ILUSTRASI. Pembangunan perumahan di Bogor (KONTAN/Baihaki)
Reporter: Ferry Saputra | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) mencatat ada lini lini bisnis asuransi yang menjadi penyumbang terbesar pendapatan premi industri asuransi umum per semester I-2026.
Wakil Ketua AAUI Bidang Statistik, Riset, dan Analisis Heri Supriyadi menyampaikan total pendapatan premi industri asuransi umum sebesar Rp 58,19 triliun per semester I-2026.
Secara rinci, Heri menyebut lini asuransi properti masih menjadi penyumbang terbesar pendapatan premi industri dengan nilai mencapai Rp 15,51 triliun per semester I-2026.
"Nilainya terkontraksi sebesar 13,8%, jika dibandingkan periode sama tahun sebelumnya," ungkapnya dalam konferensi pers AAUI di kawasan Jakarta Selatan, Jumat (4/9).
Baca Juga: Dana Deposito Jumbo Masih Diburu, Special Rate Jadi Tantangan Bank
Adapun lini asuransi properti berkontribusi sebesar 26,6% terhadap total pendapatan premi asuransi umum per semester I-2026. Heri menerangkan penurunan tersebut disebabkan adanya beberapa perusahaan asuransi yang mengalami penurunan kinerja di lini tersebut.
"Kami juga bisa memahami bahwa itu karena siklus. Dengan demikian, kami optimistis akhir tahun masih bisa positif," tuturnya.
Lebih lanjut, Heri bilang lini asuransi kendaraan bermotor menjadi penyumbang premi terbesar kedua dengan nilai sebesar Rp 9,85 triliun per semester I-2026. Nilainya mengalami pertumbuhan 4,9%, jika dibandingkan periode sama tahun lalu. Adapun kontribusi lini asuransi kendaraan bermotor sebesar 16,9% terhadap total pendapatan premi industri asuransi umum.
Heri menerangkan lini asuransi kredit menjadi penyumbang terbesar ketiga pendapatan premi industri dengan nilai mencapai Rp 9,32 triliun. Nilai itu tumbuh sebesar 9,3%, jika dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Adapun kontribusi lini tersebut sebesar 16% terhadap total pendapatan premi industri pada semester I-2026.
Meski bertumbuh, Heri menuturkan ada penurunan atau penyesuaian perolehan premi di lini tersebut. Dia bilang salah satunya disebabkan adanya streamlining atau proses penggabungan perusahaan asuransi di bawah Danantara. Dengan demikian, nantinya bisnis asuransi kredit kemungkinan akan dialihkan ke perusahaan penjaminan.
"Jadi, mungkin saya bisa mengatakan bahwa trigger utamanya karena streamlining. Konsep yang diusung oleh project management office untuk streamlining nanti akan ada asuransi umum hanya satu, asuransi jiwa hanya satu, terus asuransi penjaminan juga hanya satu. Kalau asuransi umum satu, bisnis kredit dan sebagainya diarahkan untuk dipindah ke penjaminan," ucapnya.
Selain itu, Heri menjelaskan perusahaan asuransi umum yang kini bermain di lini asuransi kredit bersikap lebih selektif dalam cover kredit. Sebab, kredit memiliki risiko yang terbilang tinggi.
"Memang harus benar-benar sangat selektif dan harus benar memilih kualitas dari kreditnya," ujar Heri.
Sementara itu, AAUI mencatat total klaim yang dibayarkan industri asuransi umum pada semester I-2026 sebesar Rp 6,18 triliun. Nilainya meningkat 29,2%, jika dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.
Baca Juga: Jamkrida Sumbar: Persaingan Tarif Masih Jadi Bagian Dinamika Industri Penjaminan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Tag