Jenis Batuan yang Mudah Mengalami Pelapukan – Pernahkah Grameds, saat hiking ke daerah perbukitan atau main ke sungai yang penuh batuan besar, kamu menemukan batu yang kelihatannya kokoh banget tapi saat diinjak malah keropos, hancur, atau berubah jadi tanah?
Atau mungkin kamu pernah penasaran, kenapa ada candi atau tebing batu ratusan tahun yang ukirannya masih utuh, tapi ada tebing batuan lain yang gampang longsor dan terkikis hanya karena sering diguyur hujan?
Nah, jawabannya itu terletak pada fenomena geologi yang namanya pelapukan batuan (rock weathering).
Di dalam ilmu kebumian dan pertanahan, tidak semua batu dibuat sejajar atau punya daya tahan yang sama terhadap alam. Ada batu yang super tangguh menahan gempuran zaman, tapi ada juga jenis batuan yang sangat rentan hancur begitu terpapar air, udara, perubahan suhu, atau aktivitas organisme.
Memahami jenis batuan yang mudah mengalami pelapukan bukan cuma menarik dari segi sains, Grameds. Pengetahuan ini punya peran vital di dunia rekayasa sipil, pertanahan, hingga mitigasi bencana longsor! Kok bisa?
Soalnya, batuan yang gampang lapuk bakal berubah jadi lapisan tanah tebal yang kalau kena hujan lebat bisa bikin lereng tebing kehilangan kestabilannya. Yuk, kita kupas tuntas di artikel ini.
Daftar Isi

Nah, ini dia inti pembahasannya, Grameds! Berdasarkan klasifikasi geologi, batuan dibagi menjadi tiga kelompok besar: Sedimen, Beku, dan Metamorf. Di antara ketiga kelompok tersebut, berikut adalah daftar jenis batuan yang paling mudah mengalami pelapukan:
Batuan sedimen umumnya terbentuk dari endapan material di permukaan bumi, sehingga struktur perekatnya relatif lebih lemah dibanding batuan beku atau metamorf.
Batu Batukapur / Gamping (Limestone)
Batukapur adalah salah satu contoh utama jenis batuan yang mudah mengalami pelapukan kimiawi. Batu ini tersusun dominan atas mineral kalsit / kalsium karbonat (CaCO3).
Dikutip dan dilansir dari publikasi kebumian dan mekanika tanah, batu serpih dan batu lempung merupakan batuan sedimen klastik halus yang sangat tidak tahan terhadap perubahan cuaca (weathering sensitive).
Batu ini memiliki sifat yang disebut slaking (merekah/hancur saat terendam air). Karena strukturnya tersusun dari mineral lempung yang pipih dan menyerap air, begitu terkena siklus basah-kering berulang, ikatan batunya jebol dan seketika berubah kembali menjadi lumpur atau tanah lempung yang sangat licin.
Daerah dengan substrat batu serpih sering kali menjadi zona merah rawan longsoran tipe rotasional maupun aliran lumpur!
Meskipun butiran pasirnya (kuarsa) sangat keras, ketahanan batu pasir sangat bergantung pada bahan penyemennya.
Batupasir yang direkatkan oleh semen kalsit atau lempung sangat cepat mengalami pelapukan dibanding yang direkatkan oleh semen silika. Begitu semen kalsitnya larut terkena air hujan, butiran-butiran pasirnya akan terurai dan terlepas menjadi pasir lelah.
Batuan beku terbentuk dari pembekuan magma atau lava. Walau kelihatannya sangat keras dan masif, beberapa jenis batuan beku yang kaya mineral mafik (besi dan magnesium) sangat mudah mengalami pelapukan kimiawi di daerah beriklim tropis!
Basalt adalah batuan beku luar (ekstrusif) berwarna gelap yang kaya akan mineral mafik seperti olivin, piroksen, dan plagioklas kaya kalsium.
Indonesia kaya akan batu tufa karena banyaknya gunung berapi aktif. Tufa terbentuk dari konsolidasi abu, pasir, dan material piroklastik hasil erupsi gunung api.
Batuan metamorf adalah batu yang mengalami perubahan akibat suhu dan tekanan tinggi. Meski umumnya kuat, ada beberapa jenis batuan metamorf yang mudah lapuk karena memiliki bidang foliasi (penjajaran mineral).
Batu skis dan batusabak kaya akan mineral mika (seperti muskovit dan biotit) yang tersusun berlapis-lapis (foliasi).



