15 Jurnalis Menjadi Pemain Teater Fragmen Musikal Payung Fantasi

calendar_today 18.10.2026 - person  - timer ~

Liputan6.com, Jakarta - Selama ini, jurnalis terbiasa berada di balik layar sebuah pertunjukan. Datang sebagai penonton, mencatat setiap detail, mewawancarai para pelaku seni, lalu merangkainya menjadi cerita untuk pembaca. Namun, bagaimana jika kali ini justru mereka yang harus berdiri di atas panggung dan menjadi bagian dari cerita tersebut?

Pengalaman tidak biasa itu hadir melalui Musikal Jurnalis, program yang digelar Galeri Indonesia Kaya dalam rangka merayakan perjalanan ke-13 tahun. Untuk pertama kalinya, 15 jurnalis dari 15 media berbeda mendapat kesempatan untuk meninggalkan sejenak meja redaksi dan menjajal dunia teater musikal secara langsung.

Melalui Fragmen Musikal Payung Fantasi, para jurnalis tidak hanya belajar menjadi pemain, tetapi juga diajak mengenal lebih dekat perjalanan hidup serta karya komponis legendaris Indonesia, Ismail Marzuki. Pertunjukan berdurasi sekitar 60 menit tersebut mengadaptasi kisah dari Serial Musikal Payung Fantasi di kanal YouTube Indonesia Kaya, mulai dari kecintaan Ismail Marzuki terhadap musik, perjalanan bersama Orkes Lief Java, kisah cintanya dengan Eulis, hingga perjuangannya menyuarakan semangat kemerdekaan melalui lagu.

Ketika Jurnalis Belajar Menjadi Performer

Dari Balik Layar ke Atas Panggung, Ketika 15 Jurnalis Menjadi Pemain Teater Fragmen Musikal Payung Fantasi

Perbesar

Sebanyak 15 jurnalis dari 15 media di Indonesia membawakan teater musikal tentang perjuangan Ismail Marzuki (dok. Indonesia Kaya)

Berada di atas panggung tentu menghadirkan tantangan berbeda dari pekerjaan jurnalistik sehari-hari. Jika biasanya kemampuan menyampaikan cerita dituangkan melalui tulisan, kali ini cerita harus disampaikan lewat dialog, vokal, ekspresi, gestur, dan gerakan.

Selama 12 kali pertemuan latihan, para jurnalis menjalani proses yang cukup intensif. Mereka belajar mengeksplorasi karakter, mengolah vokal, memahami koreografi, sekaligus membangun chemistry sebagai sebuah kelompok pertunjukan.

Proses tersebut didampingi oleh Pasha Prakasa, penampil, koreografer, sekaligus sutradara yang sebelumnya terlibat dalam Serial Musikal Payung Fantasi sebagai Sutradara Teater. Bersama Penata Vokal Dani Dumadi dan Pianis Hazim Suhadi, para peserta diajak memahami bahwa sebuah pertunjukan musikal tidak hanya membutuhkan kemampuan individu, tetapi juga kedisiplinan dan kerja sama.

Bagi Pasha, proses mendampingi para jurnalis menjadi pengalaman tersendiri. Meski waktu latihan cukup singkat, ia melihat bagaimana para peserta berani mencoba sesuatu yang berada di luar keseharian mereka.

“Semangat belajar, keterbukaan untuk mencoba hal baru, dan kerja sama yang ditunjukkan menjadi bagian yang sangat menyenangkan dari proses ini,” ujar Pasha Prakasa.

Dari Editor Fimela Menjadi Mpok Royani

Dari Balik Layar ke Atas Panggung, Ketika 15 Jurnalis Menjadi Pemain Teater Musikal

Perbesar

Sebanyak 15 jurnalis dari 15 media di Indonesia membawakan teater musikal tentang perjuangan Ismail Marzuki (dok. Indonesia Kaya)

Salah satu cerita menarik datang dari Ariesta Dian, editor Fimela.com, yang mendapat kesempatan memerankan Mpok Royani, sosok perempuan Betawi yang hadir dalam kehidupan Ismail Marzuki.

