Rabu, 12 Agustus 2026 - 18:20 WIB
Jakarta, VIVA – Sebanyak tujuh tentara Amerika Serikat dilaporkan tewas setelah terlibat baku hantam di atas kapal induk USS Abraham Lincoln. Peristiwa tersebut disebut terjadi di tengah tekanan berat yang dialami para awak selama menjalani penugasan panjang.
Baca Juga
Para tentara diketahui telah menjalani tugas selama 263 hari di kapal induk USS Abraham Lincoln. Durasi penugasan yang panjang dengan waktu istirahat terbatas diduga membuat sebagian awak mengalami stres dan kelelahan.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Kondisi kerja yang berat serta minimnya waktu untuk beristirahat menjadi sorotan dalam situasi yang dialami para kru kapal. Keluarga awak mengungkapkan bahwa sebagian personel harus menjalani shift kerja panjang dan jarang memperoleh hari libur selama berada di kapal.
Baca Juga
Dikutip dari MS Snow, para kru USS Abraham Lincoln disebut hanya mendapatkan dua hari libur sejak kapal tersebut meninggalkan pelabuhan asalnya di San Diego pada November.
Baca Juga
Minimnya waktu istirahat tersebut menjadi salah satu kondisi yang disebut memperberat tekanan yang dirasakan para awak. Mereka harus tetap menjalankan tugas di tengah penugasan yang berlangsung selama berbulan-bulan.
Lamanya berada di kapal membuat para awak menjalani rutinitas kerja dalam ruang yang terbatas. Kondisi tersebut disebut turut memengaruhi tingkat stres dan kelelahan yang dialami sebagian personel.
Tekanan pekerjaan juga tidak hanya berasal dari durasi penugasan. Kondisi lingkungan di atas kapal induk yang padat dan bising serta memiliki risiko kecelakaan tinggi turut menjadi tantangan bagi para awak.
Selain persoalan jam kerja dan waktu istirahat, keluarga para awak juga menyoroti berbagai kondisi fasilitas serta kebutuhan sehari-hari di USS Abraham Lincoln.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Sejumlah keluarga mengeluhkan kondisi kamar mandi yang disebut berjamur. Keterbatasan makanan serta antrean panjang di toko kapal juga menjadi persoalan yang disampaikan.
Bahkan, sejumlah kebutuhan dasar seperti pasta gigi, sabun, dan deodoran disebut kerap tidak tersedia. Situasi tersebut dinilai semakin menambah tekanan yang harus dihadapi para awak selama menjalani penugasan panjang.
Halaman Selanjutnya
Pada April, keluarga para awak juga membagikan foto yang menunjukkan porsi makanan di kapal. Mereka menilai jumlah makanan yang diberikan sangat sedikit dan tidak layak.