Setelah kita absen satu per satu jenis batuannya, mari kita samakan frekuensi dulu tentang konsep pelapukan itu sendiri, Grameds.
Secara sederhana, pelapukan batuan adalah proses hancurnya atau berubahnya material batuan induk di permukaan bumi, baik secara fisik, kimia, maupun biologi, akibat berinteraksi langsung dengan atmosfer, hidrosfer, dan biosfer dalam jangka waktu tertentu.
Dikutip dan dilansir dari ilmu geologi fisik dan geomorfologi, proses pelapukan dibedakan menjadi tiga jenis utama:
Batuan pecah menjadi fragmen-fragmen yang lebih kecil tanpa mengubah komposisi kimianya. Contohnya akibat pemuaian-penyusutan suhu ekstrem, pembekuan air di celah batuan (frost wedging), atau kristalisasi garam.
Batuan mengalami perubahan struktur mineral atau pelarutan kimiawi akibat reaksi dengan air (H2O), oksigen (O2), atau karbon dioksida (CO2). Prosesnya meliputi pelarutan (dissolution), oksidasi (pengkaratan), dan hidrolisis.
Pelapukan yang dibantu oleh aktivitas makhluk hidup, seperti desakan akar pohon yang memecah celah batuan atau penyerapan zat hara oleh lumut dan mikroorganisme yang mengeluarkan senyawa asam.
Kenapa sih resistensi tiap batu bisa beda-beda? Menurut prinsip dasar mineralogi yang dikenal dengan nama Deret Reaksi Bowen (Bowen’s Reaction Series), mineral yang terbentuk pada suhu dan tekanan paling tinggi di dalam perut bumi (seperti mineral olivin) justru menjadi mineral yang paling tidak stabil dan paling gampang lapuk saat terpapar lingkungan permukaan bumi.
Secara umum, tingkat kerentanan batuan terhadap pelapukan dipengaruhi oleh:
Batuan yang kaya akan mineral lempung, kalsit, atau olivin jauh lebih cepat lapuk dibandingkan batuan yang didominasi oleh kuarsa (SiO2) yang super stabil.
Batuan berpori atau memiliki banyak retakan/kekar (joints) akan memberi ruang bagi air dan udara untuk masuk merusak bagian dalam batu.
Pada batuan sedimen, seberapa kuat bahan perekat (semen kalsit, silika, atau besi) mengikat butir-butir batuannya.
Iklim tropis basah dengan curah hujan tinggi dan suhu hangat (seperti di Indonesia) adalah “musuh terbesar” batuan karena mempercepat reaksi kimia ratusan kali lebih cepat dibanding daerah kutub atau gurun pasir.


Biar kamu makin gampang membayangkan dan membandingkan perbedaannya, yuk cek ringkasan tabel di bawah ini, Grameds:
| Jenis Batuan | Kelompok Batuan | Agen Pelapukan Utama | Sifat Hasil Pelapukan | Potensi Kebencanaan |
| Batukapur (Limestone) | Sedimen | Air hujan asam (H2CO3) | Melarut, membentuk rongga & gua kars. | Lubang Runtuhan (Sinkhole), Amblesan. |
| Batu Serpih (Shale) | Sedimen | Air & Siklus Basah-Kering | Hancur kembali jadi tanah lempung licin. | Longsoran Translasi & Aliran Lumpur. |
| Batu Basalt | Beku | Oksidasi & Hidrolisis | Mengarat, pecah membulat jadi laterit. | Longsoran Tanah Pelapukan Tebal. |
| Tufa Vulkanik (Tuff) | Beku (Piroklastik) | Infiltrasi Air & Pelapukan Biologi | Mengembang, cepat jadi tanah vulkanik remah. | Lahar Dingin, Erosi Gulal & Longsor Dangkal. |
| Batu Skis (Schist) | Metamorf | Air di Bidang Foliasi | Terkelupas menjadi kepingan tipis. | Longsoran Batuan / Rockslide. |
Pemahaman tentang jenis batuan yang mudah mengalami pelapukan ini bukan sekadar hafalan sains di ruang kelas, Grameds. Di dunia nyata sifat pelapukan batuan punya dampak langsung yang sangat masif:
Pelapukan batuan adalah cikal bakal terbentuknya tanah di bumi (pedogenesis). Batuan beku vulkanik yang cepat lapuk menghasilkan tanah vulkanik yang sangat subur bagi pertanian Indonesia.
