Jakarta -
Status lajang masih kerap dipandang sebagai sesuatu yang harus dipertanyakan. Tak sedikit orang yang mengaku sering mendapat pertanyaan 'kapan menikah?' saat berkumpul bersama keluarga, teman, atau kenalan baru.
Bahkan, ada sebagian orang yang memilih mengenakan cincin di jari manis agar tak lagi ditanya soal status hubungan. Padahal, tidak semua orang yang masih sendiri sedang mencari pasangan. Sebagian justru secara sadar memilih tetap melajang karena merasa pilihan tersebut lebih sesuai dengan kehidupan yang mereka inginkan.
Sebuah penelitian psikolog evolusi Menelaos Apostolou yang dipublikasikan pada 2017 menemukan bahwa keputusan untuk tetap lajang dipengaruhi banyak faktor. Mulai dari keinginan mengejar tujuan hidup, pengalaman dalam hubungan sebelumnya, hingga pertimbangan pribadi lainnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam studi berjudul 'Why People Stay Single', Apostolou mengidentifikasi 76 alasan seseorang memilih tetap melajang. Alasan-alasan tersebut kemudian dikelompokkan ke dalam 16 faktor yang terbagi dalam tiga kategori besar.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa status lajang tidak selalu disebabkan karena seseorang belum menemukan jodoh. Usia, jenis kelamin, hingga karakter individu turut memengaruhi keputusan tersebut.
Dirangkum dari Psychology Today, berikut beberapa alasan utama seseorang memilih tetap melajang.
1. Ingin hidup lebih bebas
Keinginan untuk memiliki kebebasan menjadi alasan yang paling banyak diungkap responden. Menurut Apostolou, orang yang masih lajang memiliki keleluasaan lebih besar untuk mengejar pendidikan, membangun karier, mengembangkan diri, menekuni hobi, hingga mencapai target finansial tanpa harus mempertimbangkan dinamika hubungan romantis.
Penelitian tersebut juga menemukan laki-laki lebih sering menjadikan kebebasan sebagai alasan utama dibandingkan perempuan. Dalam perspektif evolusi, kondisi ini dinilai memberi kesempatan bagi laki-laki untuk membangun karier dan status sosial terlebih dahulu sebelum memutuskan menjalin hubungan yang lebih serius.
2. Usia dan pengalaman mengubah prioritas
Usia juga memengaruhi cara seseorang memandang hubungan. Individu yang lebih muda cenderung menjadikan pendidikan atau karier sebagai prioritas sehingga belum ingin fokus mencari pasangan.
Sementara itu, orang yang lebih dewasa umumnya telah memiliki pengalaman menjalin hubungan. Pengalaman tersebut membuat mereka lebih memahami kebutuhan dan harapan dalam sebuah hubungan.
Tak sedikit yang akhirnya menyadari bahwa hidup melajang justru lebih sesuai dengan nilai dan tujuan hidup yang mereka miliki. Dengan kata lain, bertambahnya usia tidak selalu membuat seseorang ingin segera menikah.
3. Menghadapi kendala dalam menjalin hubungan
Selain karena pilihan pribadi, sebagian orang tetap melajang karena menghadapi berbagai hambatan dalam membangun hubungan.
Beberapa di antaranya merasa kesulitan menemukan pasangan yang cocok, memiliki kondisi kesehatan tertentu, penyandang disabilitas, atau telah memiliki anak dari hubungan sebelumnya sehingga menganggap memulai hubungan baru menjadi lebih kompleks.
Meski begitu, Apostolou menekankan bahwa alasan tersebut banyak dipengaruhi persepsi individu. Tidak sedikit orang yang meremehkan daya tarik maupun kualitas diri mereka, baik dari sisi fisik, emosional, maupun sosial.
Lajang bukan berarti tidak bahagia
Penelitian ini menegaskan bahwa keputusan untuk tetap melajang tidak selalu berkaitan dengan kegagalan menemukan pasangan. Bagi sebagian orang, hidup tanpa pasangan justru memberi ruang lebih besar untuk menikmati waktu bersama keluarga dan sahabat, memperdalam spiritualitas, atau fokus mengembangkan diri.
Pada akhirnya, memilih tetap melajang merupakan keputusan yang bersifat personal. Sama seperti keputusan untuk menikah, pilihan tersebut dapat menjadi jalan hidup yang membawa kebahagiaan selama dijalani sesuai kebutuhan, tujuan, dan nilai yang diyakini masing-masing individu.
Halaman 2 dari 2
Simak Video "Video: Tips Begadang Nonton Final Piala Dunia ala Menkes!"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/kna)