Sebagai seorang editor, Dian sehari-hari terbiasa bekerja dengan kata-kata dan berada di balik layar. Namun dalam musikal ini, ia harus menghidupkan karakter melalui ekspresi, intonasi, gerakan, sekaligus interaksi dengan pemain lainnya. Dengan gaya centil khas Mpok Betawi, Dian bersama Putri dan Aulia mengantar cerita Ismail Marzuki yang memiliki kecintaan terhadap dunia musik sejak kecil.

Memerankan Mpok Royani pun membuatnya harus melihat cerita Ismail Marzuki dari perspektif yang berbeda. Bukan lagi sekadar mengenal sang komponis melalui fakta dan karya-karyanya, tetapi memahami suasana kehidupan serta karakter-karakter yang berada di sekelilingnya.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu gambaran bagaimana Musikal Jurnalis memberikan ruang bagi para peserta untuk benar-benar keluar dari zona nyaman. Para jurnalis tidak hanya belajar mengenai seni pertunjukan, tetapi juga menemukan sisi kreatif dari diri mereka yang mungkin selama ini belum pernah dieksplorasi.

Menyampaikan Kembali Warisan Ismail Marzuki

Dari Balik Layar ke Atas Panggung, Ketika 15 Jurnalis Menjadi Pemain Teater Musikal

Perbesar

Sebanyak 15 jurnalis dari 15 media di Indonesia membawakan teater musikal tentang perjuangan Ismail Marzuki (dok. Indonesia Kaya)

Menariknya, pengalaman para jurnalis di atas panggung juga menjadi medium untuk memperkenalkan kembali karya Ismail Marzuki kepada penonton lintas generasi.

Dalam pertunjukan tersebut, lima lagu karya sang komponis dihadirkan, yaitu Payung Fantasi, Pasar Gambir, Dari Mana Datangnya Asmara, Halo-Halo Bandung, dan Indonesia Pusaka. Pertunjukan juga menampilkan lagu orisinal dari Serial Musikal Payung Fantasi, Matahari Terbit karya Ivan Tangkulung.

Perpaduan dialog, musik, dan gerak membuat kisah Ismail Marzuki terasa lebih dekat. Lagu-lagu yang telah melewati berbagai generasi tidak hanya hadir sebagai musik, tetapi menjadi bagian dari narasi tentang kehidupan, cinta, kreativitas, dan semangat kebangsaan.

Ketika Pengalaman Meliput Berubah Menjadi Pengalaman Berkesenian

Dari Balik Layar ke Atas Panggung, Ketika 15 Jurnalis Menjadi Pemain Teater Musikal

Perbesar

Sebanyak 15 jurnalis dari 15 media di Indonesia membawakan teater musikal tentang perjuangan Ismail Marzuki (dok. Indonesia Kaya)

Musikal Jurnalis pada akhirnya menghadirkan sebuah pertukaran peran yang menarik. Para jurnalis yang biasanya bertugas mengamati dan menceritakan karya seni kini mendapatkan kesempatan untuk merasakan langsung proses di baliknya.

Ada rasa gugup sebelum naik panggung, proses menghafalkan dialog, latihan berulang kali, hingga momen ketika seluruh elemen akhirnya bertemu dalam sebuah pertunjukan. Pengalaman tersebut memberikan perspektif baru bahwa di balik sebuah pementasan yang terlihat singkat di hadapan penonton, terdapat proses panjang yang membutuhkan kerja sama banyak orang.

Bagi Galeri Indonesia Kaya, pengalaman ini sekaligus menjadi bagian dari upaya membuka akses yang lebih luas terhadap seni dan budaya Indonesia. Para jurnalis yang terlibat diharapkan tidak hanya membawa pulang pengalaman tampil, tetapi juga pemahaman yang lebih dekat mengenai proses kreatif dan pentingnya menjaga keberlanjutan seni pertunjukan.

Melalui Fragmen Musikal Payung Fantasi, panggung akhirnya menjadi ruang pertemuan yang unik: antara profesi jurnalistik dan seni pertunjukan, antara generasi masa kini dan warisan Ismail Marzuki, serta antara mereka yang selama ini menceritakan sebuah pertunjukan dan untuk pertama kalinya ikut menjadi bagian dari cerita tersebut.

Sebab terkadang, cara terbaik untuk memahami sebuah karya bukan hanya dengan melihat atau menuliskannya, tetapi dengan mengalaminya sendiri.