepada manusia atau hewan lain.
Perilaku merusak juga dapat muncul. Misalnya, kucing mencakar perabotan secara berlebihan atau melakukan aktivitas tertentu secara berulang. Kucing juga bisa buang air kecil di luar kotak pasir. Perubahan kebiasaan buang air ini tidak boleh dianggap sebagai kenakalan semata karena bisa menjadi tanda kucing sedang mengalami tekanan atau masalah kesehatan.
Kucing memang memiliki kebiasaan merawat tubuh dengan menjilati bulunya. Namun, jika dilakukan secara berlebihan, kebiasaan tersebut bisa menjadi tanda adanya masalah.
Kucing yang stres dapat menjilati bagian tubuh tertentu secara terus-menerus. Akibatnya, bulu di area tersebut dapat menipis atau rontok, bahkan kulitnya bisa mengalami luka. Perhatikan jika kucing terus menjilati bagian tubuh yang sama atau melakukan grooming dalam waktu yang jauh lebih lama dari biasanya.
Perubahan suara juga dapat menjadi petunjuk bahwa kucing sedang mengalami stres. Kucing yang biasanya tenang mungkin menjadi lebih sering mengeong, menggeram, atau mendesis.
Sebagian kucing juga dapat menunjukkan suara yang berbeda dari biasanya ketika merasa takut atau terancam. Perubahan vokalisasi tersebut perlu dilihat bersama tanda lainnya untuk mengetahui apakah kucing sedang mengalami stres atau memiliki masalah kesehatan tertentu.
Kucing yang stres dapat memilih menghindari lingkungan atau situasi yang membuatnya merasa tidak aman. Salah satu caranya adalah dengan lebih sering bersembunyi.
Kucing mungkin menghabiskan lebih banyak waktu di bawah tempat tidur, di dalam lemari, atau di sudut rumah yang jarang didatangi manusia. Jika kebiasaan tersebut muncul setelah adanya perubahan di rumah, seperti kedatangan hewan baru, renovasi, atau suara bising, pemilik sebaiknya memperhatikan kondisi kucing lebih lanjut.
Kucing yang mengalami stres juga dapat mengalami perubahan kebiasaan menggunakan kotak pasir. Salah satunya adalah buang air kecil atau buang air besar di tempat yang tidak biasa.
Perilaku ini dapat menjadi cara kucing merespons tekanan atau perubahan lingkungan. Namun, masalah buang air juga dapat berkaitan dengan gangguan kesehatan sehingga pemeriksaan dokter hewan tetap diperlukan, terutama jika perubahan terjadi secara tiba-tiba.
(tis/tis)