Jakarta -
Di balik kelezatannya, konsumsi makanan ini bisa menyebabkan efek samping serius bagi usus. Kandungannya bisa mengganggu keseimbangan mikrobioma.
Kesehatan usus dipengaruhi oleh makanan dan minuman yang dikonsumsi sehari-hari. Asupan bebrapa jenis makanan ternyata bisa mengganggu keseimbangan mikrobioma usus.
Jika dikonsumsi berlebihan, makanan tertentu dapat memicu peradangan dan mengurangi jumlah mikroba baik. Dampaknya bisa berpengaruh pada kesehatan pencernaan hingga tubuh secara keseluruhan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak semua makanan memberi efek yang sama pada setiap orang. Namun, beberapa jenis makanan dan minuman berikut perlu diperhatikan, terutama jika sering dikonsumsi.
Ilustrasi daging merah. Foto: Site News
Daging merah seperti sapi, kambing, dan babi mengandung L-karnitin. Senyawa ini dapat diubah mikroba usus menjadi TMAO, yang dikaitkan dengan pengerasan pembuluh darah dan risiko penyakit jantung.
Daging merah olahan seperti bacon, sosis, dan pepperoni juga perlu dibatasi. Konsumsinya dapat memengaruhi mikroba usus yang memicu peradangan dan meningkatkan risiko kanker kolorektal.
Karenanya, konsumsi daging merah sebaiknya tetap diperhatikan. Terutama daging olahan yang berpotensi memberi dampak buruk bagi kesehatan jika dikonsumsi berlebihan.
Makanan ultra-proses dibuat secara industri dan umumnya minim bahan pangan utuh. Jenisnya sering tinggi lemak jenuh, gula tambahan, garam, serta zat aditif.
Contohnya minuman bersoda, makanan cepat saji, nugget ayam, hot dog, dan makanan manis. Konsumsi berlebihan dikaitkan dengan meningkatnya risiko penyakit jantung dan obesitas.
Makanan ultra-proses juga dapat mengurangi jumlah dan keragaman mikroba baik di usus. Kondisi ini bisa memicu peradangan serta meningkatkan risiko obesitas, demensia, dan Alzheimer.
Wine. Ilustrasi. Foto: Getty Images/Hispanolistic
Konsumsi alkohol dalam jangka panjang dapat mengubah keseimbangan mikrobioma usus secara signifikan. Alkohol bisa mengurangi jumlah mikroba baik dan meningkatkan mikroba yang merugikan.
Alkohol juga dapat meningkatkan permeabilitas usus atau membuat dinding usus lebih mudah ditembus. Kondisi ini memungkinkan zat berbahaya masuk ke aliran darah.
Perubahan mikrobioma dan permeabilitas usus tersebut dapat mengganggu kesehatan pencernaan. Karena itu, konsumsi alkohol dalam jangka panjang perlu diperhatikan.
Pemanis pengganti gula yang bebas gula dan kalori rupanya dapat mengganggu keseimbangan mikrobioma usus. Dampaknya antara lain memicu peradangan dan menurunkan asam lemak rantai pendek (SCFA) yang baik untuk pencernaan.
Gangguan pada mikrobioma usus akibat pemanis rendah kalori juga dikaitkan dengan risiko obesitas dan diabetes tipe 2. Namun, efeknya dapat berbeda pada setiap orang.
Penelitian pada hewan menunjukkan perubahan mikrobioma setelah konsumsi pemanis rendah kalori dapat memengaruhi metabolisme. Temuan ini masih perlu diteliti lebih lanjut pada manusia.
Produk susu ilustrasi. Foto: Getty Images/alvarez
Sebagian orang sulit mencerna produk susu karena kondisi tertentu. Salah satunya intoleransi laktosa, yang terjadi saat tubuh kekurangan enzim laktase untuk memecah gula dalam susu.
Konsumsi susu dan keju tinggi laktosa dapat memicu kembung, diare, hingga sakit perut. Sekitar 70% orang dewasa di dunia diketahui tidak memiliki cukup laktase.
Alergi susu juga dapat menyebabkan sakit perut, muntah, dan diare. Sementara penderita Crohn dan kolitis ulseratif mungkin perlu menghindari susu untuk mencegah gejala kambuh.
Halaman 2 dari 2
Simak Video " Ahli Gizi Anjurkan Konsumsi Daging Secara Bijak Saat Idul Adha "
[Gambas:Video 20detik]
(raf/adr)