Ketika batuan keras di lereng tebing berubah menjadi tanah pelapukan akibat pelapukan kimiawi, nilai kohesi dan sudut geser dalamnya merosot drastis. Saat musim hujan tiba, tanah pelapukan yang tebal ini menyerap air, bertambah berat, dan memicu bencana tanah longsor skala besar.
Bangunan, jalan tol, atau jembatan yang dibangun di atas fondasi batuan yang mudah lapuk (seperti batu serpih atau batukapur) berisiko mengalami penurunan fondasi tak merata (differential settlement) karena batuan di bawahnya perlahan melarut atau hancur saat terkena air bawah tanah.



Dikutip dan dilansir dari panduan teknis Kementerian PUPR, Soil Nailing adalah teknik perkuatan lereng in-situ (langsung di lokasi) dengan cara memasukkan batang-batang baja (rebar) ke dalam lubang bor di tubuh lereng, disuntik adukan semen (grouting), lalu dilapisi beton tembak (shotcrete) di permukaannya.
Prinsip Dasarnya: Mengubah tanah alami yang tadinya lepas dan rawan longsor menjadi satu kesatuan massa tanah komposit yang padat, kaku, dan kokoh.
Soil nailing bekerja memotong calon bidang gelincir (slip surface) di dalam tebing melalui 3 cara utama:
Saat massa tanah luar mencoba meluncur, paku baja yang tertancap hingga ke lapisan batuan dalam akan memberikan perlawanan gaya tarik yang kuat.
Adukan semen (grout) mengikat pori-pori tanah di sekeliling paku, menciptakan gesekan ekstra yang mengunci massa tanah.
Lapisan beton tembak dan kawat anyam (wiremesh) mencegah erosi tanah lokal dan menghalangi air hujan meresap langsung ke dalam tebing.
Sistem soil nailing memilki komponen utama, yakni:
Pekerjaan dilakukan secara bertahap dari atas ke bawah (top-down):
| Keunggulan | Keterbatasan |
| Efisien di Lahan Sempit: Alat bor fleksibel dan hemat ruang. | Kurang Cocok untuk Tanah Sangat Lunak: Lemah pada lempung sangat lembek atau pasir lepas. |
| Lebih Ekonomis: Hemat biaya 30%–50% dibanding dinding penahan beton raksasa. | Membutuhkan Izin Lahan: Paku menancap dalam hingga menembus batas tanah di bawah permukaan. |
| Tahan Gempa: Struktur fleksibel dan komposit di dalam bumi. | Risiko Korosi Jangka Panjang: Butuh pelapisan anti-karat yang sempurna. |
Dari seluruh pembahasan di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa jenis batuan yang mudah mengalami pelapukan seperti batu kapur, batu serpih, batu basalt, tufa vulkanik, hingga batu skis memiliki karakteristik fisik dan kimia khusus yang membuatnya sangat rentan terhadap gempuran air, udara, dan perubahan cuaca.
Mengetahui jenis-jenis batuan ini memberikan kita kacamata baru dalam melihat alam sekitar. Kita jadi tahu mana kawasan berbukit yang aman untuk pemukiman, dan mana daerah yang tanahnya rawan serta butuh perhatian ekstra dalam rekayasa geoteknik.
Metode perkuatan lereng soil nailing bisa menjadi solusi praktis, ekonomis, dan canggih untuk mengubah tebing rawan longsor menjadi massa tanah yang kokoh. Dengan perpaduan paku baja, injeksi semen, dan sistem drainase yang baik, kestabilan lereng dapat terjaga dengan aman dalam jangka panjang!
Bumi tempat kita berpijak itu dinamis dan terus berubah setiap detiknya. Dengan terus belajar dan memahami ilmu sains kebumian, kita bisa melangkah lebih bijak, aman, dan siap menghadapi potensi dinamika alam di sekitar kita!
Buat kamu para Grameds yang penasaran dan ingin terus menggali rahasia geologi, jenis-jenis mineral, sains mekanika tanah, hingga panduan mitigasi bencana alam secara komprehensif, yuk langsung berselancar ke Gramedia.com!
Di Gramedia.com, kamu bisa menemukan berbagai macam pilihan buku geologi populer, ensiklopedia kebumian, hingga literatur ilmiah terlengkap dari berbagai ahli dan akademisi tepercaya. Perluas wawasan dan literasi sainsmu sekarang juga hanya bersama Gramedia!
Penulis: Widya