Jakarta -
Keraton Yogyakarta menjadi bukti kerajaan di Indonesia yang masih aktif hingga sekarang. Tak hanya sistem pemerintahan saja yang membuat penasaran, tapi juga berbagai kulinernya.
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dikenal sebagai daerah di Pulau Jawa yang sistem pemerintahannya masih berupa kerajaan. Kerajaan ini disebut sebagai Keraton Ngayogyakarta atau lebih umum 'Keraton Yogyakarta'.
Pimpinan Keraton Yogyakarta saat ini adalah Sri Sultan Hamengkubuwono X. Diketahui juga kalau saat ini menjabat sebagai Gubernur D.I Yogyakarta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fakta seputar Keraton Yogyakarta selalu menarik untuk dibahas, termasuk kuliner khasnya. Setidaknya, ada 6 pilihan makanan istimewa yang cita rasanya lezat dan mengandung filosofi.
Songgo Buwono kuliner khas Jogja. Foto: dok. laman Setneg
Songgo Buwono termasuk makanan khas Keraton Yogyakarta yang istimewa. Jurnal berjudul 'Potensi Sangga Buwana Dengan Substitusi Tepung Sukun Sebagai Makanan Siap Saji yang Sehat" karya Marcellus Arnold, Rio Lawandra, Yolanda Victoria, Tri Oktaviani, dan Emely dari Fakultas Ilmu Hayati, Universitas Surya menjelaskan, songgo buwono merupakan suatu kuliner khas Jogja yang terdiri dari tiga bagian, yaitu kue sus isi ragout, telur ayam yang dipotong dan diletakkan di atas kue sus, dan bagian penyerta yang terdiri dari selada, acar timun, wortel, nanas, hingga irisan bawang merah, seperti dikutip dari detikJogja (17/10/2023).
Nama hidangan istimewa ini berasal dari dua kata, yaitu 'songga' yang berarti menyangga, dan 'buwono' yang berarti bumi atau alam semesta. Sehingga kuliner ini memiliki filosofi, yakni kue sus sebagai simbol bumi, selada sebagai penyangga bumi, dan ragout daging yang menyimbolkan rakyat atau keanekaragaman bumi.
Songgo Buwono biasanya disajikan pada saat hajatan atau jamuan tamu luar negeri. Diketahui juga kalau songgo buwono merupakan makanan favorit dari Sri Sultan Hamengku Buwono VIII.
Gudeg dikenal sebagai makanan khas Yogyakarta yang terbuat dari nangka muda, tapi berbeda dengan karakteristik gudeg manggar yang merupakan makanan khas Bantul. Alih-alih menggunakan nangka muda, gudeg ini terbuat dari manggar atau putik bunga kelapa yang masih muda.
Gudeg manggar ternyata salah satu jenis gudeg yang terbilang langka, karena bahan bakunya sulit ditemukan. Jenis gudeg ini juga disebut sebagai warisan budaya. Hidangan istimewa ini juga termasuk sebagai makanan khas Keraton Yogyakarta.
Tak hanya bahan bakunya yang berbeda, tapi juga rasanya. Gudeg yang terbuat dari nangka biasanya lembut, sedangkan tekstur gudeg manggar lebih renyah. Ciri khas lainnya terdapat pada rasanya yang lebih gurih.
Hidangan istimewa lainnya adalah Nasi Blawong. Ini merupakan nasi rempah tradisional khas Keraton Yogyakarta yang disajikan secara sakral untuk perayaan ulang tahun Sultan.
Nasi Blawong berwarna merah muda atau kecokelatan yang merupakan racikan nasi putih dengan bumbu rempah. Cita rasanya gurih beraroma khas. Biasanya disajikan bersama olahan daging sapi khas Jawa, baceman ayam, telur pindang, dan rempeyek.
Makanan khas Keraton Yogyakarta lainnya yang tak kalah menarik adalah Lombok Kethok. Ini merupakan olahan daging sapi atau tetelan yang dimsak dengan bumbu iris bercita rasa pedas gurih.
Bumbu irisnya berupa cabai merah dan hijau besar yang berjumlah banyak. Selain itu, ada juga bawang merah, bawang putih, lengkuas, dan daun salam agar harum sedap.
Nama Lombok Kethok berarti olahan daging yang bumbu cabainya (lombok) itu terlihat (kethok). Ini karena menggunakan banyak potongan cabai yang besar-besar.
Sop Buntut hingga Manuk Nom, Hidangan Istimewa di Akad Nikah Kaesang-Erina Foto: Site News
Tak hanya hidangan utama yang menggugah selera dari Keraton Yogyakarta, tapi juga hidangan penutup. Ada Manuk Nom yang merupakan sajian puding tradisional khas Keraton Yogyakarta.
Puding berwarna hijau ini terbuat dari campuran tape ketan, susu, telur, dan gula. Nama 'Manuk Nom' ini berarti 'burung muda', karena bentuknya yang menyerupai anak burung.
Hidangan bercita rasa manis lembut dengan aroma fermentasi khas tape ini juga disajikan bersama emping melinjo. Emping ini disajikan di sisi kanan dan kiri menyerupai sayap burung.
Perawan Kenes, Pisang Panggang Dijepit Bambu Favorit Raja Jogja. Foto: Dok. laman resmi Dinas Pertanian dan Pangan Jogja
Satu lagi hidangan khas Keraton Yogyakarta yang menarik, yaitu Prawan Kenes (Pisang Kenes). Kudapan manis ini merupakan makanan favorit para raja, seperti Sri Sultan Hamengku Buwono VII, VIII, dan IX.
Nama kudapan manis berbahan pisang ini adalah Prawan Kenes yang artinya 'gadis genit atau lincah' dalam bahasa Jawa. Hidangan ini berupa pisang kepok atau pisang raja yang dibungkus daun pandan, lalu dikukus (dibakar) setelah dijepit menggunakan bilah bambu.
Penyajian dari kudapan pisang ini disiram dengan santan gurih. Cita rasanya ada manis dengan sentuhan gurih dan santan yang kental.
Halaman 2 dari 2
Simak Video "Gulai Kerapu & Sayur Tauco Kok di Nasi Padang?"
[Gambas:Video 20detik]
(yms/adr)